Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Sahabat Sejati


__ADS_3

Kediaman Nara, 4.00 pm…


"Akhirnya kau membukakan pintu rumahmu, Nara."


Cherry merasa senang saat pemuda bermata biru itu membukakan pintu rumahnya. Ia pun segera masuk ke dalam rumah diikuti oleh Ken dan juga Sai. Keempatnya kemudian duduk di kursi sofa yang ada di ruang tamu.


"Maaf, hari ini kondisiku belum stabil. Kalian ingin minum apa?" tanya Nara yang hanya mengenakan kaus oblong dan celana tidur pendeknya.


"Tak perlu repot, kami sudah membawanya." Sai meletakkan satu kantong plastik berisi soft drink dan makanan ringan ke atas meja.


"Terima kasih, ini pasti ulah Cherry," selidik Nara yang tidak enak hati.


"Sudah, tak usah sungkan. Seperti dengan orang yang baru kau kenal saja!" Cherry menggerutu.


"Ya, ya, baiklah. Maafkan aku," sahut Nara yang lemah.


Kondisi Nara saat ini benar-benar tidak stabil. Semalaman ia tidak bisa tidur karena teringat kejadian di depan apartemen ayahnya. Terasa pedih dan menusuk sampai ke sela persendiannya. Ingin rasanya ia menuangkan amarah dan kecamuk dalam hati. Tapi, ia juga khawatir cita-citanya akan hancur bilamana mengeluarkan emosinya.

__ADS_1


"Nara, kedatangan kami ke sini untuk mengabarkan jika kita mendapat nomor audisi ke tujuh, dari delapan puluh kampus yang ikut serta dalam festival musik tahun ini." Ken menuturkan tujuannya.


"Ke tujuh?!" Narapun terkejut.


"Iya, maka dari itu latihan akan kita tambah pada rabu dan jumat selama dua jam penuh. Apa kau keberatan?" Cherry bertanya kepada Nara.


"Em, tapi kondisiku belum membaik." Nara belum bisa memastikan kestabilan emosinya.


"Tak apa, kita latihan santai saja. Tidak usah banyak gerak. Toh, lagu ciptaan kita juga nanti dibawakan secara akustik," jelas Ken.


Nara curiga akan penyebab band-nya yang mendapat nomor audisi di awal. Pikirannya tertuju kepada teman perempuannya yang berbando merah, siapa lagi kalau bukan Cherry.


"Hem, baiklah aku akan berusaha." Nara berusaha membangkitkan gairah bermusiknya.


Cherry lalu mendekati Nara dan menepuk pundaknya. "Mana semangat yang selalu berkorbar dari jiwamu itu, Nara?" Cherry berusaha mengembalikan semangat Nara.


Ken juga ikut mendekati Nara. "Saat kau merasa lelah, ingatlah impian yang sedang berusaha kau raih, Kawan," ucap Ken lalu diikuti oleh Sai.

__ADS_1


"Lihatlah aku! Walau berkacamata, tapi tetap semangat mengejar cita." Sai ikut bersuara.


"Hei, Sai. Apa hubungannya?!" Cherry merasa ucapan Sai keluar dari topik pembahasan.


"Hahaha, maafkan aku. Aku bingung harus berkata apa. Jadi ya ala kadarnya saja. Hahahaha." Sai tertawa sendiri.


"Hah, dasar kau ini." Cherry memasang wajah kesalnya kepada Sai.


"Sudah-sudah, mari kita habiskan makanan ini." Ken segera mengalihkan perhatian.


Ken mengerti isi hati Nara tanpa harus diungkapkan terlebih dahulu. Ia sudah mengenal dekat Nara dua tahun lamanya. Dan Ken jugalah yang menjadi saksi hidup atas bencana yang menimpa keluarga Nara.


Terima kasih, semuanya.


Nara sangat bersyukur karena di saat hatinya sedang terombang-ambing seperti ini, masih ada teman-teman yang setia menghibur dan menyemangatinya. Entah bagaimana jika tidak mempunyai teman, mungkin ia akan mengakhiri hidupnya karena rasa kesepian yang mendalam.


Nara telah kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya, kehilangan kekasihnya, dan bahkan ia juga telah kehilangan hartanya. Namun, semangat dan dukungan dari teman-temannya mampu membuat api kehidupan Nara kembali berkobar. Ia memutuskan untuk terus mengejar cita-citanya.

__ADS_1


__ADS_2