
Beberapa hari kemudian...
Kondisi Shena mulai membaik, D'Justice pun baru saja menyelesaikan syuting lagu pertama di mini album ke dua mereka. D'Justice kembali muncul ke permukaan industri musik setelah cukup lama vakum dikarenakan berbagai hal. Tapi, ada sesuatu yang berbeda saat ini. Nara terlihat begitu bersemangat saat Shena menemani dirinya manggung di berbagai tempat.
Shena memutuskan resign dari kantor redaksi Ryuuto dan memilih untuk menemani ke mana Nara manggung. Ia pun terpaksa harus mengambil cuti panjang di kampusnya pasca sakit yang diderita. Walaupun begitu, ia tetap setia menemani ke mana Nara pergi.
"Apa kabar, Jepang?!" teriak Cherry dari atas panggung.
D'Justice melakukan kolaborasi konser dengan dua band ternama lainnya. Mereka kini berada di panggung Nippon Budokan setelah berhasil menjajal panggung Makuhari Messe. Selepas mini album pertama mereka melesat di jajaran top sepuluh musik terpopuler musim ini.
"Terima kasih atas kebersamaannya sampai saat ini. Tanpa kalian kami bukanlah siapa-siapa." Cherry memberi salam pembuka kepada para penonton.
Nippon Budokan adalah jajaran venue terbesar ke tiga di Jepang yang mampu menampung sekitar 15.000 penonton. Terlihat para personil D'Justice yang sudah siap menghibur para penonton. Mereka tampak bersemangat di atas panggung.
"Sebuah lagu pembuka dari kami, Kimi Monogatari."
__ADS_1
Cherry tersenyum ke arah penonton. Nara pun mulai memainkan rythem-nya. Diikuti Ken yang memukul drum dan Sai yang memainkan keyboard-nya. Lagu pembuka yang D'Justice bawakan pun mampu membuat penonton merasakan kegembiraan. Begitu juga dengan Shena yang duduk di belakang panggung. Ia bersama Hima menonton penampilan D'Justice dari layar TV berukuran 29 inchi.
Malam harinya...
Selepas pulang konser, D'Justice beristirahat di rumah Nara yang telah menjadi basecamp. Tampak Nara tengah berdua bersama Shena di teras depan sambil bersantai ria. Sedang teman lainnya sibuk di dapur mengolah bahan makanan. Rencana malam ini akan diadakan acara bakar-bakaran atas niatan Nara kepada Shena. Ya, Nara akan melamar Shena malam ini juga. Sepasang cincin sudah ia persiapkan.
"Hah, siapa yang mau bertunangan, malah aku yang repot." Cherry datang dari dapur dengan membawa berbagai macam sayuran yang sudah diiris di atas nampan.
"Hahaha. Anak orang kaya beda, ya. Mudah lelah jika diminta memasak," celetuk Sai kepada Cherry.
"Hei, apa katamu?!" Cherry marah, hampir saja nampan berisi sayuran itu ia lemparkan kepada Sai.
"Huh! Kalau bukan karena Hima, nampan ini akan melayang ke arahmu," cetus Cherry yang kesal.
Ken yang membawa ikan segar di dalam ember, tampak diam saja. Ia tidak ingin meladeni keributan teman dan kekasihnya.
__ADS_1
Sesampainya di depan rumah, mereka segera mempersiapkan pembakaran untuk memanggang ikan. Nara pun membantu Ken menghidupkan bara. Sedang Shena membantu Cherry dan Hima mengolesi ikan yang akan dibakar. Malam ini suasana keakraban begitu terasa di antara mereka.
"Nara." Ken memberi kode kepada Nara.
"Ken?"
"Kau sudah siap?" Ken melirik ke arah Shena.
"He-em. Aku sudah siap. Cincinnya juga sudah kubeli." Nara berbisik pelan.
"Emas putih?" tanya Ken lagi sambil menghidupkan bara.
"Ya, sesuai saran darimu. Aku mendapatkannya dengan harga yang sesuai. Cincinnya sangat indah," kata Nara lagi.
"Baiklah. Setelah ini langsung saja mulai acaranya. Jangan biarkan Shena menunggu terlalu lama." Ken memberi saran.
__ADS_1
"He-em." Nara pun mengangguk.
Betapa senang hati Nara yang akan segera mengikat Shena dengan cincin tunangan darinya. Ia begitu bersemangat malam ini. Dan tak lama, semua ikan pun siap untuk dipanggang oleh mereka.