
Sore harinya...
Prosesi pemakaman Shena baru saja dilakukan. Para pelayat pun mulai meninggalkan pemakaman. Di sana, di batu nisan Shena terlihat seorang pemuda berkacama hitam. Ia terdiam sedari tadi sampai angin menerpa helaian rambutnya yang jatuh ke depan.
"Shena, kau begitu cepat meninggalkanku. Aku tidak mengerti mengapa hal ini harus terjadi." Ia berkata pelan.
"Nara, ikhlaskan Shena. Tuhan lebih tahu mana yang terbaik untuknya. Sekarang mari kita pulang." Ken mengajak Nara.
Satu per satu pelayat pergi dari pemakaman. Dan kini tinggal Nara dan Ken yang ada di sana. Sedang teman-teman lainnya sengaja membiarkan keduanya. Mereka yakin Ken bisa menenangkan hati Nara yang sedang kalut saat ini.
"Ken, kenapa nasib buruk selalu menimpaku?" Ia bertanya pelan kepada Ken.
"Nara, sudahlah. Kita kembali ke rumah. Tidak baik terlarut dalam kesedihan." Ken berusaha menenangkan.
"Ya, kau benar. Tapi hal ini tidak mudah untukku. Aku bahkan belum sempat menemuinya." Nara amat menyesal.
Ken menepuk pundak Nara. "Kita yang masih hidup, bukanlah karena berumur panjang. Melainkan karena Tuhan menunda kematian kita. Bangkitlah dari keterpurukan, Nara. Lupakan masa lalu dan berdamailah dengan diri sendiri. Itu lebih baik jika kau mengetahui."
__ADS_1
Sebagai seorang teman, Ken menginginkan yang terbaik untuk Nara. Tapi ia juga menyadari jika skenario Tuhan yang terbaik. Ken pun berusaha meredam kesedihan yang melanda temannya. Ia mengajak Nara untuk kembali ke rumah.
Shena, tenanglah di alam sana. Aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku.
Nara akhirnya menurut pada Ken. Ia bersama Ken keluar dari area pemakaman, masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Sai, menuju basecamp D'Justice yang tak lain adalah kediamannya sendiri.
Sesampainya di rumah...
Nara duduk termenung di sofa ruang tamunya. Ia masih ditemani Ken saat ini. Sedang yang lainnya pulang ke rumah masing-masing dan akan kembali esok pagi. Sang pemuda bermata biru pun melepas kaca mata hitamnya yang sedari tadi menutupi.
"Minumlah."
"Semua sudah digariskan. Mungkin ini yang terbaik untuk Shena. Kau harus merelakannya, Nara." Ken menepuk pundak Nara.
Nara masih terdiam, air matanya pun mulai menggenang. Rasa sesak menyelimuti dadanya tanpa permisi.
"Dokter bilang padaku penyakitnya sudah berada di stadium akhir. Hanya saja selama ini Shena tidak terlalu merasakannya. Dan akhirnya dia tumbang melawan penyakit itu." Ken menjelaskan baik-baik kepada Nara.
__ADS_1
"Ken, Shena sakit karenaku. Harusnya aku yang mengalaminya. Bukan dia." Nara menoleh ke arah Ken yang duduk di sampingnya.
"Nara, ini sudah menjadi pilihannya. Dia begitu mencintaimu sehingga mengorbankan dirinya sendiri. Jangan kau sesali, jadikan pelajaran ke depannya agar tidak mengulanginya kembali. Tak ada guna juga kau menyesalinya, semua sudah terlambat." Ken mencoba merubah cara berpikir temannya agar tidak terlarut dalam kesedihan.
"Kau benar, Ken. Semua sudah terlambat." Nara memegangi kepalanya.
"Sudah. Yang kita bisa hanya memperbaiki. Terus lanjutkan hidup. Jangan biarkan dirimu terpuruk. Ini sudah kehendak-NYA." Ken menepuk-nepuk pundak Nara, berusaha memberi semangat kepada temannya yang sedang dirundung kedukaan.
Ken mengerti bagaimana perasaan Nara saat ini, tapi ia juga tidak bisa selalu berada di sisi temannya. Ia mempunyai kesibukan sendiri di luar jam kerja D'Justice. Ken pun akhirnya bergegas kembali ke rumahnya, meninggalkan Nara sendiri di rumah.
"Ada urusan yang harus kuselesaikan dengan ayah. Aku akan kembali esok pagi. Tetaplah di rumah dan jangan macam-macam. Malam ini tenangkan dirimu dulu."
Ken berpesan sebelum meninggalkan halaman rumah Nara. Taksi sudah menunggunya.
Nara mengangguk.
"Kabari aku jika ada apa-apa. Jangan tampung sendiri semua masalahmu." Ken lalu masuk ke dalam taksi.
__ADS_1
Sang sahabat akhirnya pergi dari kediamannya. Malam ini pun ia harus sendirian di rumah. Sendiri dalam sunyi tanpa sang kekasih yang menemaninya. Ia amat berduka.