
Bulir-bulir air mata mengalir dari dermaganya. Setetes demi setetes dan akhirnya tidak terbendung lagi. Rie tak kuasa untuk meneruskan ingatannya akan Nara. Teras lantai dua yang berpagar besi itu pun menjadi sandaran tubuhnya.
Isak tangis menyelimuti dirinya, hatinya hancur di kala mengingat Nara tidur bersama gadis lain. Pikirannya kalut, kacau tidak menentu, memikirkan bagaimana jika Nara melakukan hal yang sama kepada wanita itu.
"Nara …." Rie menarik rambutnya sendiri, menangis tersedu-sedu, seraya berusaha mengungkapkan isi hatinya.
"Nara, kau jahat!"
Ia menjambak rambutnya sendiri lalu memukulkan kepalanya ke pagar teras yang terbuat dari besi. Rasa putus asa tengah melanda dirinya. Ia merasa sudah tidak sanggup melanjutkan hidupnya lagi. Tanpa Nara, tanpa seseorang yang selalu memberikan apa yang ia minta.
__ADS_1
"Aaarghhhh!"
Rie memukul-mukul pagar teras itu dengan kedua tangannya, seraya terisak dan berlinang air mata. Rasa sesal, kesal, dilema dan amarah menjadi satu di hatinya yang rapuh. Cinta itu membunuhnya, mencabik-cabik hatinya dengan perlahan, yang ia sendiri tidak kuasa untuk melawannya.
Mungkin benar apa kata pepatah yang mengingatkan agar tidak bermain api jika tidak ingin terbakar. Begitu pun yang dialami Rie, kekasih Nara saat ini. Ia tenggelam dalam permainannya sendiri.
Minggu, 10 pagi di studio musik.
Studio musik yang bersampul cokelat batik pada dinding dan beralaskan karpet merah tebal sebagai peredam suara, seakan mampu membakar semangat para personil untuk memenangkan festival musik band kampus seantero Jepang. Yang mana hanya diadakan setiap dua tahun sekali.
__ADS_1
Di sana juga sudah ada Sai, ia mengenakan sweter hitam lengan panjang dan celana kasual yang sama warnanya dengan sepatunya itu. Ia sedang berdiri tegak menghadap ke sebuah alat musik yang multi fungsi, tak lain adalah keyboard. Sai memang seorang pianis handal dan sudah mereka buktikan sendiri.
Lain dengan Nara, ia duduk di atas sound system berwarna hitam setinggi satu meter. Jari-jemarinya tampak lincah memetik senar gitar satu per satu, melantunkan melodi tinggi saat mencoba gitar baru yang ada di studio. Tapi siapa yang tahu, hatinya hampir saja membeku karena tak kunjung bertemu dengan sang mantan. Dibuktikan dengan pakaiannya yang serba hitam menandakan kedukaan.
Tak lama, terdengar suara pintu dibuka dari luar. Terlihat seorang gadis berbando merah datang memasuki studio musik.
"Maaf, aku telat datang kali ini," ucapnya sambil meletakkan tas yang ia bawa dengan hati-hati.
"Kau sudah datang, Sayang? Tak apa, kami juga baru sampai," sapa mesra Ken kepada kekasihnya.
__ADS_1
Ya, siapa lagi yang datang kalau bukan putri cantik satu ini, Cherry. Cherry dan Ken memang sudah menjalin hubungan sejak mereka masuk di tingkat dua. Hubungan itu terjalin karena seringnya bertemu dan bercanda bersama. Merasa nyaman, akhirnya Ken memutuskan untuk menyatakan perasaannya kepada Cherry. Walaupun harus menunggu lama, akhirnya Cherry menerima cinta Ken dengan malu-malu.
Entah mengapa, dari sekian banyak pemujanya, hanya Cherry yang mampu membuat hatinya luluh, apa adanya dan juga sedikit gila. Mereka saling mengisi satu sama lain. Dan akhirnya, hubungan itu masih berjalan sampai saat ini.