
Hari kedua...
"Gabril, aku khawatir kau akan membuat ulah saat mengikuti aktivitas D'Justice. Kau tahu sendiri pihak redaksi sedang meliputnya selama beberapa hari ke depan."
Lusy menjelaskan kepada Gabril yang meminta izin kepadanya untuk mengikuti aktivitas D'Justice. Keduanya tampak berada di dalam ruang kerja Lusy.
"Kak Lusy, tolonglah." Gabril memohon. "Anggap saja ini liburan akhir semesterku. Aku bosan jika harus bertemu dengan bapak tua itu terus!" Gabril memohon kepada Lusy, sifat manjanya tidak dapat hilang walaupun akan segera menginjak masa-masa kuliah.
"Hmm..."
Lusy menyilangkan kedua tangan di dada sambil memikirkan permohonan sang putri bungsu pemilik Sony Music Entertainment Jepang ini. Gabril pun masih menunggu persetujuan dari Lusy.
__ADS_1
"Hah..." Lusy menghela nafasnya. "Baiklah. Tapi kau harus janji jangan berbuat ulah, ya! Dan juga tolong kenakan pakaian yang sopan, ini jam kerja. Jangan mengenakan pakaian yang mini karena dapat merusak citra D'Justice."
Lusy berpesan kepada Gabril dengan nada keibuan. Terlihat raut kegembiraan dari wajah Gabril saat mendapat persetujuan Lusy.
"Oke, Kakakku, mmuach."
Gabril mencium pipi Lusy karena girang bukan main. Ia pun segera meninggalkan ruang kerja Lusy lalu menuju ruangan khusus D'Justice.
"Haah, anak itu ...."
Beberapa menit kemudian...
__ADS_1
Saat itu masih pukul sepuluh pagi, keempat personil D'Justice sedang latihan di studio musik khusus mereka. Tampak Cherry yang mengenakan blus putih lengan panjang, celana pensil hitam dan sepatu kets coklat. Sedang Ken mengenakan kaus putih berlambang bendera Jepang dengan celana jeans serta sepatu sport yang berwarna hitam.
Lain dengan Sai, ia mengenakan kaus oblong dibalut kemeja hitam panjangnya yang dibiarkan terbuka. Jeans dan juga sepatu sport berwarna biru. Sedang Nara, ia hanya memakai kardigan lengan panjang dan celana gunung berwarna cokelat. Kakinya pun terlihat mengenakan sandal gunung biasa. Keempatnya kini tengah mengatur ulang irama lagu mereka.
Di sana ada seorang gadis berkemeja putih yang sedang serius mengetik sesuatu di laptopnya. Dialah Shena yang sedang menuliskan aktivitas D'Justice. Yang mana Rose juga ikut menemani. Setelan seragam bisnis abu-abu membalut tubuh sintal wanita berambut panjang ini, Rose.
Aku tidak tahu apa yang terjadi pada keduanya. Tapi sepertinya ada sesuatu antara Nara dan Shena. Entah apa itu, aku belum dapat memastikannya.
Sejak kejadian semalam, Rose merasakan sesuatu keanehan pada Nara dan juga Shena. Namun, ia belum berani untuk memastikannya. Ia berusaha berpikiran positif dan bersikap seprofesional mungkin dalam pekerjaannya.
Lain Rose, lain juga dengan Shena. Ia tampak menutupi apa yang telah terjadi antara dirinya dan Nara. Dalam diam ia memperhatikan Nara yang sedang berlatih di dalam sebuah ruang kedap suara. Kedua matanya berusaha mencuri pandang saat sang mantan tidak melihat ke arahnya. Tentunya, hal itu juga disadari oleh Nara.
__ADS_1
Shena, aku tahu jika kau masih mencintaiku. Tapi untuk saat ini, aku harus menjaga perasaan Rose. Maafkan aku, Shena.
Nara menutupi perasaan di hatinya. Ia tidak enak hati jika terlalu menunjukkan perasaannya kepada Shena, sang mantan. Karena bagaimanapun antara ia dan Rose telah terjadi sesuatu, yang tak bisa ia pungkiri begitu saja. Dan sebisa mungkin Nara pun menjaga perasaan keduanya.