Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Masalah Baru


__ADS_3

Nara tersenyum bahagia mengingat kembali semua kenangan yang telah ia lalui bersama Shena. Tekad bulat di hatinya semakin kuat untuk segera melabuhkan bahtera bersama.


Shena, aku mulai merasakan hembusan angin yang menyejukkan. Aku sangat bersyukur atas pertemuan kita, dan tertawa mengingat semua kenangan manis yang telah tercipta. Kita saling membahagiakan, memahami dan mengisi satu sama lain. Sepertinya kau memang ditakdirkan untukku.


Biarkanlah waktu yang menuntun bagaimana jalan kehidupan ke depannya. Tapi aku sangat berharap kau dapat menemani hati ini hingga masaku habis. Percayalah sampai saat itu tiba, aku akan menjaga dan selalu menunggumu ....


Nara berharap bisa menghabiskan sisa usianya bersama Shena, mantannya. Ia ingin menebus semua kesalahan yang telah diperbuatnya dulu. Ia amat berharap Tuhan memberikan keajaiban sehingga Shena bisa tersadar dari komanya. Ia berharap dan akan terus berharap.


Tokyo, 07.00 pm...


Nara baru saja tiba di ruangan tempat di mana Shena dirawat. Tetapi suatu pemandangan mengagetkan terjadi di depan matanya. Terlihat Ken memeluk Cherry yang sedang menangis. Begitu juga dengan Sai yang berusaha menenangkan Hima dari tangisannya. Nara pun segera berjalan cepat ke arah mereka.


"Ada apa ini?!" Nara kebingungan melihat teman-temannya bersikap aneh, tidak seperti biasanya.


Cherry hanya menunjuk Shena yang tengah terbaring. Terlihat infus yang berada di tangan Shena sudah tak lagi ada. Selang udara pun sudah terlepas dari hidungnya.


"Cherry, ada apa? Jangan membuatku panik!"

__ADS_1


Nara benar-benar panik saat melihat semua temannya bersedih. Pikirannya kalut dan menjuru ke suatu kata yang amat tidak ia inginkan.


"Shena!" Nara bergegas mendekati Shena, ia mencoba memeriksa keadaan sang mantan.


"Tubuhnya dingin, ini ... tidak. Tidak mungkin!" Nara semakin panik. "Shena, bangun Shena! Kau tidak boleh meninggalkanku!" Nara berusaha mengguncang tubuh sang mantan yang terbaring di atas kasur rumah sakit.


"Nara, sudahlah ... relakan Shena." Sai berusaha menenangkan Nara.


"Tidak! Ini tidak boleh terjadi!"


"Nara!" Ken menahan Nara.


"Ken, lepaskan tanganmu! Aku tidak bisa berdiam seperti ini." Nara mencoba menghempaskan tangan Ken yang menahan tangannya.


"Nara ...," Cherry juga mencoba berbicara. "Ada baiknya jika kau bersabar, tindakkanmu akan menghancurkan semuanya." Cherry mengingatkan.


"Tidak! Aku akan tetap menemui dokter untuk memeriksa keadaan Shena!"

__ADS_1


Nara segera keluar dari ruangan. Pintu ruangan itupun ditutup kencang oleh Nara. Ia segera mencari dokter untuk memastikan keadaan Shena baik-baik saja. Entah mengapa firasatnya tidak enak malam ini.


Sementara di kantor Sony Music Entertainment Jepang...


Michael sedang membicarakan masalah D'Justice dengan Hata, manajernya. Ia meminta kepada Hata untuk segera menjalankan jadwal yang sempat tertunda. Ia tidak bisa lagi menunggu karena banyak pihak yang ingin mengontrak D'Justice secepatnya.


"Mohon maaf, Tuan Michael. Keadaan Nara dan Ken belum pulih total. Mereka baru saja operasi dari luka-lukanya. Jika dipaksakan akan sangat membahayakan." Hata menerangkan.


"Manajer Hata, kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kita akan mengalami kerugian. Terlebih penundaan syuting video klip ini. Biaya sudah kita keluarkan, tapi nyatanya mereka mangkrak dari jadwal." Michael tidak mau tahu.


Hata mengambil napas dalam. Ia mengerti kerisauan yang melanda Michael, tapi ia juga harus berempati atas musibah yang menimpa personil band asuhannya.


"Baik. Nanti akan saya bicarakan kepada semua personil. Semoga mereka bisa mengambil kontrak ini." Hata berpamitan.


"Ya, aku mengandalkanmu." Michael pun membiarkan Hata keluar dari ruangannya.


Michael adalah owner baru di pihak Sony Music Entertainment Jepang yang menggantikan ayahnya. Di awal kerjanya ia tidak ingin membuat kerugian pada pihak Sony Music. Apalagi masalah yang terjadi tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan. Sehingga ia meminta Hata untuk membereskannya.

__ADS_1


__ADS_2