
Tokyo, sepuluh pagi waktu sekitarnya…
Shena dan Ryuuto sedang berjalan-jalan di tempat wisata. Kini keduanya duduk di kursi besi yang ada di dekat danau buatan. Sambil berteduh di bawah pohon yang rindang, keduanya berbincang mengenai hubungan masing-masing. Namun, Ryuuto masih menutupi kedekatannya dengan Hana. Sedang Shena…
“Aku sudah bertunangan dengan Nara, Ryuuto,” kata Shena yang sontak membuat Ryuuto teriris.
“Bertunangan? Tapi mengapa kau tidak mengundangku?” Ryuuto menutupi rasa sakitnya.
“Kami tidak membuat pesta besar, Ryuuto. Hanya sekedarnya saja.” Shena tersenyum, merasa malu sendiri.
Ryuuto pun ikut tersenyum. Sebisa mungkin ia tunjukkan kebahagiaan mendengar kabar ini.
“Selamat ya, Shena. Akhirnya dia mengikatmu dengan kepastian.” Ryuuto tersenyum palsu di hadapan Shena.
Shena pun menoleh ke arah Ryuuto yang duduk di sisi kanannya, jarak mereka sedikit berjauhan. Tapi walaupun begitu, Shena bisa merasakan jika sebenarnya Ryuuto bersedih. Ia kemudian mendekatkan diri kepada Ryuuto. Sontak Ryuuto terkejut, ia segera bangun untuk menghindari Shena.
__ADS_1
Ryuuto ….
Seketika Shena menyadari sesuatu, jika Ryuuto tidak ingin menyentuhnya. Ia pun menggigit bibirnya sendiri, merasa bersalah karena tidak dapat membalas perasaan Ryuuto.
Entah mengapa aku merasa waktuku semakin dekat saja. Perasaan apa ini? Aku belum sempat membalas kebaikan setiap orang padaku.
Shena merasa jika waktunya tidak akan lama lagi.
Ya Tuhan, izinkan aku membalas kebaikan Ryuuto. Selama ini dia telah berlaku baik padaku. Aku tidak ingin pergi dengan meninggalkan penyesalan.
Ryuuto menjauh dari Shena karena tidak ingin mengganggu status hubungan Shena dengan Nara. Walaupun sebenarnya ia ingin sekali berdekatan dengan gadis yang telah dikejarnya satu tahun belakang ini. Tapi nyatanya, ia tidak bisa menggapainya.
Ryuuto berdiri di depan Shena, membelakangi sambil memandangi angsa di danau. Kedua tangannya pun dimasukkan ke dalam saku celana. Ia ingin menghirup udara segar setelah kepenatan pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Tapi, sesuatu kemudian mengejutkannya.
Shena ….
__ADS_1
Ryuuto terkejut saat Shena memeluknya dari belakang. Gadis itu melingkarkan kedua tangan di perutnya. Shena juga merebahkan kepalanya di punggung Ryuuto. Seketika Ryuuto terdiam, merasakan kehangatan yang selama ini ia impikan. Gadis yang dikejarnya kini memeluknya.
“Maafkan aku, Ryuuto …,” Shena pun bicara. “Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat ini. Tapi, aku berterima kasih atas segala kebaikanmu. Terima kasih telah menjaga bunga mawar itu. Terima kasih telah menyelamatkanku, membawaku ke rumah sakit. Jika tidak ada dirimu, mungkin saat ini aku sudah tiada.” Shena mengucapkannya dengan tulus.
“Shena ….”
“Aku tahu selama ini kau telah berjuang. Tapi … maafkan aku yang tidak bisa membalas perasaanmu. Semoga di kehidupan lain kita bisa bertemu,” tutur Shena lagi.
Ryuuto segera melepaskan pelukan Shena, ia berbalik menghadap gadis itu. “Shena, tolong jangan berkata seperti itu.” Ryuuto akhirnya memegang kedua lengan Shena sambil menatapnya erat.
“Ryuuto … aku merasa waktuku tidak akan lama lagi. Aku tidak ingin meninggalkan beban saat pergi nanti. Relakan aku, ya. Berbahagialah bersama gadis yang kau cintai.” Shena tersenyum.
Jantung Ryuuto seperti berhenti.
“Shena, kau tahu sendiri jika aku hanya menyukaimu. Tidak mudah melupakan semua kenangan yang sudah tercipta. Dan kini kau berkata seolah-olah ingin pergi jauh. Shena, apa yang harus kulakukan agar dapat menahan kepergianmu?” Mata Ryuuto berkaca-kaca, menahan air matanya.
__ADS_1
Shena tidak menjawab, ia malah memeluk Ryuuto. Seketika itu juga jantung Ryuuto seperti berhenti. Ia tidak mengerti mengapa hatinya bisa merasa sakit saat ini. Tangannya pun perlahan membalas pelukan Shena. Keduanya menikmati semilir angin danau yang berembus, membiarkan alam menyatukan perasaan di hati.