
Di kantor Sony Music Entertainment Jepang...
Raut wajah bertekuk dua belas tersirat dari sang owner di kantor Sony Music Entertainment Jepang. Ia merasa tertekan dengan perkataan dari pria paruh baya yang ternyata adalah ayah dari Yudo. Hisei ingin agar Nara dideportasi dari D'Justice. Pria paruh baya itu tidak rela jika pembunuh anaknya berkeliaran bebas di luar.
"Aku tidak akan segan untuk membeberkan masalah ini ke publik jika kalian tetap membiarkan anak itu di sini. Aku juga tidak segan untuk menjatuhkan nama baik perusahaan kalian. Kalian tahu, tidak ada yang kutakuti. Jadi pertimbangan baik-baik perkataanku." Pria paruh baya itu mengancam Michael.
"Tuan Hisei, seperti yang pernah saya bilang sebelumnya, ini adalah masalah pribadi antara anak Anda dan Nara. Tidak sepantasnya dikaitkan dengan pekerjaan. Nara juga terpaksa melakukannya karena anak Anda ingin membunuhnya. Dia bukan sengaja melakukannya." Hata mencoba membela Nara.
"Ya, aku tahu ini masalah pribadi. Tapi tetap saja anakku telah terbunuh olehnya. Dan ayah mana yang rela pembunuh anaknya berkeliaran bebas? Tuan Hata, berpikirlah. Kalian tinggal memilih, keluarkan anak itu atau nama baik perusahaan ini akan hancur." Hisei pun beranjak dari duduknya.
Atmosfer ruangan terasa mencekam. Pria itu menekan pihak Sony Music untuk mendeportasi Nara dari dapur rekaman. Alhasil, adu pendapat pun terjadi antara Hata dan juga Hisei. Tapi akhirnya, Michael lebih memilih mengalah karena tidak ingin nama baik perusahaannya rusak.
"Tuan, apakah ada jaminan jika dia dikeluarkan semua akan baik-baik saja?" tanya Michael yang tersudut.
__ADS_1
"Jika dia dikeluarkan, aku akan menjamin nama baik perusahaan ini. Kalian tidak perlu khawatir. Aku hanya ingin anak itu," jelas Hisei lagi.
Hata menelan ludahnya. Ia mengerti benar arah pembicaraan ini. Namun, ia seperti tidak mempunyai jalan selain mengeluarkan Nara dari band asuhannya. Tentunya hal ini akan menjadi polemik tersendiri baginya.
Pria paruh baya itu segera keluar dari ruangan setelah menuturkan maksudnya. Ia pun diantar sang owner sampai ke depan pintu ruangan. Sedang Hata, masih terpaku di tempatnya, ia memikirkan baik-buruk ke depannya dengan langkah yang akan diambil pihak label rekaman.
Astaga ... negosiasiku ditolak mentah-mentah. Apa yang harus aku lakukan agar Nara bisa tetap bertahan di D'Justice?
Hata pusing sendiri.
Cuaca pagi ini mulai menghangat setelah melewati malam yang dingin. Tapi hangatnya cuaca sayangnya tidak bisa meringankan kebimbangan sang manajer. Hata pun berpikir keras atas masalah yang terjadi.
"Manajer Hata, kau sudah dengar sendiri apa katanya." Michael datang setelah mengantarkan Hisei.
__ADS_1
"Ya, aku tahu." Hata mengangguk.
"Kalau begitu segera buat surat pernyataan untuknya. Aku lebih baik kehilangan satu orang daripada harus kehilangan nama baik perusahaan. Pergilah dan selesaikan urusan. Aku percayakan padamu." Michael menyerahkan eksekusi kepada Hata.
"Baik." Hata pun mengiyakan.
Sang manajer akhirnya keluar dari ruangan. Ia segera membuatkan surat pernyataan pengunduran diri untuk Nara. Walau berat, mau tak mau ia harus melakukannya. Dan akhirnya, Hata menghubungi Ken untuk membicarakan hal ini.
"Jam sebelas kita bertemu di kantor. Ada masalah penting yang harus dibicarakan segera." Hata berbicara di telepon.
"Ya, baik. Aku tunggu kedatangan kalian," kata Hata lagi.
Hata akhirnya mematikan teleponnya. Ia menunggu kedatangan Ken di kantor untuk membicarakan masalah ini secepatnya. Sedang Ken, masih berada di kantor ayahnya. Ia menunggu Nara keluar dari ruang interogasi.
__ADS_1
Ya Tuhan, ada apa lagi ini? Jangan-jangan! Ken merasa cemas setelah mendapat telepon dari manajernya.