Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Kabar Buruk


__ADS_3

Beberapa jam kemudian…


Hari sudah memasuki siang. Jam di dinding pun kini sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi waktu Tokyo dan sekitarnya. Udara yang perlahan menghangat tidak dapat membangunkan sosok gadis yang kini tengah terbaring di rumah sakit. Selang infus pun menempel di pergelangan tangannya.


Wajahnya pucat, tekanan darahnya juga melemah. Ia belum tersadarkan sedari tadi.


Di sampingnya tengah ada sesosok pria berkemeja krim yang masih setia menunggunya. Ia sampai rela meninggalkan pekerjaan hanya untuk menemani sang gadis yang tengah dirawat. Beberapa dering telepon pun harus ia angkat jauh-jauh dari pembaringan sang gadis. Dan tak lama, seorang dokter datang membawa hasil scanning atas keadaan gadis itu.


“Dokter Tan, bagaimana hasil scanning Shena?”


Pria itu adalah Ryuuto, ia tampak begitu mencemaskan keadaan Shena. Ya, Ryuuto mendatangi kediaman Nara pagi-pagi karena ia ingin bertemu dengan Shena. Melihat bagaimana keadaan Shena sekarang. Tapi sayang, sesampainya di sana ia malah menemukan keadaan Shena dalam keadaan tidak sadarkan diri.

__ADS_1


“Tuan Ryuuto, saya tidak tahu harus mengabarkan hal ini atau tidak.” Dokter bernama Tan itu ragu memberi kabar kepada Ryuuto.


“Dok, tolong katakan saja. Aku membutuhkan kepastian akan keadaan Shena,” kata Ryuuto lagi, ia berdiri di dekat pintu bersama sang dokter.


“Tuan Ryuuto, ini adalah hasil scanning dari kepala dan juga tulang belakang nona Shena.” Tan menyerahkan kepada Ryuuto.


Ryuuto lekas-lekas mengambilnya. Dan ia melihat sendiri hasil scanning tersebut. Sontak hatinya merasa sakit. Tak menyangka atas hasil yang didapatkan.


“Nona Shena mengalami pembekuan darah di bagian otak dan keretakan di bagian tulang belakangnya. Sepertinya ia terkena hantaman benda tumpul yang kuat. Kemungkinan hidupnya tidak dapat dipastikan karena rasa sakit bisa datang kapan saja dan mengancam jiwanya.“ Tan menjelaskan.


“Ya, saya sudah menduganya. Selama ini pihak rumah sakit hanya sebatas meringankan rasa sakitnya. Tapi setelah obat habis, ia akan kembali kambuh dan amat menyiksa,” kata Tan lagi.

__ADS_1


Ryuuto termenung mendengar kabar ini. “Apa tidak ada jalan lain unyuk menyembuhkannya, Dok?” tanya Ryuuto lagi.


“Jalan pasti ada, tapi tingkat keberhasilannya amatlah kecil. Kita harus melakukan operasi besar untuk mengambil pembekuan darah yang terjadi di kepalanya. Belum lagi kita harus melakukan pencangkokan pada tulang belakangnya. Tuan Ryuuto, secara kasarnya kita hanya dapat meringankan rasa sakit tapi tidak dapat menyembuhkan. Nona Shena harus selalu mengonsumsi obat untuk melanjutkan hidupnya.” Tan turut prihatin.


Tak tahu apa yang harus dilakukannya. Mendengar keadaan Shena begitu membuatnya terpukul. Ia bingung harus mengambil tindakan apa selanjutnya.


Haruskah aku menghubungi Nara? Haruskah aku memberi tahu Hana? Aku khawatir masalah akan semakin besar jika mereka mengetahui keadaan Shena yang sebenarnya. Lalu apa yang harus aku lakukan?


Ryuuto bertanya-tanya sendiri dalam hati. Ia dilanda kebimbangan saat ini.


“Baiklah, Tuan. Saya permisi dulu. Masih banyak urusan yang harus saya kerjakan. Saya sudah meminta bagian apotek untuk memberikannya obat terbaik. Semoga nona Shena lekas siuman.” Sang dokter menepuk pundak Ryuuto.

__ADS_1


“Terima kasih, Dok.”


Ryuuto pun mengantarkan sang dokter sampai ke depan pintu ruangan, tempat Shena dirawat. Terlihat kebimbangan melanda wajah tampannya. Iapun kembali masuk ke dalam ruangan setelah mengantarkan sang dokter.


__ADS_2