Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Tidur Siang


__ADS_3

Dini hari...


Nara masih tidak dapat tertidur. Ia duduk di depan meja belajarnya sambil mengangkat kedua kaki ke atas kursi. Tampak dirinya menikmati beberapa puntung rokok sebagai pelepas duka.


"Huuuuffft ...." Ia embuskan asap itu tinggi-tinggi ke atas lalu segera mematikan sisa puntung rokoknya.


Nara berjalan menuju jendela kamar lalu membukanya penuh. Bersandar di salah satu sisi jendela sambil memandangi lampu pemukiman warga. Mengusap kepala dari arah belakang ke depan seraya merasakan hawa dingin yang menyerang tubuhnya.


"Siapa pria itu, siapa dia? Kenapa dia bisa bersama Shena. Apa Shena sudah mempunyai penggantiku?" Ia terus bertanya, bertanya dengan rasa ingin tahu yang begitu besar terhadap status sang mantan yang selama ini dicari-cari.


"Apa yang harus aku lakukan agar dapat berbicara empat mata dengan Shena? Menjelaskan kesalahpahaman yang sudah terjadi. Tapi mungkinkah aku tidak menambah masalah lagi?" tanyanya dengan diri sendiri.


"Haaahhh, mengapa nasibku seperti ini?"


Ia menyesali semua yang telah terjadi, terjebak di antara dua hati, Rie dan juga Shena. Dalam perjuangannya untuk menjadi seorang musisi, ia harus berkelut dengan kisah asmara yang seperti ini.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus mencari tahu sendiri. Ya, besok aku akan menunggunya di stasiun, lalu akan mengikuti ke mana dia pergi. Hanya dengan cara itu aku bisa mengetahui di mana ia tinggal," gumamnya memperteguh hati.


Nara akhirnya memutuskan untuk menunggu kedatangan Shena di stasiun pada esok sore, selepas jam kuliahnya di kampus. Ia benar-benar bertekad untuk menemui Shena agar kesalahpahaman dapat segera terurai dengan baik.


Esok harinya, Senin pukul 12 siang waktu setempat…


Hari itu sangat terik, membuat Nara harus berteduh di bawah rindangnya pohon yang ada di kampusnya. Ia tampak tertidur di atas kursi panjang yang terbuat dari kayu, berada di bawah pohon yang rindang. Semilir angin terlihat menyapu setiap helai rambutnya yang menantang gravitasi. Ia benar-benar menikmati detik dan menit menunggu jam kuliah selanjutnya.


Dari jarak yang cukup jauh, seorang gadis berbando merah tampak sedang bertanya-tanya tentang keberadaannya. Dan tak lama, ia menemukan sasarannya yang tak lain adalah Nara sendiri.


"Nara!" seru Cherry membangunkan, sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Na-ra!" teriaknya lagi dengan mengeja nama pemuda bermata biru itu.


"Ih, benar-benar kalau sudah tidur, gempa pun dia tidak akan merasakannya!" Cherry tampak kesal.

__ADS_1


Nara tidur menggunakan tas punggungnya sebagai alas kepala. Tapi karena kesal, Cherry menarik tangan Nara sampai terjatuh ke atas rerumputan.


"Rasakan ini!" Nara pun terjatuh ke atas rerumputan Jepang.


"Hoooammm." Bukannya menjerit, Nara malah menggeliat, melepaskan ketegangan ototnya saat tertidur.


"Dasar bodoh!" Cherry duduk di kursi yang Nara tiduri tadi.


Mendengar suara Cherry, Nara lekas-lekas membuka matanya. "Cher-cherry, kau ada di sini?" tanya Nara tak percaya.


"Aku sudah dari tadi di sini, Nara!" ketus Cherry.


"Oh, begitu." Nara menggaruk-garuk kepalanya lalu menyadari jika dirinya telah terjatuh.


"Astaga! Apa yang terjadi denganku, kenapa aku tertidur di atas rumput?" tanyanya, saat melihat dirinya tengah duduk di atas rumput, di depan kursi yang tadi ia tiduri.

__ADS_1


"Kau ini, aku mencarimu, tahu. Ini!" Cherry segera menyerahkan sehelai formulir kepada Nara dan Nara pun mengambilnya.


__ADS_2