Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Puing Kebahagiaan


__ADS_3

Balon-balon berterbangan dari langit-langit panggung, diikuti kertas-kertas kecil yang berwarna-warni, ikut menghujani panggung selebrasi. Mereka terus disorot kamera TV Tokyo sampai lagu Haruka Kanata selesai diputarkan.


Dari depan panggung, terlihat Shena yang menangis haru karena keberhasilan D’Justice saat ini. Bagaimanapun Shena turut berbahagia atas apa yang telah berhasil diraih Nara, sang mantan.


Beberapa menit setelah pentas usai, Nara dan kawan-kawan memasuki sebuah ruangan khusus yang berisikan awak media. Ruangan telah dipersiapkan agar awak media dapat mewawancarai dengan tertib.


Selama wawancara berlangsung, Kazuo beserta para pasukan bergegas menuju ruangan tersebut. Begitupun dengan Shena yang ingin langsung mengucapkan selamat kepada sang mantan. Namun, status hubungannya saat ini menjadi jarak dan penyebab mengapa ia tidak dapat bersama Hima. Hima yang notabene merupakan kekasih Sai, dapat mengikuti ke mana langkah sang kekasih pergi. Tidak seperti dirinya yang harus menunggu.


Shena berlari menuju ruang wawancara itu. Saat ia hampir tiba, ia melihat Nara bersama Sai, Cherry dan Ken, baru saja keluar dari dalam ruangan. Shena pun terus mendekat. Tetapi langkah kakinya terhenti saat Kazuo bersama pasukan segera mengerubungi personil band D'Justice.


"Selamat, Nara. Kami tunggu makan-makannya!" Kazuo menyambut Nara dan yang lain saat keluar dari dalam ruangan.


"Bagaimana jika bonus makan gratis itu kita habiskan saja, setuju?!" tanya Kazuo kepada pasukannya.


"SETUJU!!!" jawab para pendukung D'Justice.

__ADS_1


"Ya, ya, ya. Tenang saja," sahut Nara yang tertawa. Diikuti Ken, Sai dan juga Cherry.


Shena hanya dapat memandangi Nara dari kejauhan. Linangan air mata kebahagiaan terlihat terjatuh membasahi pipinya. Ia turut berbahagia atas pencapaian Nara.


"Selamat ya, Nara," ucapnya pelan sambil terus memandangi Nara di antara teman-teman kampus yang mengerubunginya.


Shena tertunduk sedih karena tidak dapat mengucapkan selamat secara langsung. Ia kemudian berniat meninggalkan Nara.


"Kau ingin mendapatkan tanda tangannya, ya?" tanya seseorang dari belakang Shena. Namun, Shena masih tidak menggubrisnya.


Shena tersadar jika ada seseorang yang tengah berbicara kepadanya. Ia kemudian membalikkan badan ke asal suara.


"Ka-kau …?!"


Shena terkejut kala melihat seorang pemuda tengah berdiri sambil tersenyum mengantarkan keceriaan. Pemuda itu kemudian mengusap dahi Shena yang berkeringat dengan tangannya. Dan tanpa Shena sadari, secara tidak sengaja Nara melihat hal itu. Terlihat jelas di kedua bola mata birunya.

__ADS_1


"Ayo pulang, Shena."


Pemuda itu kemudian menggenggam erat tangan Shena. Mereka kemudian melangkahkan kaki sambil berpegangan tangan.


Shena ....


Nara lalu berusaha keluar dari lingkaran teman-temannya untuk mengejar Shena, tapi tak bisa. Teman-temannya terlalu banyak mengerubungi.


Shena, kau datang untukku? tanyanya dalam hati, karena tidak mampu menemui sang mantan yang terus berlalu dari penglihatannya.


Ada rasa sakit saat melihat dahi Shena diusap pria lain. Tapi Nara mencoba mengerti bahwa rasa sakit itu belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa sakit yang dulu Shena rasakan.


Tunggu aku, Shena ..., ucapnya sambil terus memandangi kepergian sang mantan.


Tak dapat Nara pungkiri jika kini hatinya telah menyadari, siapa sebenarnya gadis yang benar-benar mencintainya. Ia lalu bertekad untuk segera menemui mantannya dan mengajak balikan. Cerita lama akhirnya bersemi kembali. Dan Nara berharap Shena tidak akan menolaknya.

__ADS_1


__ADS_2