Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Kenalan Dengan Camer


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit...


Nara dan Shena bergandengan tangan menuju ruangan tempat Shimura dirawat. Sesampainya di depan pintu, Nara segera mengetuk lalu masuk ke dalam. Ia pun mendapati ibunya sedang mengusap keringat Shimura.


"Ibu."


Dengan tersenyum Nara berjalan mendekati ibunya. Ia juga masih menggandeng tangan Shena.


"Nara?" Sang ibu terkejut dengan gadis yang dibawa putranya.


"Ibu, kenalkan dia Shena. Dia ... tunanganku sekarang." Nara menoleh ke arah Shena.


Shena tersenyum, ia membungkukkan badannya ke Shina. "Selamat pagi, Bibi." Shena menyapa.


"Nara, ibu belum pernah melihatnya." Shina, ibu Nara mencoba mengenali Shena.


"Hahaha. Maaf, Bu. Shena adalah pacarku waktu SMA. Jadi aku belum berani memperkenalkannya karena waktu itu kami belum dewasa." Nara menjelaskan.


"Em, begitu. Mari duduk, Shena." Ibu Nara mempersilakan Shena duduk di kursi tamu.


"Terima kasih, Bibi." Shena kemudian duduk.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan ayah, Bu?" tanya Nara kemudian.


"Ayah masih dalam keadaan koma. Dokter bilang ayah harus dalam penjagaan," kata Shina lagi.


"Jadi Ibu yang merawatnya sendiri?" tanya Nara kembali.


"Tidak, Nara. Keluarga dari ayah juga datang. Kami bergantian menjaga ayah."


Shina masih memanggil Shimura dengan sebutan ayah di depan putranya, padahal Shimura telah mengkhianatinya. Hal itu tentunya disadari oleh Nara. Ia tidak habis pikir dengan kebesaran hati ibunya.


Nara kemudian mendekati Shimura, ia duduk di pinggir pembaringan. Ia melihat ayahnya yang tak berdaya. Seketika ada rasa kasihan melanda hatinya, tapi jika mengingat kejadian lampau ia amat kesal sekali. Sedang Shena masih duduk di kursi tamu dan kini ditemani Shina, ibu Nara.


"Sudah, Bibi. Mungkin sudah tiga tahun lamanya," jawab Shena seraya tersenyum.


"Baiklah. Tapi mungkin akan sedikit menunggu sampai Nara selesai kuliah. Apa kau tidak keberatan?" tanya Shina lagi.


"Ibu!" Nara malu sendiri karena ibunya terus terang tanpa basa-basi.


"Tidak, Bibi. Shena juga masih kuliah. Kebetulan kami satu angkatan. Jadi jika Nara lulus, Shena juga akan ikut lulus." Shena begitu santun menuturkannya kepada Shina.


"Em, baiklah. Aku titip putraku padamu. Selepas ini aku juga akan kembali bekerja dan mungkin akan jarang berkunjung." Shina memberi tahu.

__ADS_1


"Ibu ingin bekerja lagi?" tanya Nara kepada ibunya.


"Ya. Ibu akan bekerja lagi. Tapi mungkin tidak di kota ini," jawab sang ibu.


"Maksud Ibu?"


"Ibu akan mutasi ke kota lain. Kebetulan di sana sudah ada kantor cabang dan ibu diberi kepercayaan untuk membesarkan perusahaan." Shina menjelaskan kepada putranya.


"Berarti ...." Seketika Nara sedih.


Shina lalu berjalan mendekati Nara. Ia tepuk pundak sang putra lalu menyemangatinya.


"Ibu bekerja untuk masa depan kita, Nara. Lagipula ibu tidak bisa berdiam saja. Sudah lama ibu menganggur, rasanya pegal juga jika di rumah." Sang ibu menuturkan.


"Ibu bisa saja." Nara malu sendiri.


"Sekarang sudah ada Shena. Ibu akan tetap mengunjungimu jika ada waktu luang. Besok keluarga ayah akan bergantian berjaga. Jadi kau tidak perlu cemas." Shina menerangkan.


"Baik, Bu." Nara mengerti.


Setelah perkenalan singkat, Shina mengajak Shena dan putranya untuk makan siang bersama. Mereka lalu berbagi cerita tentang keseruan selama menjalani kehidupan ini. Keseriusan Nara untuk mempersunting Shena pun membuat sang ibu merestuinya, dan mempercayakan Nara kepada Shena. Mereka menghabiskan waktu bersama sampai sore hari tiba.

__ADS_1


__ADS_2