Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Bahagia Bersamamu


__ADS_3

Lusa kemudian...


Hari ini adalah hari libur bagi D'Justice. Tampak rumah Nara yang sepi karena personil D'Justice sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Sehingga di rumah hanya ada Nara seorang. Rencana hari ini Nara akan mengajak Shena bertemu dengan ibunya.


Nara sedang berdandan setampan mungkin. Tak lupa parfum khasnya ia semprotkan ke sekujur tubuh agar lebih percaya diri. Anggaplah jika hari ini adalah hari pertamanya berkencan dengan tunangan. Ya, siapa lagi kalau bukan Shena seorang.


Shena kini tinggal di kedainya bersama Hana, sepupunya. Rencana ia akan mengambil semester cepat untuk menyelesaikan mata kuliahnya. Tapi hal itu baru sebatas rencana pasca komanya kemarin. Sampai saat ini ia masih mengambil cuti panjang di kampusnya.


"Shena, ini sarapan untukmu." Hana menyajikan sarapan untuk Shena.


Tunangan Nara ini tengah duduk di teras belakang kedai. Ia memandangi deburan ombak pantai yang berkejaran. Tampak dirinya tersenyum kepada sang sepupu, Hana.


"Terima kasih, Hana." Shena tersenyum.


"Kau jangan banyak pikiran dulu, ya. Percayakan kedai ini padaku. Sekarang pikirkan yang senang-senang saja." Hana menguatkan.


"Terima kasih, Hana. Kau telah banyak membantuku."


"Sst. Sudah. Jangan diteruskan lagi. Sekarang santap sarapan pagimu, aku akan bersiap-siap membuka kedai." Hana beranjak pergi.


"He-em."

__ADS_1


Shena pun mengangguk, ia kemudian menyantap sarapan paginya di teras belakang kedai sambil menikmati hangat mentari pagi di tepi pantai. Sedang Hana, segera bersiap membuka kedai bersama satu karyawannya.


Kedai Shena kini memiliki dua karyawan laki-laki dan satu perempuan. Yang mana mereka bekerja secara bergiliran.


Satu jam kemudian...


Nara telah tiba di kedai Shena. Ia pun segera mendatangi Shena di teras belakang. Ia tampak takjub dengan kedai Shena yang sekarang, lebih luas dan lebih berkelas. Gadis bersurai hitam yang biasa terkuncir satu inipun tampak menggeraikan rambutnya.


"Shena!"


Nara datang mengenakan sweter putih lengan panjangnya, berbahan dasar wol. Jeans biru dan sepatu sport putih. Ia tidak mengenakan mantel hari ini. Rambutnya pun tersisir lebih rapi, tidak seperti dulu yang menantang gravitasi.


Sang gadis berdiri menyambut kedatangan Nara. Ia terlihat imut dan cantik saat mengenakan gaun pink sebatas lututnya. Seketika Nara teringat akan ibunya.


Astaga, selain nama mereka yang hampir sama. Kecantikan mereka juga hampir setara. Ya Tuhan, apakah ini pertanda untukku? Nara berbicara sendiri.


Harus ia akui jika Shena amat cantik dan manis. Terlebih sifat Shena yang keibuan, menambah nilai lebih dari gadis tunangannya ini. Tak ayal, perasaan cinta di dalam hati Nara kembali, bahkan melebihi yang lalu. Ia kemudian mengajak Shena berjalan menuju halaman parkiran kedai.


"Nara, ini?" Shena terkejut saat melihat mobil hitam milik Nara.


"Mobil ini sengaja kubeli untuk membawa seorang bidadari ke rumahku," kata Nara yang sontak membuat Shena tersipu.

__ADS_1


"Nara ...."


"Shena, mulai hari ini kau akan tinggal bersamaku." Nara menatap dalam Shena.


"Tapi, kau akan kerepotan." Shena pun khawatir.


"Tak apa. Aku akan menjagamu. Dan aku juga yang akan menanggung biaya hidupmu. Ya, walaupun kau punya penghasilan sendiri. Tapi kali ini izinkan aku menjadi pria sempurna di matamu," kata Nara lagi.


"Nara ...."


Seketika Shena menghambur ke pelukan Nara setelah mendengar kata-kata itu. Ia amat bahagia karena akhirnya hatinya terisi kembali. Tanpa menyadari jika Hana melihatnya dari balik kaca jendela kedai. Hana pun ikut bahagia saat melihat keduanya berpelukan.


Syukurlah akhirnya Shena bisa menemukan kebahagiaannya.


Hana turut bersyukur atas kembalinya Nara dan pulihnya Shena. Bukan karena ia menginginkan Ryuuto, tapi karena ia ingin sepupunya bahagia bersama orang yang disayangi. Dan akhirnya hal itu terjadi.


"Baiklah. Kita pamitan dulu kepada Hana, ya." Nara melepaskan pelukan Shena.


"He-em." Shena pun mengangguk.


Sang pemuda bermata biru kemudian berpamitan kepada Hana untuk meminta izin membawa Shena bersamanya. Hana pun dengan senang hati mengizinkannya, ia memercayakan Shena kepada Nara. Dan tak lama keduanya pergi meninggalkan kedai. Nara melajukan mobilnya menuju rumah sakit, tempat di mana ayahnya dirawat karena koma. Ia juga ingin menemui ibunya di sana sekaligus memperkenalkan Shena.

__ADS_1


__ADS_2