
Lima belas menit kemudian...
"Baiklah, Kawan. Kita akan segera beraksi. Tetap pada posisi masing-masing. Permainan ini akan segera dimulai." Sai memberi aba-aba kepada Nara dan Ken.
Terdengar sedikit gila jika seorang Sai memberikan sebuah rencana untuk menyelamatkan kekasih temannya. Padahal ia dulunya adalah seorang penyendiri. Tapi, semuanya berubah saat kehangatan kebersamaan itu dirasakan olehnya.
Resiko akan kegagalan rencana ini sangat berbahaya bagi ketiganya. Namun, jiwa muda yang bergelora membuat mereka nekat melakukan sesuatu di luar batasan. Tetapi sesungguhnya, modal nekat saja itu tidak cukup, Kawan...
Pukul 01.40 dini hari...
Nara, Sai dan juga Ken tiba di lokasi yang ditunjukkan oleh chip pemberian Taka dan Nidji. Tapi sayang, saat mereka tiba di lokasi, mereka hanya menemukan sebuah lapangan basket yang tertutupi pagar besi.
"Apa maksudnya ini?" Nara bingung saat melihat keadaan sekitar yang sepi, tidak ada sesuatu apapun di sana.
Ken sendiri terlihat melakukan sesuatu di ponselnya. Entah apa yang ia lakukan, tapi sepertinya ia sedang mengetik-ngetik sesuatu.
Lain dengan Sai...
"Hei, Kawan! Kemarilah!" Sai meminta Nara dan Ken untuk mendekat.
__ADS_1
"Coba lihat ini! Di pintu masuk aku temukan selembar kertas ini." Sai menunjukkan sesuatu kepada Nara dan juga Ken.
"Ini kan ...?!" Nara seperti mengenal lokasi tersebut.
"Ternyata benar dugaanku. Ayo cepat! Kita berangkat!"
Sai berseru kepada teman-temannya untuk segera masuk ke dalam mobil. Mobil yang dikendarai Ken itupun melaju. Tak lama, selang beberapa menit sebuah bom panci meledak di area mereka tadi berada.
"Sial!" Nara kaget bukan main saat mendengar bom tersebut. Ia menoleh ke belakang dengan tatapan kesal.
"Kalian lihat tadi? Kita harus berhati-hati." Sai mengingatkan.
Aku harap ini terakhir kalinya. Jangan sampai kesabaranku juga ikut habis.
Ken menyimpan kekesalan terhadap ulah Yudo yang ingin mencelakai temannya, Nara.
Tokyo, 02.05 am...
Mereka tiba di lokasi yang dituju, sebuah nada pesan kemudian berbunyi di ponsel Nara.
__ADS_1
/DATANGLAH SENDIRI, JANGAN AJAK TEMANMU./
Begitulah bunyi pesan tersebut. Membuat Ken dan Sai mengkhawatirkan keadaan Nara.
"Nara." Ken menepuk bahu Nara.
"Ken, tidak apa. Aku sendiri yang akan masuk ke dalam sana. Kalian tunggulah di sini," pinta Nara lalu bergegas keluar dari mobil.
"Tapi, Nara!" Ken begitu khawatir.
"Tenanglah." Nara berusaha meyakinkan temannya.
Nara lalu keluar dari dalam mobil, ia berjalan masuk ke dalam sebuah gudang tua yang sudah tidak terpakai lagi. Begitu gelap, hampir tidak ada pencahayaan di sana.
"Ken, kau tenanglah. Aku sudah mengaktifkan ini." Sai memperlihatkan sebuah gambar di layar ponselnya yang terhubung dengan ponsel Nara.
"Sai, tunggulah di sini sampai bala bantuan datang. Aku tidak dapat berdiam diri dan meninggalkan Nara begitu saja. Tolong jangan beri tahu siapapun, termasuk Cherry." Ken berpesan lalu segera memakai jaket hitamnya.
"Ken!"
__ADS_1
Sai memanggil Ken. Entah mengapa ia merasa akan terjadi pertarungan hebat di dalam sana. Ken sendiri terus berjalan, tidak menggubris panggilan Sai. Ia kemudian ikut masuk ke dalam gedung tua, tempat di mana lokasi ditujukan untuk temannya.