
Beberapa hari kemudian...
Malam terus berganti. Kali ini di rumah Nara terlihat keempat personil D'Justice sedang membuat lagu baru. Mereka menggunakan alat musik sederhana yang dibeli dari hasil gaji pertamanya. Tetapi, sesuatu aneh sedang terjadi di sana. Tampak Shena dan Hima menyertai keempat personil band tersebut.
Tripple date? Bukan. Ini hanya sebatas mengisi kekosongan di hari libur sebelum semuanya kembali beraktivitas normal.
Canda tawa pun mengiringi setiap menit yang mereka lalui. Tak ada kesenjangan di antara keenamnya. Malahan Sai dan Cherry memojokkan Nara agar segera menembak Shena.
Dalam balutan busana musim dingin dan syal yang membalut leher, tampak kemesraan di antara ketiga pasangan ini. Tak terkecuali Nara yang mulai dekat dengan Shena, sang mantan.
"Kalian ini pasangan serasi, tetapi malah berpisah. Hmmm." Cherry bergumam sambil menyilangkan kedua tangan di dada.
Keenamnya duduk melingkar di atas lantai ruang tamu dengan beberapa cemilan yang menemani.
"Maklum saja, Cher. Nara sedang terkena impoten, jadi tidak ada keberanian untuk menyatakan cintanya," celetuk Sai yang ditanggapi kekehan kecil Hima dan senyuman manis Shena.
"Apa kau bilang?! Kau ingin merasakan kejantananku, Sai?!" Nara menanggapi celetukan Sai dengan ekspresi menantang.
"Hoooo, aku takut, Hima. Tolong aku." Sai kemudian bersembunyi di belakang tubuh Hima.
__ADS_1
Hari itu keceriaan tersirat di wajah keenamnya. Selesai menyelesaikan sebuah lagu, Nara kemudian mengajak Shena berjalan-jalan di taman yang tidak jauh dari rumah. Mereka berjalan dengan sedikit berjauhan sambil melihat pohon-pohon yang dijatuhi butiran salju.
Di taman...
"Sudah lama kita tidak berjalan seperti ini, Shena." Nara mencoba membuka percakapan.
"He-em." Shena malu-malu menanggapi ucapan Nara.
"Aku sudah lama menantikan hal ini. Ternyata memang benar jika penyesalan itu datang belakangan. Tapi, aku masih berharap kita bisa bersama lagi."
Nara menoleh ke arah Shena yang berjalan di sampingnya, memutar tubuh lalu meraih kedua tangan gadis itu.
"Nara ...." Shena terkesima, ia tidak menyangka akan mendengar Nara mengatakan hal ini.
"Kali ini aku sangat bersungguh-sungguh. Selepas lulus kuliah nanti, aku akan melamarmu. Tolong jangan kau tolak lagi perasaan ini."
Pandangan Nara begitu tulus, air wajahnya tersirat kesungguhan yang luar biasa. Tampaknya ia sudah lelah dengan kesenangan sementara. Ia ingin segera melabuhkan hatinya bersama wanita yang ia cintai dan juga benar-benar mencintainya.
"Shena ...."
__ADS_1
Nara menyapa kembali sambil tetap memegang kedua tangan Shena. Tampak Shena yang hanya diam, seperti sedang memikirkan apa yang Nara katakan padanya.
"Aku ...."
Terasa berat bagi Shena untuk menjawab. Sementara Nara masih terus menunggunya.
"Shena ...," Nara memegang wajah Shena agar melihatnya. "Tak apa jika kau membutuhkan waktu untuk menjawabnya. Masa kuliah masih tersisa dua tahun lagi, dan aku akan menunggu. Tapi, izinkan aku memakaikan kalung ini di lehermu, ya." Nara mengeluarkan kalung dari saku kiri jeans-nya.
"Ini ...?" Shena terkejut melihat batu permata hijau yang menggantung di kalung tersebut.
"Rantainya memang terbuat dari tali hitam biasa, tapi ini adalah batu zamrud. Nenekku berpesan agar memberikannya kepada gadis yang benar-benar aku cintai." Nara memperlihatkan kalung itu kepada Shena. "Kau mau, kan?" tanya Nara lagi.
Hati Shena terenyuh dengan apa yang Nara katakan. Berbagai kenangan manis bersama Nara kembali teringat dalam alam imajinya. Rasanya tidak percaya jika Nara akan seserius ini padanya.
"Shena, aku pakaikan, ya?"
Nara memutar, berdiri di belakang tubuh sang gadis. Jantung Shena seketika mengalami detakan tak biasa saat Nara memakaikan kalung tersebut. Sepercik harapan pun kembali muncul di benaknya yang telah lama membeku.
Shena, kali ini aku serius. Amat serius. Aku akan memperkenalkanmu pada ibuku. Maafkan segala kesalahan yang telah kuperbuat dulu.
__ADS_1
Dari jauh, Ken melihat kemesraan yang terjadi. Ia berdiri bersama Hima. Sedang Sai dan Cherry tampak menguntit keduanya yang sedang mencoba kembali. Mereka diam-diam berusaha mendengar semua percakapan Nara dan juga Shena.