
Pukul 9.45 malam waktu setempat…
"Aku akan menunggumu, Shena. Aku akan menunggu," ucap pemuda bermata biru saat sudah berada di samping gerbang kantor Shena.
Tak lama menunggu, sekitar pukul 9.50 malam, sosok yang diintainya sudah keluar bersama seorang gadis berkepang dua. Mereka tampak pulang bersama menuju tempat pemberhentian bus. Nara pun mengikuti keduanya. Ternyata sosok gadis berkepang dua itu turun terlebih dahulu dari dalam bus.
Nara masih berpura-pura membaca koran saat duduk di kursi belakang bus, beda tiga kursi dari kursi yang Shena duduki. Tak lama, bus itu berhenti dan Shena pun turun. Tentu saja Nara ikut turun. Ia kemudian berjalan di belakang Shena dengan jarak pandang sekitar lima meter, mengikuti ke mana langkah kaki sang mantan menuju.
Tak lama, mereka akhirnya tiba di depan sebuah rumah kecil yang ada di dekat kampus. Dan Nara tahu benar kampus apa itu.
Shena membuka pintu rumahnya dan segera saja Nara berlari mendekati Shena. Meraih pundak kanan sang gadis lalu memegangnya.
"Shena," sapa Nara dengan jantung yang berdebar kencang.
__ADS_1
Gadis itu lalu menoleh ke belakang, mencari asal suara. Dan kemudian terlihatlah sebuah pemandangan yang mengejutkan.
"Na-ra?!" Gadis itu tidak menyangka jika saat ini ia berhadapan dengan Nara, mantan kekasihnya.
"Shena, aku ...."
Nara tiba-tiba menjadi gugup saat melihat kerlipan mata Shena yang pernah ia miliki dahulu. Kerlipan mata yang begitu ia rindukan.
"Nara, bagaimana kau bisa—“ Shena tampak tak percaya jika Nara benar-benar berada di hadapannya.
Tiba-tiba hujan turun membasahi bumi. Rintik-rintik yang semakin deras membuat Nara terkena air hujan. Melihat hal itu, Shena mau tidak mau mempersilakan Nara masuk ke dalam rumah kecilnya.
"Nara, aku tidak tahu ini benar atau salah. Tapi hujan semakin deras dan rumah ini tidak mempunyai atap teras yang cukup lebar. Jadi, masuklah."
__ADS_1
Shena ragu akan ucapannya. Tapi sebagai manusia, pintu hatinya terketuk untuk menolong sesama. Terlebih Nara adalah seorang pria yang dahulu pernah bersamanya.
Nara kemudian masuk ke dalam rumah Shena yang kecil lalu segera duduk di dekat pintu. Sementara Shena meletakkan tasnya di atas lemari buku lalu menghidupkan dispenser, berniat membuatkan secangkir teh hangat untuk Nara.
"Shena, maaf. Kalau aku tiba-tiba muncul di hadapanmu." Nara khawatir jika Shena akan memarahinya.
Shena terdiam, ia hanya meneruskan membuatkan teh untuk Nara tanpa menyahuti perkataaan sang pemuda bermata biru ini. "Ini, minumlah."
Tak lama, Shena menghidangkan secangkir teh hangat kepada Nara. Dan dengan segera Nara meminum teh yang dihidangkan oleh mantannya itu. Teh yang tidak terlalu panas tapi terasa hangat di tenggorokan.
Melihat tingkah Nara yang segera meminum teh darinya, Shena akhirnya menyadari sesuatu. "Sepertinya kau juga belum makan ya, Nara?" tanya Shena yang duduk di depannya.
Nara terdiam. Ia ingin menanyakan bagaimana Shena bisa tahu. Tapi, ia sendiri juga sudah tahu akan jawabannya. Ya, bagaimanapun Shena pernah mengisi hari-harinya hampir dua tahun lamanya.
__ADS_1
"He-em."
Nara mengangguk, dan segera saja Shena menuju meja kecil tempat di mana penanak nasi diletakkan. Ia menyiapkan dua piring nasi dan juga mengeluarkan lauk dari dalam kotak makan. Ia kemudian menghidangkannya untuk Nara, mantan kekasihnya.