Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Kekuatan Pikiran


__ADS_3

Sementara itu…


Hima masuk ke dalam ruang kerja Ryuuto untuk menyerahkan pekerjaannya. Namun, sang anak pemilik redaksi sedang tidak berada di tempat.


“Dia ke mana, ya?” Hima bertanya-tanya sendiri. “Bukannya pekerjaan sedang banyak-banyaknya? Ah, tapi biarlah. Mungkin dia sedang ada urusan lain.”


Hima pun meletakkan hasil pekerjaannya di atas meja Ryuuto. Ia meninggalkan ruangan sang anak pemilik redaksi lalu kembali menuju ruangannya. Hari ini ia harus cepat menyelesaikan pekerjaan agar bisa kembali ke rumah lebih awal.


Lain Hima, lain juga dengan Hana. Sepupu Shena ini tampak gelisah karena Ryuuto tidak kunjung membalas pesannya. Biasanya menjelang siang Ryuuto akan mengirimkannya pesan. Tapi, sampai saat ini ia belum juga menerima pesan dari Ryuuto.


“Astaga. Kenapa aku menuntutnya sekarang? Dia juga pasti sedang banyak pekerjaan. Kenapa aku harus gelisah?” Hana kesal kepada dirinya sendiri.


“Mungkin kutinggalkan saja pesan untuknya. Semoga dia senggang dan bisa membalas pesan dariku.”


Hana yang sedang duduk di meja kasir kedai pun mulai mengetik pesan untuk Ryuuto. Ia berharap Ryuuto akan segera membalasnya. Harapannya begitu besar kepada seorang pria yang sudah sejak SMA menarik hatinya. Ia pun kembali bekerja setelah mengirimkan pesan kepada Ryuuto.


Dua jam kemudian…


Shena perlahan-lahan tersadar. Ia pun membuka matanya. “Ryuuto …?”

__ADS_1


Samar-samar ia melihat Ryuuto di sisinya. Suaranya begitu lemas, hampir saja tidak terdengar. Ryuuto pun segera mendekatkan diri agar bisa lebih jelas mendengar apa yang Shena katakan.


“Shena, kau sudah sadar?” Ryuuto tersenyum.


“Ryuuto, kenapa kau ada di sini?” tanya Shena dengan suara yang lemah.


“Aku menemukanmu tergeletak di dapur rumah. Kau baik-baik saja, Shena? Apa yang kau rasakan sekarang?" tanya Ryuuto lagi.


“Aku … agh!” Shena memegangi kepalanya.


“Shena, kau tak apa?”


Kepalaku sakit sekali. Sebenarnya apa yang terjadi padaku?


Tak lama, dokter pun datang lalu segera memeriksa keadaan Shena. Ia memberikan obat pereda sakit di cairan infus Shena. Alhasil, Shena mulai kembali ke sediakala. Tidak merasakan sakit lagi.


“Shena, bagaimana keadaanmu sekarang?” Ryuuto bertanya penuh harap.


“Aku … seperti orang linglung, Ryuuto.” Shena merasa penglihatannya berputar.

__ADS_1


“Nona Shena, ada baiknya jika nona beristirahat dan jangan berpikiran macam-macam. Pikiran negatif akan semakin memperberat rasa sakit yang Nona derita. Berpikirlah yang positif dan yakin jika Nona baik-baik saja, maka tubuh akan mengikutinya.”


Sebuah pesan yang diberikan dokter jaga menjadi sesuatu yang luar biasa bagi Shena. Yang mana sang dokter memaparkan jika pikiran positif amat berperan penting dalam sistem kehidupan manusia. Sang dokter seperti paham benar bagaimana cara kerja pikiran bawah sadar seseorang.


“Dok, apa yang harus kami lakukan agar proses pemulihan Shena bisa lebih cepat?” tanya Ryuuto kepada dokter jaga.


“Saya rasa hanya dengan merasa bahagia semua penyakit bisa terobati, termasuk penyakit hati." Dokter itu menjawabnya.


"Em, mungkin memang benar begitu, Dok." Ryuuto tertegun mendengarnya.


"Tuan Ryuuto, setelah saya mendengar dari Dokter Tan perihal sakit nona Shena, saya rasa Anda bisa membantu nona Shena lebih cepat pulih dari sakitnya.”


“Maksud dokter?” Ryuuto tidak mengerti.


“Mungkin kita bisa berbicara di luar. Untuk saat ini biarkan nona Shena beristirahat di dalam,” tutur sang dokter lagi.


“Tapi, dia tidak ada yang menjaganya jika saya ke luar ruangan, Dok.” Ryuuto mencemaskan Shena.


“Anda tidak perlu khawatir. Saya akan meminta suster untuk menjaganya. Mari.” Sang dokter mengajak Ryuuto keluar ruangan.

__ADS_1


Ryuuto akhirnya berpamitan kepada Shena. Dan tak lama seorang perawat datang setelah sang dokter meneleponnya. Ryuuto pun memercayakan Shena kepada perawat itu. Sedang dirinya bersama sang dokter keluar dari ruangan.


__ADS_2