
"Sudah pergi sana!" seru Cherry kepada Sai. Cherry berjalan cepat, tidak ingin diikuti oleh Sai.
"Tidak, Cher. Jika kau marah, siapa nanti yang akan mentraktirku makan siang?" canda Sai kepada Cherry.
"Haaah, kau ini!"
Cherry menghentikan langkah kakinya, menoleh ke arah Sai yang masih mengejarnya. Sai pun berhenti.
"Kau tahu, kau adalah sosok lelaki yang tidak bermodal sekali. Baru kali ini aku menemui lelaki sepertimu!" cetus Cherry kepada Sai.
"Ahahahahaha."
Mendengarnya, Sai tertawa sambil memegang kepala. Kata-kata itu seperti pukulan keras baginya. Namun, tak ada dendam di hati. Sai sudah memaklumi bagaimana sifat Cherry yang sebenarnya.
Mereka kemudian kembali menemui Ken dan Hima yang sudah menunggu. Sementara Nara dan Shena ikut menyusul.
Malam harinya...
Suasana begitu sepi di apartemen Shimura. Entah mengapa Rie terlihat ketakutan malam ini. Ia mendengar Nana tewas tertabrak mini sedan dengan luka tusukan di tangan kanannya. Terlebih nomor Via tidak dapat dihubungi beberapa hari terakhir.
__ADS_1
Dalam balutan kemeja putihnya, ia tampak mondar-mandir di dalam apartemen Shimura. Ia gelisah dan juga dirundung kecemasan.
"Mengapa aku seperti ini?"
Jantungnya berdegup kencang. Langkah kakinya terasa begitu berat. Bulu kuduknya juga tiba-tiba merinding. Kini ia tidak lagi mempunyai seorang teman yang bisa diajak bekerja sama. Entah mengapa, malam ini sangat sulit dilaluinya.
"Astaga!"
Tiba-tiba bel apartemennya berbunyi, mengagetkannya yang tengah terhanyut dalam kecemasan. Dan hampir saja jantungnya berhenti berdetak karena terkejut.
"Siapa?"
"Tidak ada siapa-siapa?"
Rie heran saat melihat ke arah luar tidak ada satu orang pun di sana. Ia kemudian menelepon bagian resepsionis untuk memastikannya. Tapi karena keadaan sudah tengah malam, tidak ada yang menjawabnya. Apartemen tersebut terasa begitu sepi dan juga mencekam.
"Aku keluar tidak, ya?" tanyanya sendiri.
Rie ingin keluar dan melihat siapa gerangan yang menekan bel apartemen. Tapi, ia juga ragu-ragu untuk melakukannya.
__ADS_1
"Aku telepon Shimura saja." Rie bergegas menelepon Shimura.
Perbedaan waktu tidak menjadi halangan bagi mereka untuk berkomunikasi. Telepon itupun segera diangkat oleh Shimura, ayah dari Nara.
"Halo?" sahut suara dari seberang.
"Sayang, kapan kau akan kembali? Aku amat takut malam ini." Rie gemetaran.
Rie menelepon Shimura melalui ponselnya. Nada suaranya tersendat karena ketakutan. Shimura yang sedang tidur pun beranjak bangun lalu duduk di pinggir kasur. Ia mencoba fokus dengan pembicaraan Rie.
"Sabar, Sayang. Lusa aku akan kembali. Masih ada urusan yang harus segera kuselesaikan. Kau tidak perlu khawatir, apartemen itu aman. Security berjaga dua puluh empat jam penuh. Jadi kau tidak perlu takut," sahut Shimura dari telepon.
"Tap-tapi aku—" Rie berusaha menyanggahnya.
"Sudahlah. Jika kau ragu melakukan sesuatu, maka jangan diteruskan. Aku kembali tidur, ya? Sangat lelah hari ini." Shimura segera mengakhiri teleponnya.
Walaupun ia sudah mendengar suara Shimura, hati dan pikiran Rie masih saja ketakutan. Ia kemudian mencoba tidur dalam keheningan malam, mengunci semua pintu dan jendela apartemen.
"Baiklah, aku akan mencoba tidur."
__ADS_1
Rie mencoba untuk tidur, tapi sampai pukul lima pagi ia baru bisa memejamkan matanya. Firasat buruk tiba-tiba datang menghantui. Alam pun sudah memberikan tanda kepadanya. Ia gelisah dan merasa takut sendiri.