
"Emm, mana ya?" Cherry membuka tas berwarna hitam yang ia bawa.
"Kamu mencari apa, Sayang?" Ken yang duduk di samping kanan Cherry mencoba bertanya kepada kekasihnya.
"Aku mencari ... nah, ketemu!" ucapnya saat menemukan sesuatu berbentuk makalah.
"Kamu ikut audisi menulis juga?" tanya Ken saat melihat makalah Cherry.
"Iya, sebentar. Aku ke ruangan sebelah dulu, ya." Cherry memperlihatkan makalahnya lalu beranjak pergi.
Melihat hal itu, Nara mencoba bertanya kepada Ken padahal ia sedang asik melafalkan nada. "Hei, Ken! Ke mana gerangan nenek lampirmu pergi?" tanya Nara kepada Ken.
"Dia ke ruangan sebelah, ikut seleksi menulis drama," jawab Ken sambil tetap melihat kepergian Cherry.
"Lama tidak? Acara akan segera dimulai. Dan kita mendapat nomor urutan ke tujuh," ungkap Nara yang khawatir.
"Tidak, kau tenang saja!" gerutu Ken karena Nara banyak bertanya.
"Hah, baiklah." Nara lalu kembali bernyanyi dengan nada pelan.
__ADS_1
Cherry pergi ke ruangan seleksi menulis drama, tapi ternyata di sana ia malah bertemu dengan Shena. "Shena!"
Cherry melambaikan tangannya ke arah Shena yang tampak mengantri memasukkan makalah tulisnya. Shena terlihat datang sendiri, ia mengenakan sweter hitam, celana pensil biru dan sepatu kets yang berwarna cokelat.
"Cherry?!" Shena melihat Cherry dari jauh.
Cherry segera berlari ke arah Shena, ia kemudian berdiri di samping gadis berkuncir satu itu. "Harus mengambil nomor urut ya, Shena?" tanya Cherry saat melihat orang-orang sedang berbaris mengambil nomor urut.
"Iya, untuk penulis diharuskan mengambil nomor urut. Nanti akan dicatat oleh pihak panitia," jawab Shena seraya tersenyum.
"Oh, baiklah. Kalau begitu aku juga akan ikut mengantri," sahut Cherry yang ikut berbaris di belakang Shena, mengantri untuk mendapatkan nomor urut.
Beberapa jam kemudian...
Audisi band Ken telah selesai. Mereka keluar dari ruangan dengan perasaan yang sangat berdebar.
"Masuk semi final tidak, ya?" gumam Nara yang khawatir.
"Hari ini kita harus menyingkirkan tujuh nama band jika ingin masuk semi final." Ken melanjutkan.
__ADS_1
"Optimislah sedikit, perjuangan masih panjang!" gerutu Cherry sambil mengupil.
"Ish! Kau jorok, Cher!" ucap Nara yang sweatdrop melihat tingkah Cherry.
"Ini lebih baik daripada kau yang selalu mengentut di dalam kelas!" geram Cherry sambil mengepalkan tangan kanannya ke arah Nara.
"Sai, kau saja yang dekat Cherry. Uwek!"
Nara mual melihat tingkah konyol Cherry. Ia menarik badan Sai agar menggantikan dirinya, berjalan di dekat Cherry.
"Bukannya masih ada yang lebih asin daripada itu, ya? Aku yakin kau pasti menyukainya, Nara," ledek Sai kepada Nara.
Nara terdiam mendengarnya, ia lalu melirik ke arah Sai. "Hei! Apa maksud ucapanmu, Sai?!" Nara kesal kepada Sai.
"Hei, sudah-sudah." Ken berusaha memisahkan Sai dan Nara yang bertengkar.
"Dasar makluk aneh!" Cherry tidak peduli ulah teman-temannya.
Persahabatan yang terjalin di antara mereka diwarnai dengan canda dan juga tawa. Membuat keempatnya bertambah dekat layaknya saudara kandung sendiri. Ya, walaupun terkadang mereka harus menyingkirkan ego masing-masing di saat salah satu tidak ada yang mau mengalah. Tapi, sebesar apapun candaan mereka mengejek temannya, selalu saja ada yang mendamaikan. Terutama Ken, ia benar-benar dituakan di band-nya.
__ADS_1