
Satu jam kemudian…
Langit sudah menampakkan cahaya kuning kemerah-merahannya, pertanda tak lama lagi petang akan tiba. Di depan sebuah ruangan, terlihat Hima yang sedang menangis sambil menceritakan kejadian sebelum tiba di rumah sakit. Ia merasa ketakutan sendiri.
“Hima, sudahlah.” Ryuuto berusaha menenangkan Hima yang masih saja menangis.
Ryuuto datang segera setelah menerima telepon dari Hima. Pria itu juga masih mengenakan pakaian kerjanya. Dan kini ia mencoba menenangkan Hima dari kejadian yang baru saja dialami.
“Ryuuto, Shena menyembunyikan hal ini dariku. Aku tidak tahu jika penyakit yang dideritanya sudah separah ini. Aku kesal kepadanya. Kenapa dia mau mengorbankan diri untuk Nara? Seharusnya dia tidak perlu mengalami kesakitan seperti ini.”
Hima menyesali tindakan Shena yang mengorbankan dirinya untuk melindungi Nara. Ia tidak tega melihat Shena kesakitan dan mengalami penyakit semacam ini. Dadanya terasa sesak sekali.
“Hima, ini sudah menjadi pilihan hidupnya. Kau harus merelakan keputusannya.” Ryuuto memegang pundak Hima, mencoba menenangkan.
“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Ryuuto?! Apa?!” Hima berteriak kesal.
“Hima, sudah. Sekarang minumlah terlebih dahulu.” Ryuuto memberikan sebotol air mineral yang dibawanya kepada Hima.
Hima pun meneguk air mineral itu. Dan tak lama, dokter yang menangani Shena keluar dari ruang tindakan.
__ADS_1
“Keluarga nona Shena?” panggil dokter itu.
“Ya, saya.” Hima dan Ryuuto menjawab bersamaan.
“Boleh saya meminta salah satunya untuk ke ruangan?” Dokter itu meminta.
“Hima, aku saja.” Ryuuto menawarkan diri.
“Dok, bolehkah saya masuk?” tanya Hima ke dokter.
“Mohon maaf, Nona. Untuk sementara ruangan disterilkan. Nona bisa masuk dua jam lagi. Harap menunggu.” Dokter itu menuturkan.
Hima pun tertunduk sedih.
“Hima, tetaplah di sini. Tunggu Shena, ya.” Ryuuto berpesan.
Hima pun mau tak mau menuruti permintaan Ryuuto. Ia kembali duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan. Sedang Ryuuto ikut bersama dokter ke ruangannya.
Beberapa menit kemudian…
__ADS_1
Sesampainya di ruang dokter, Ryuuto segera dijelaskan perihal penyakit yang diderita Shena. Pihak rumah sakit pun tidak dapat melakukan banyak hal selain sebatas meringankannya saja. Dan kini sang dokter menunjukkan pembekuan darah yang sudah menjalar ke sebagian otak Shena.
“Tuan, kami sudah melakukan yang terbaik. Tapi kami tidak mampu untuk melakukan tindakan selanjutnya karena kondisi tubuh nona Shena yang lemah. Tekanan darahnya menurun drastis, detak jantungnya pun melambat. Kami khawatir jika dilakukan operasi malah akan membahayakan nyawanya.” Sang dokter memaparkan.
“Lalu bagaimana sebaiknya, Dok?” tanya Ryuuto, ia amat berharap menemukan jalan keluar.
“Umur memang sudah dituliskan. Kita hanya bisa berharap terjadi keajaiban kepada nona Shena. Ia kini sudah berada di stadium akhir. Menurut medis, kecil kemungkinan ia akan bertahan hidup lama," kata dokter itu kembali.
“Apa?!!”
Ryuuto terkejut seketika. Ia tidak menyangka akan mendengar pemaparan yang seperti ini dari sang dokter.
"Nona Shena kini dalam posisi delta. Ia tidur amat dalam dan bisa juga dibilang seperti koma," tutur dokter itu lagi.
"Astaga." Ryuuto tampak putus asa, ia mengusap rambutnya seperti orang depresi.
“Berdoalah, Tuan. Semoga Tuhan menurunkan keajaiban untuk nona Shena. Apapun yang terjadi ke depannya, itu adalah yang terbaik untuknya. Tuan harus merelakan,” pesan sang dokter.
Sebagai seorang pria, tentunya Ryuuto tidak akan menunjukkan kesedihannya di depan orang lain. Tapi kali ini, ia tidak dapat membendung air matanya lagi. Air matanya jatuh membasahi pipi saat mendengar vonis medis tentang keadaan Shena. Ia seperti kehilangan arah.
__ADS_1
Shena … kenapa harus seperti ini?
Ia menyesali apa yang terjadi pada Shena. Tapi ia juga menyadari jika semua ini adalah pilihan Shena sendiri. Ia tidak bisa menyalahkan Shena, terlebih Shena sedang sakit parah saat ini. Yang ia bisa lakukan hanya memanjatkan doa agar Shena bisa lekas pulih dari sakitnya. Dan hari ini menjadi saksi atas air mata yang jatuh karena seorang gadis yang dicintainya. Ryuuto mencintai Shena.