
"Ken, kau tampak cemas. Ada apa?" tanya Nara yang berjalan bersama Ken menuju bus.
"Tak apa," jawab Ken singkat.
"Sungguh? Sejak konser berakhir kau terlihat memikirkan sesuatu. Apa aku salah menyadarinya?" Nara berusaha mencari tahu.
"Kau ini cerewet sekali. Anggap saja aku kelelahan. Beres, kan?" Ken tiba-tiba menaikkan nada bicaranya.
"Eh?!" Nara pun bingung dengan sikap Ken yang tiba-tiba sensitif.
"Sudah. Aku sedang pusing saat ini. Kau jangan bertanya. Lebih baik nikmati saja perjalanan menuju kota terakhir." Ken mulai masuk ke dalam bus.
Tidak seperti biasanya wajah Ken muram dan jutek kepada Nara. Nara pun curiga dengan kaptennya. Namun, sementara waktu ia biarkan sang kapten menenangkan dirinya terlebih dahulu. Ia lantas duduk bersama Gabril sambil menikmati pemandangan kota dari balik kaca jendela bus. Nara berusaha berpikiran positif akan sikap sahabatnya. Ia tidak ingin berpikiran yang macam-macam tentang Ken.
Satu jam kemudian...
Hima baru saja tiba di rumah sakit. Ia pun menggantikan Ryuuto yang telah berjaga. Hima diliburkan oleh Ryuuto untuk menjaga Shena di rumah sakit, sedang gajinya tetap dibayar penuh oleh kantor redaksi.
__ADS_1
"Hari ini aku akan lembur, Hima. Aku titip Shena padamu. Tolong bantu urusi semua keperluannya. Mungkin malam sekali aku baru bisa ke sini." Ryuuto berpesan sebelum meninggalkan ruangan.
"Tak, apa. Aku yang akan menjaganya. Kau jangan khawatir." Hima menyanggupi.
"Kau belum cerita pada Nara atau Hana, kan?" tanya Ryuuto kepada Hima.
"Belum. Tapi semalam Sai meneleponku dan berjanji pagi akan menelepon kembali. Tapi ponsel sengaja kumatikan." Hima menuturkan.
"Aktifkan saja ponselmu dan bilang sedang sibuk bekerja. Jangan sampai dia curiga yang mana akan menimbulkan kecurigaan Nara." Ryuuto berpesan.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai nanti." Ryuuto keluar dari ruangan.
Hima pun tertegun saat Ryuuto keluar dari ruangan, tempat Shena dirawat. Ia bimbang, haruskah memberi tahu jika Hana ke rumah Nara atau tidak.
Kasih tahu tidak, ya? Aku takut kesalahan jika tidak memberi tahunya. Mungkin lebih baik kuberi tahu saja dia.
Hima bergegas keluar dari ruangan. "Ryuuto!"
__ADS_1
Sebelum Ryuuto berbelok koridor rumah sakit, Hima memanggil Ryuuto. Calon bosnya itupun menghentikan langkah kaki saat mendengar dipanggil. Hima segera berlari mendekati Ryuuto.
"Ryuuto, tadi Hana ke rumah Nara. Katanya telepon darinya tidak kau angkat. Aku khawatir terjadi salah paham di antara kalian." Hima menuturkan.
"Dia mencari Shena?"
"Ya, awalnya dia mencari Shena. Tapi kubilang Shena sedang ke pasar. Dia lalu bercerita jika kau tidak mengangkat teleponnya. Dia juga ingin ikut ke kantor." Hima menceritakan.
"Astaga." Ryuuto tak enak hati sendiri. "Sudah beberapa hari ini aku memang tidak mengangkat telepon darinya. Mungkin sesampainya di kantor aku akan memberi kabar. Kau tenanglah, Hima. Semua pasti baik-baik saja asal kita tidak membocorkan sakit Shena." Ryuuto mengambil risiko.
"Baik, kalau begitu aku kembali ke ruangan." Hima akhirnya bisa tenang.
Ryuuto mengangguk. Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju parkiran rumah sakit. Ia terlebih dahulu akan kembali ke rumah lalu menuju kantornya untuk menyelesaikan pekerjaan. Tapi tanpa mereka sadari, ternyata Hana mendengar pembicaraan itu dari balik dinding ruangan rumah sakit.
Jadi mereka menyembunyikan sakit Shena? Hana berpikir. Mungkin saatnya mengetes kejujuran Ryuuto. Aku akan mencoba meneleponnya sekarang.
Gadis bermantel hitam itu kemudian menelepon Ryuuto sambil berjalan keluar dari rumah sakit. Dan tak lama teleponnya pun diangkat oleh pemuda yang dicintainya.
__ADS_1