
Beberapa saat kemudian, di kantor Kepolisian Tokyo...
Ken memarkirkan mobilnya lalu bergegas turun bersama Cherry. Ia kemudian berjalan menuju pintu masuk kantor tempat ayahnya bekerja. Sebagai anak kepala polisi, harusnya Ken mendapat perlakuan istimewa dari bawahan ayahnya. Tapi ternyata hal itu tidak berlaku di sini. Ken tetap harus melalui prosedur agar bisa masuk ke dalam kantor ayahnya.
"Cherry, apakah sudah mendapatkan balasan dari Sai dan manajer Hata?" tanya Ken kepada Cherry saat menunggu pengecekan kartu identitas di pos depan kantor.
"Mereka baru bisa datang pukul sepuluh. Manajer Hata juga sedang punya kesibukan lain." Cherry menerangkan.
Ken melihat jam di tangannya dan baru menunjukkan pukul delapan pagi. Itu berarti ia harus menunggu dua jam lagi.
"Baiklah. Kau bisa menungguku sebentar? Aku ingin menemui ayah di dalam," kata Ken lagi.
"He-em." Cherry pun mengangguk.
Setelah mendapat izin, Ken segera masuk ke dalam kantor kepolisian bersama Cherry. Ia bergegas menuju ke ruangan ayahnya, sedang Cherry menunggu di lobi kantor. Ia juga menelepon ayahnya agar segera diizinkan masuk ke ruangan.
"Ayah, aku di depan."
__ADS_1
Ken menelepon ayahnya. Tak lama telepon pun terputus dan Zain segera keluar dari ruangan.
"Ken?"
"Ayah, ada yang ingin aku bicarakan." Ken meminta.
Zain mengangguk, ia lalu mempersilakan anaknya masuk ke dalam ruangan. Ken pun duduk di depan meja kerja ayahnya, sedang Zain menyusul.
Di meja kerja ayahnya terdapat komputer yang tersambung langsung dengan Departemen Pertahanan Jepang. Ken pun tampak memperhatikan keadaan sekeliling ruangan ayahnya. Ia melihat banyak piala dan piagam yang terpajang di dalam.
"Pagi-pagi kau sudah ke sini. Ayah juga belum lama sampai." Zain memulai pembicaraannya.
"Ya, ayah sudah tahu. Dan kau tahu apa yang terjadi, Ken?" tanya ayahnya ke Ken.
Ken menggelengkan kepala.
"Tuan Hisei, ayah dari Yudo itu ternyata mengetahui jika ayah adalah ayahmu, teman dari Nara. Sehingga dia meminta atasan ayah langsung yang menyelesaikan masalah ini." Zain menceritakan kepada anaknya.
__ADS_1
"Astaga. Jadi?"
"Ya, ayah hanya bisa menunggu kabar tentang Nara." Sang ayah menuturkan.
"Jadi sekarang Nara dibawa ke mana, Yah?" Ken bertambah khawatir, raut wajahnya amat cemas.
"Dia sedang diinterogasi oleh atasan ayah," jawab Zain segera.
"Lalu, apakah dia akan baik-baik saja?" tanya Ken lagi.
"Kau tidak perlu khawatir. Kita bisa melihat apa yang terjadi di ruang interogasi dari sini."
Zain memutar layar komputernya ke arah Ken. Ia mengetik sesuatu lalu tak lama munculah Nara yang sedang ditanyai oleh atasannya. Ken pun akhirnya bisa melihat apa yang terjadi di dalam ruang interogasi.
Nara, aku tidak bisa menceritakan padamu karena khawatir kau akan down. Maafkan aku, Kawan. Tapi aku berjanji akan mendampingimu sampai masalah ini selesai.
Ken amat mencemaskan keadaan Nara yang sedang diinterogasi oleh pihak kepolisian. Ia khawatir Nara akan semakin terpuruk dengan gugatan yang diajukan oleh ayah Yudo. Terlebih Nara baru saja kehilangan Shena, tentunya hal itu akan membuatnya frustrasi.
__ADS_1
Lain Ken lain juga dengan sang manajer D'Justice. Hata sedang duduk bersama owner Sony Music di ruang kerjanya. Namun, ada seorang pria paruh baya di sana. Pria itu duduk santai sambil menghisap cerutunya. Ia begitu berani walaupun di ruang ber-AC sekalipun. Sampai-sampai Michael, sang owner harus mematikan AC-nya segera.