
“Kau sudah datang, Tuan?” Hima membukakan pintu.
“Tuan? Biasa saja padaku.” Pemuda berkemeja hijau itu terkekeh sendiri.
“Kau kan akan menjadi bosku. Jadi aku harus memanggilmu dengan sebutan tuan.” Hima menjelaskan.
“Begitu, ya? Tapi boleh juga.” Keduanya lalu tertawa bersama.
Ryuuto masuk ke dalam rumah lalu duduk di ruang tamu. Ia menunggu Shena keluar dari kamarnya. Sedang Hima segera mengambil tasnya untuk pergi bekerja. Ryuuto akan ke kantor terlebih dahulu sebelum mengajak Shena berjalan-jalan.
Satu jam kemudian…
Sesampainya di kantor redaksi majalah remaja Tokyo, Shena bersama Hima masuk ke dalam ruang kerja untuk bernostalgia sebentar. Sedang Ryuuto merapikan pekerjaannya agar nanti bisa cepat diselesaikan. Shena pun duduk di depan meja kerjanya yang dulu. Dan betapa terkejutnya saat ia melihat bunga mawar yang Ryuuto beri dulu masih hidup sampai sekarang.
“Hima?” Shena melirik ke arah Hima yang menghidupkan komputernya.
“Hahaha, kau pasti heran melihatnya, ya?” Hima menyadari mengapa Shena terkejut.
“Hima, bagaimana bisa bunga ini masih hidup?” Shena merasa heran.
“Ryuuto memintaku merawat bunga itu dan membiarkan tetap ada di sini,” jawab Hima lalu mulai mengetik di komputernya.
__ADS_1
Ryuuto .…
Seketika hati Shena terenyuh dengan apa yang dikatakan Hima. Ia tidak menyangka jika Ryuuto akan tetap menjaga semuanya.
“Hima.”
“Hm?”
“Aku merasa kasihan kepada diriku sendiri.” Shena mulai duduk di depan Hima.
“Kasihan?” Hima bingung.
“Kau merasa memulainya dari awal?” Hima menghentikan pekerjaannya sejenak.
“He-em. Dan kini aku merasa jika Ryuuto lah yang lebih tulus mencintaiku dibandingkan Nara.” Shena menyadarinya.
Hima terdiam sejenak. Ia mencoba merasakan apa yang Shena rasakan. Hima kemudian memegang tangan Shena.
“Shena, hidup memang pilihan. Dan ada baiknya jika kita tidak menyesali apa yang telah terjadi. Jika kau merasa kehadiran Ryuuto mengganggu hubunganmu, aku akan membicarakan hal ini kepadanya agar kau bisa lebih tenang.” Hima mencoba membantu.
“Tidak, Hima. Aku merasa waktuku juga tidak akan lama. Aku ingin membalas kebaikan Ryuuto padaku.”
__ADS_1
“Shena!”
Hima terkejut bukan main dengan kata-kata yang Shena ucapkan. Jantungnya berdegup kencang saat mendengar kata-kata itu. Ia lalu bangkit dari duduknya.
“Shena, jangan katakan hal semacam itu lagi! Aku tidak menyukainya!” Hima kesal sendiri.
“Hima?” Shena tak menyangka jika Hima akan marah padanya.
“Shena, kau harus tetap hidup. Tidak untuk Nara ataupun Ryuuto, tapi untuk dirimu sendiri!” Hima memegang kedua lengan Shena, menyemangati.
“Hima ….”
“Berjuanglah! Aku yakin Tuhan tidak akan diam jika sudah berusaha sungguh-sungguh. Kau pasti bisa melewati semua ini.” Hima menguatkan.
Bulir-bulir air mata Shena pun menetes setelah mendengar perkataan Hima. Hima juga segera memeluk Shena, ia tidak ingin kehilangan teman terbaiknya. Ya, Hima sudah merasa jika Shena adalah teman terbaiknya.
Kau harus tetap hidup, Shena. Bukan untuk Nara ataupun Ryuuto, tapi untuk dirimu sendiri.
Hima tidak ingin kehilangan Shena. Terlalu banyak kenangan yang tercipta saat bekerja bersamanya. Shena banyak membantu Hima dalam urusan pekerjaan, dan Hima ingin Shena selalu ada untuk mendukungnya.
Hima, terima kasih. Shena pun tersenyum sambil memeluk temannya.
__ADS_1