Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Peran Orang Terdekat


__ADS_3

Satu jam kemudian...


Ken mencoba bernegosiasi dengan ayahnya perihal Nara. Sang ayah pun tidak dapat membantu apapun untuk membebaskan Nara dari sel tahanan karena atasannya sendiri yang sudah memutuskan.


"Ayah, apa tidak ada cara lain? Nara tidak bersalah, Yah. Ini semua salah Yudo." Ken membela sahabatnya.


"Ya, ayah tahu. Tapi ada baiknya kau biarkan Nara di sana dulu."


"Maksud Ayah?"


"Kita tidak tahu apa yang terjadi antara Hisei dan atasan ayah. Ayah curiga jika Hisei telah melakukan sesuatu sehingga atasan ayah mau turun tangan menyelesaikan masalah ini."


"Jadi?"


"Ayah akan mencari tahu alasannya. Kau tetap tenang. Dan untuk sementara, cari pengganti Nara terlebih dahulu." Zain memaparkan.


"Tapi, Yah. Tidak mudah mendapatkan gitaris seperti Nara." Ken mengeluhkan.


"Ken, carilah dari sekarang gitaris untuk band-mu. Jika tidak, kalian akan kelabakan saat tiba-tiba dimintai manggung. Biarkan gitaris barumu belajar teknik-teknik seperti yang Nara lakukan. Ini hanya sementara, tidak lama. Ayah akan mengusahakan agar Nara bisa cepat keluar dari sel tahanan." Janji Zain kepada putranya.

__ADS_1


"Apakah Ayah punya rencana?" tanya Ken lagi.


"Kau tenang saja. Jika kita menemukan sesuatu yang bisa memberatkan Yudo, maka Nara bisa bebas dari sel tahanan. Bersabarlah dan banyak berdoa." Zain menepuk pundak putranya.


"Baik, aku berharap besar pada Ayah. Terima kasih."


Ken akhirnya undur diri dari hadapan ayahnya. Ia mau tak mau menuruti perkataan sang ayah. Ia mempercayakan hal ini kepada ayahnya.


"Jaga dirimu baik-baik. Dan jaga impianmu." Zain menyemangati putranya.


"He-em." Ken pun mengangguk.


Ken bergegas keluar dari ruangan ayahnya. Ia segera menemui Cherry yang sedang menunggu di lobi kantor. Tak lama Sai dan Hima pun datang. Mereka segera membicarakan hal ini di luar kantor kepolisian.


Shina, ibu dari Nara ini tampak heran dengan keadaan rumah anaknya yang kosong. Sedari tadi tidak ada yang membukakan pintu untuknya. Ia sudah berulang kali mengetuk pintu dan memanggil anaknya. Tapi sang anak tidak kunjung datang untuk membukakan pintu.


"Mungkin kutelepon saja."


Shina kemudian mengeluarkan ponsel dari tasnya. Ia berniat menelepon sang putra. Tapi, panggilan telepon itu terputus sendiri, seperti sengaja dimatikan. Alhasil, Shina pun mencemaskan keadaan Nara.

__ADS_1


"Di mana dia? Rumah sepi dan telepon sengaja dimatikan?" Shina memikirkan anaknya.


Sebagai seorang ibu tentunya Shina memiliki perasaan yang kuat akan hal yang sedang terjadi pada putranya. Firasat buruk pun tiba-tiba menghantui, yang mana ia mencoba menelepon seluruh orang terdekat anaknya. Ia menunggu kabar sambil duduk di teras depan rumah Nara.


"Astaga, apa yang terjadi pada putraku? Tumben dia tidak menjawab telpon ibunya sendiri." Shina makin cemas.


Di antara kecemasannya, tak lama dering ponsel Shina berbunyi. Ia pun segera mengangkat telepon itu.


"Halo?" Shina menjawabnya.


"Shina, ini Zain. Putramu sedang ditahan pihak Kepolisian Tokyo. Untuk sementara dia tidak dapat menerima panggilan telepon." Ternyata Zain, ayah Ken lah yang menelepon.


"Apa?!" Seketika Shina pun terkejut.


"Kau bisa datang kemari untuk melihatnya," kata Zain lagi.


"Baik, aku segera ke sana."


Shina pun memutuskan sambungan teleponnya lalu segera pergi menuju kantor Kepolisian Tokyo. Ia menaiki taksi agar cepat sampai. Ia ingin menemui putranya dan mengetahui duduk permasalahan yang terjadi.

__ADS_1


Nara, tunggu ibu. Ibu akan datang.


Shina pun segera menaiki taksi lalu menuju kantor Kepolisian Tokyo. Ia berharap bisa membantu anaknya dalam menghadapi masalah.


__ADS_2