
Esok paginya…
Pukul tujuh pagi Nara dan kawan-kawan sudah bersiap untuk berangkat menuju kantor Sony Music Entertainment Jepang. Dan kini ia sedang berpamitan kepada Shena, sedang teman-temannya yang lain sudah menunggu.
“Shena ….” Ia mulai memegang kedua tangan gadisnya seraya menatap dalam. “Aku akan berangkat. Tunggu kepulanganku, ya?” pintanya penuh harap.
Shena mengangguk. Ia tidak banyak bicara karena masih merasa kesal dengan kejadian kemarin petang. Nara pun menyadarinya. Ia segera memeluk Shena di depan teman-temannya.
“Shena, percayalah. Tidak ada yang lain selain dirimu. Aku benar-benar serius, tidak ingin main-main lagi." Nara bersungguh-sungguh.
“Ya, baiklah.” Shena pun mengusap punggung Nara.
“Cium-cium!” Cherry dan Sai bersorak-sorai.
“Hei! Kalian ini berisik sekali!” Nara pun melepaskan pelukannya.
“Sudahlah, Nara. Tur kita akan lama. Selama hampir dua minggu kau tidak akan bertemu dengan Shena. Belum tentu juga kau bisa menghubunginya karena jadwal yang amat padat. Iya, kan?” Cherry menyudutkan Nara.
Terdengar gelak tawa dari yang lainnya. Hima pun yang berada di samping Shena tampak tersenyum sendiri. Sedang Nara dan Shena tidak dapat menahan rasa malunya. Kedua pipi mereka merona seketika.
__ADS_1
“Kalau begitu kalian masuk dulu ke mobil. Tunggu aku,” kata Nara lagi.
“Hei, kau saja yang masuk ke dalam. Biarkan kami menunggu di sini. Jika terlalu lama menunggu di mobil, kami bisa mati lemas, Nara.” Sai berceloteh lagi, tiada segan.
“Hah, baiklah” Akhirnya Nara menyerah. “Shena, ikut aku sebentar, ya.” Nara mengajak Shena masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di dalam, Nara segera mengajak Shena masuk ke kamar. Ia kunci pintunya lalu mulai menyandarkan Shena di dinding.
“Shena, aku akan kembali. Tunggu aku.” Ia mulai meraih bibir itu.
Ciuman yang Nara berikan pagi ini begitu hangat hingga membuat Shena mengalungkan kedua tangannya di leher Nara. Sang gadis pun membalas ciumannya. Ia ikut mengecup daging lembut milik sang pemuda bermata biru. Namun…
Entah mengapa Nara gelisah saat merasakan sesuatu mulai mengeras di bawah sana. Iapun lekas-lekas menyudahi ciumannya.
“Shena ….”
“Nara?” Sang gadis menatapnya.
“Sudah, ya. Aku khawatir akan semakin lama dan membuat mereka mendobrak pintu ini.” Nara gelisah sendiri.
__ADS_1
Shena pun mengusap bibirnya yang terkena saliva Nara. Ia mengangguk seraya tersenyum lalu memeluk Nara kembali.
“Aku menunggumu, Nara.” Shena akhirnya merelakan keberangkatan Nara.
“Iya, Sayang.” Nara pun membelai lembut rambut Shena yang panjang.
Keduanya kemudian keluar dari kamar dengan malu-malu menampakkan diri di hadapan teman-temannya. Sai pun ingin kembali berceloteh, tapi Ken segera menyumpal mulutnya dengan roti. Sang kapten tidak ingin Nara menjadi bulan-bulanan yang lainnya.
“Baiklah, mari kita berangkat!” Ken meminta yang lain segera masuk ke dalam mobil.
Baik Nara, Sai maupun Cherry segera mematuhi instruksi dari sang kapten. Mereka memasuki mobil yang dikendarai oleh Ken. Nara pun melambaikan tangannya kepada Shena saat sudah berada di mobil. Terlihat Shena yang tersenyum sambil membalas lambaian tangan dari Nara. Mobil yang dikendarai Ken pun keluar dari halaman rumah.
“Sudah jangan sedih. Ada aku.” Hima memeluk Shena dari sisi.
“Terima kasih, Hima. Kau sudah mau menemaniku di rumah.” Shena membalas pelukan Hima.
Tak dapat Shena pungkiri jika ia amat membutuhkan Nara pasca komanya kemarin. Ia ingin selalu bersama Nara di setiap kesibukan D’Justice. Tapi, kondisinya belum memungkinkan untuk ikut berpergian jauh. Apalagi sampai ke luar kota. Shena harus banyak-banyak beristirahat di rumah.
D’Justice sendiri akan menjalani tur ke enam kota di Jepang. Mulai dari Hiroshima, Saitama, Kyoto, Nagoya, Osaka dan Yokohama. Selama dua belas hari ke depan. Tentunya hal ini akan membuat semua personil D’Justice disibukkan dengan jumpa fans dan wawancara mereka.
__ADS_1