Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Tak Terduga


__ADS_3

Sementara itu di kantor Sony Music...


Gabril, adik kandung dari Michael ini tampak memohon kepada kakaknya agar diizinkan untuk ikut tur ke enam kota di Jepang. Ia tidak menyerah begitu saja saat Michael berulang kali tidak mengizinkannya, ia terus memaksa.


"Kakak, kau begitu keterlaluan padaku. Apa susahnya memberiku izin untuk ikut tur? Lagipula tur ini tidak memakai uang sakumu!" Gabril berseru dari sofa ruangan Michael.


"Aku tidak ingin kau terlibat sesuatu yang berkaitan dengan pemuda itu." Michael menjelaskan.


"Maksudmu?" Gabril tak mengerti.


"Gabril, Nara sedang dalam pengawasan pihak Sony Music. Ada baiknya jika kau menjaga jarak dengannya." Michael berusaha sabar menghadapi sang adik.


"Aku tidak peduli. Aku hanya ingin ikut tur, membuat vlog-ku sendiri lalu bertemu dengan banyak teman. Itu saja!" Gabril masih bersikeras.


"Hah ...." Michael seolah tidak dapat berkata apa-apa.


"Ya, sudah. Aku mau siap-siap dulu. Perginya besok pagi, bukan?"


Gabril mengambil tasnya lalu beranjak pergi dari ruang kerja sang kakak. Ia tidak peduli jika Michael tidak mengizinkannya. Ia terus saja bersikeras untuk ikut tur bersama D'Justice.

__ADS_1


Anak itu kapan berubahnya? Selalu saja bersikeras dengan keinginannya sendiri. Hah, aku seperti menggantikan peran ayah saat ini.


Michael memijat dahinya. Ia pusing menghadapi tingkah sang adik. Belum lagi pekerjaannya yang menumpuk, membuatnya seperti tidak bisa bernapas. Sedang sang adik terus berjalan menuju parkiran mobilnya. Ia ingin bersiap sebelum mengikuti keberangkatan D'Justice ke luar kota.


Sore harinya...


Nara dan Shena kini sedang duduk di teras atas lantai dua. Keduanya baru saja mengantarkan Hima ke rumah Sai sebelum nanti malamnya berkumpul kembali. Momen ini pun dimanfaatkan oleh Nara untuk berduaan dengan Shena. Tampak Nara yang sedang merebahkan diri di pangkuan Shena. Kepalanya diusap lembut oleh sang kekasih sambil menikmati angin sore yang menyejukkan.


"Shena, aku akan pergi tur selama dua belas hari nanti. Jadwalku amat padat mulai besok. Kau tidak apa-apa kutinggal?" tanya Nara sambil memandangi wajah Shena dari bawah.


"He-em." Shena mengangguk. "Berjuanglah, Nara. Kau pasti bisa meraih impianmu." Shena menguatkan.


Nara tersenyum mendengar penuturan Shena yang mengobarkan api semangatnya. Ia beranjak bangun lalu duduk menghadap Shena.


"He-em." Shena pun mengangguk.


"Bolehkah aku menciummu?" tanya Nara yang sontak membuat jantung Shena berdebar kencang.


Nara ....

__ADS_1


Shena tidak menjawabnya. Ia hanya memejamkan kedua mata, tanda menyetujui apa yang Nara pinta. Sang pemuda pun mulai mendekatkan wajahnya. Ia berusaha meraih bibir ranum itu. Dan akhirnya, Nara mengecup bibir manis Shena.


Jantung keduanya berdetak tak menentu. Nara pun membelai lembut rambut Shena yang panjang. Sedang bibirnya masih menciumi bibir Shena dengan perlahan. Dan entah mengapa getaran kuat menjalar ke sekujur tubuhnya.


Ini seperti baru pertama kalinya.


Nara merasakan jika ciuman ini seperti ciuman pertamanya yang juga bersama Shena. Ciuman pertama yang menggetarkan seluruh sendi tulangnya. Dan kini ia merasakannya kembali. Getaran itu semakin memenuhi seluruh pembuluh darah di tubuhnya.


"Nara ..." Shena kemudian melepaskan ciumannya.


"Shena ...." Nara menatap dalam gadisnya.


"Nara, tubuhku." Shena merasa aneh dengan tubuhnya.


"Kau menikmatinya, Shena?" tanya Nara tanpa segan.


"He-em." Shena pun mengangguk.


Mendapat jawaban seperti itu, Nara kemudian mengangkat tubuh Shena ke dalam kamar. Ia biarkan pintu teras terbuka agar semilir angin sore tetap menemaninya. Ia kemudian merebahkan tubuh Shena di atas kasurnya. Kedua bola mata birunya menatap wajah Shena dengan lembut.

__ADS_1


Aku milikmu, Shena...


Nara mulai mencumbui Shena perlahan, sedang Shena membiarkan Nara melakukannya. Semilir angin sore menemani keduanya menikmati momen indah ini.


__ADS_2