
"Nara, makanlah. Kau pasti sangat lapar." Shena memberikan sepiring nasi beserta lauk berupa ikan goreng kepada Nara. "Itu cukup untuk mengganjal perutmu yang kosong," lanjut Shena yang mulai memakan nasinya.
Hati Nara menjadi pilu saat mendengar kata per kata yang Shena ucapkan. Dengan perlahan, ia memakan nasi itu sambil menundukkan wajahnya, merasa sedih dan juga haru atas perlakuan yang Shena berikan kepadanya. Padahal dirinya sudah memutuskan hubungan secara sepihak.
Mengapa, mengapa gadis sebaik Shena aku tinggalkan. Mengapa? bisiknya lirih sambil menahan genangan air mata.
Mereka terdiam sambil terus memakan nasi itu sampai habis. Shena kemudian mengambilkan air putih untuk Nara. Dan Nara pun meminumnya.
"Shena ...."
Hujan yang semakin deras membuat ucapan Nara seperti tidak terdengar. Shena yang sedang membawa piring bekas makan pun berlalu begitu saja dari hadapannya.
"Shena!"
Nara lalu berdiri, berjalan mendekati Shena. Namun, Shena tidak mendengar ucapan Nara karena hujan yang turun begitu deras. Dan akhirnya, Nara melakukan sesuatu agar Shena menyadari panggilannya itu.
"Shena."
__ADS_1
Nara memeluk Shena dari belakang yang membuat gadis itu terhenti dari aktivitasnya. Pelukan itu semakin lama semakin erat, membuat Shena bingung untuk melepaskan atau membiarkannya.
"Shena, maafkan aku ...."
Nara menyandarkan kepalanya di bahu kanan Shena. Ia pun mulai merasakan kehangatan yang selama ini hilang terbawa angin. Hatinya merasa tentram saat memeluk tubuh gadis itu.
"Nara, tolong." Shena berusaha melepaskan pelukan Nara.
"Shena, aku mohon biarkan tubuhku ini terbakar rasa rinduku. Kumohon jangan cegah aku untuk memelukmu," pinta Nara dengan suara yang lirih.
Mendengar hal itu, Shena menjadi tak berdaya. Karena di dalam hatinya, ia pun masih mencintai Nara. Cinta dalam hati yang sudah sangat lama terkubur sejak Nara memutuskan dirinya.
Nara terus mendekap Shena dengan erat, tanpa peduli lagi dengan status dirinya. Dan malam itu pun akhirnya menjadi bukti akan cinta dan hasrat yang menjadi satu.
Esok harinya...
Nara terbangun pada pukul delapan lewat tujuh menit. Padahal hari itu terdapat mata kuliah di jam pertama. Ia lalu bangun dan mencari ke mana gerangan sang mantan yang telah menemaninya tidur semalam. Tapi ternyata, ia tidak menemukannya.
__ADS_1
Ya, mereka telah melakukan hubungan itu lagi. Padahal Shena sudah berusaha menolaknya. Namun, ia tidak mampu melawan keinginan Nara. Sehingga mau tidak mau, ia menyerahkan dirinya kepada mantan kekasihnya itu.
Nara lalu menulis secarik pesan yang ia letakkan di atas meja. Berharap nanti Shena akan membaca pesannya.
Setelah mengenakan pakaian, Nara segera bergegas pulang untuk mandi dan melanjutkan aktivitasnya, pergi ke kampus. Ia tinggalkan rumah kecil itu dengan menutupnya dari luar.
Lain Nara, lain juga dengan Shena. Shena yang sudah berada di kampus, kedapatan sedang menerima mata kuliah dari Yamada, dosennya.
"Shena, ada yang ingin aku bicarakan masalah festival nanti. Kau jangan keluar ruangan dulu." Yamada berpesan kepada Shena.
Shena mengangguk—mengiyakan tanpa ada perasaan curiga sama sekali. Sang gadis yang mengenakan kaus putih dibalut almamater hitamnya, tampak menunggu jam kuliah berakhir sambil terus memikirkan sang mantan.
Nara ....
Tak dapat ia pungkiri jika hatinya masih mengingat kenangan semalam bersama Nara. Shena pun tidak mengerti mengapa bisa sampai pasrah kepada mantannya itu.
Apakah aku harus pindah dari rumah itu? Aku khawatir kesalahpahaman akan terjadi di antara aku dan Rie. Mungkin lebih baik jika aku menghindarinya saja.
__ADS_1
Shena dilema dengan kejadian semalam. Ia lalu memutuskan untuk menghindari Nara agar kesalahpahaman itu tidak terjadi.