Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Di Mana Dia?


__ADS_3

Beberapa jam kemudian...


Fajar telah datang dan sang surya pun mulai menampakkan cahayanya di tengah-tengah negeri ini.


Di sebuah rumah sakit yang berada di kota Tokyo, terlihat Cherry yang begitu cemas. Ia tampak tidak sanggup menunggu lebih lama lagi akan operasi yang sedang dilakukan.


Beberapa jahitan harus dilakukan pada tubuh Nara, ia banyak kehilangan darah dari tubuhnya. Untung saja, tubuhnya mampu bertahan dalam keadaan kritis. Kalau tidak, mungkin sang pemuda bermata biru itu tidak akan pernah lagi ditemuinya.


"Bagaimana Cherry?"


Sang manajer baru D'Justice, Hata datang pagi-pagi ke rumah sakit. Dalam balutan jas hitamnya ia mendekati Cherry yang tengah mondar-mandir di depan pintu ruang operasi. Cherry pun hanya diam sambil terus menunggu.


"Bagaimana keadaan Ken? Apa dia baik-baik saja?" tanya Hata lagi.


Cherry menghela napasnya. Betapa berat musibah yang menimpa dirinya saat ini. Sang kekasih dan juga teman dekatnya tengah berjuang di dalam ruang operasi. Ia terlihat memegangi kepalanya yang terasa begitu sakit.


"Ken sedang menjalani perawatan pasca operasi. Dia baik-baik saja, Manajer Hata. Hanya Nara yang mengalami luka serius di tubuhnya. Dan ... dan aku sedang menunggu hasilnya." Cherry menuturkan sambil menahan kesedihan.

__ADS_1


"Begitu ...."


Hata ikut perihatin atas musibah yang menimpa anak didiknya saat ini. Ia pun hanya dapat menunggu kabar dari dokter yang sedang bertugas.


...


Detik demi detik dilalui, menit demi menit pun terlewati. Satu jam kemudian di sebuah ruangan kelas satu, terlihat Nara yang berangsur-angsur tersadar dari bius operasinya.


Kedua matanya perlahan membuka, namun pandangannya masih kabur. Cairan infus terasa mengalir deras di tubuhnya yang terbalut banyak perban putih.


"Cherry ...." Sosok pertama kali yang ia lihat adalah Cherry.


Tak lama, Ken bersama Sai datang. Terlihat tangan kiri Ken yang terbalut perban putih. Ken dan Sai lalu mendekati Nara.


"Hn, akhirnya kau sadarkan diri juga, Pecundang!" Ken merasa senang karena temannya tersadarkan.


"Nara, dokter bilang kau akan baik-baik saja. Esok kau sudah dapat pulang." Sai melanjutkan.

__ADS_1


Nara tidak memikirkan hal itu dan bukan hal itu yang ingin ia ketahui. Dalam pengaruh obat bius yang belum hilang dari tubuhnya, ia mencoba bertanya.


"Di ... di mana, Shena?" tanyanya pelan.


Nara teringat akan sosok gadis yang mengorbankan diri untuknya. Baik Ken, Cherry maupun Sai tidak ada yang menjawab pertanyaan Nara.


"Nara, aku bawakan bubur ayam untukmu. Aku suapin, ya?" Cherry berusaha mengalihkan perhatian Nara dengan menyiapkan bubur ayam ke dalam mangkok.


"Cherry! Tolong jangan berdalih dari pertanyaanku. Di mana Shena?" tanya Nara lagi.


Terlihat raut sedih di wajah sang gadis berbando merah karena tidak dapat mengatakan hal yang sebenarnya kepada Nara.


"Ken?!" Nara beralih ke arah Ken. Ken pun menundukkan wajahnya.


"Sai, apa kau juga tidak ingin memberi tahuku di mana Shena?" Nara bertanya kepada Sai.


Sai tampak bingung, haruskah ia mengatakan hal yang sejujurnya kepada Nara? Ia khawatir jika kabar darinya malah membuat kondisi Nara semakin memburuk.

__ADS_1


Nara kesal karena ketiga temannya tidak ada satupun yang menjawab pertanyaannya. Ia kemudian mencoba bangun dari tidurnya, menahan rasa sakit yang masih terasa walaupun pengaruh obat bius belum hilang sepenuhnya. Ia ingin mencari Shena.


__ADS_2