
Beberapa menit kemudian...
Hana masuk ke dalam ruangan tempat Shena dirawat. Saat itu ia melihat Hima sedang menerima telepon. Hima pun terkejut bukan main dengan kedatangan Hana. Ia segera mematikan teleponnya.
"Hana?!"
"Hima, tak apa. Aku sudah mengetahuinya." Hana berusaha tersenyum.
Sungguh Hima tidak enak hati karena telah berbohong kepada Hana. Namun ternyata, Hana bisa menerimanya setelah mendengar penjelasan dari Ryuuto. Keduanya kemudian berbicara tentang Shena di sofa ruangan.
"Aku tidak tahu jika Shena sakit lagi." Hana tertunduk di samping Hima.
"Shena memang tidak ingin merepotkan, Hana. Denganku saja dia meminta agar tetap bekerja dan tidak perlu menghiraukannya." Hima menceritakan.
"Sejak dulu Shena memang tertutup padaku. Aku tidak banyak mengetahui tentangnya. Terakhir kami bertemu dia menitipkan kedainya padaku. Aku pikir semua baik-baik saja. Namun ternyata..."
"Mungkin lebih baik tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi. Kita jalani saja yang sekarang. Ryuuto memintaku untuk tidak memberi tahu karena khawatir akan dampak ke depannya. Sebenarnya aku juga merasa bersalah. Tapi ini yang terbaik daripada menimbulkan masalah baru." Hima pun tidak enak hati.
"Nara sedang pergi?" tanya Hana lagi.
"Ya. Dia tur ke enam kota dan baru akan kembali esok malam. Itu juga jika tidak ada halangan," jawab Hima segera.
__ADS_1
Hana pun terdiam.
"Tadi Sai meneleponku, dia bilang Nara ingin berbicara kepada Shena. Tapi aku berbohong padanya." Hima amat menyesal.
"Maafkan aku, Hima." Hana meminta maaf, ia tertunduk sedih.
"Sudah, tak apa. Jika kau ingin menjaga Shena, kita bisa bergantian." Hima pun menepuk pelan tangan Hana.
"He-em." Hana mengangguk. "Semoga Shena lekas tersadar. Aku berharap dia dapat menjalani hidup dengan kebahagiaan." Hana berdoa.
"Semoga saja. Aku juga berharap ada keajaiban untuknya. Dokter bilang usianya tidak lama lagi karena penyakitnya sudah berada di stadium akhir." Hima menceritakan.
Lain Hana lain pula dengan Nara. Nara terlihat gelisah sehabis melakukan sesi wawancara di salah satu radio yang ada di Yokohama. Ponsel Shena aktif tapi belum juga membaca pesannya. Ia khawatir terjadi sesuatu pada tunangannya.
Shena, kenapa tidak membaca pesanku?
Firasat buruk datang tak diundang. Nara pun duduk di lobi radio seorang diri. Sedang ketiga temannya masih berbincang bersama penyiar dan juga manajer D'Justice. Ia sengaja memisahkan diri untuk menghubungi Shena.
Mungkin aku telepon Hima saja.
Nara akhirnya menelepon Hima. Hima pun yang sedang mengobrol bersama Hana menyadari dering ponselnya. Ia melihat jika Nara lah yang menelpon. Seketika Hima bingung sendiri, haruskah menjawab teleponnya atau tidak.
__ADS_1
Astaga! Hima juga tidak mengangkat telepon dariku!
Hima sengaja mendiamkan telepon dari Nara. Ia berusaha mengabaikan walaupun hatinya diselimuti kekhawatiran yang besar. Alhasil Nara pun kesal karena teleponnya tidak diangkat. Tak berapa lama, Gabril datang membawakan minuman ringan untuknya.
"Nara, aku bawakan minuman untukmu." Gabril memberikan sebotol minuman ringan kepada Nara. Ia lalu duduk di sisi kiri sang pemuda.
"Terima kasih," sahut Nara singkat.
"Kau kelihatan mencemaskan sesuatu. Ada apa?" tanya Gabril dengan lembut.
"Ah, tidak. Aku baik-baik saja." Nara pun tersenyum, ia segera meneguk minuman dari Gabril.
"Nara, jika ada sesuatu yang mengganjal, ceritakanlah padaku. Aku siap mendengarnya." Gabril menawarkan diri.
"Terima kasih." Nara hanya tersenyum dan tidak berkata lain.
Gabril menyadari jika Nara sedang mencemaskan sesuatu. Ia pun berusaha meringankan beban yang sedang dirasakan oleh Nara. Tapi Nara seolah tidak memberi kesempatan untuknya.
Nara, tak bisakah membuka hatimu untukku? Aku sudah menemanimu sejauh ini, aku ingin kita lebih dekat lagi. Tapi mengapa kau masih menjaga jarak denganku?
Gabril berusaha tersenyum walaupun Nara tidak menanggapinya. Ia lalu meminum softdrink yang dibelinya sambil melihat ke sekeliling ruangan lobi. Tak lama Hata dan ketiga personil D'Justice pun datang. Mereka segera bergegas menuju gedung konser untuk mengecek sound system.
__ADS_1