
"Hem, baiklah. Aku ingin beristirahat, Kana. Terima kasih atas pujianmu," ucap Rie kepada Kana.
Rie segera menutup pembicaraannya. Ia tampak kurang bergairah untuk berbicara dengan siapapun saat ini.
"Baiklah. Aku ke sana dulu, ya?"
Kana menunjuk ke belakang, ke dekat area panggung. Rie pun mengiyakan, dan tak lama Kana pergi meninggalkannya.
Selepas Kana pergi, Rie kemudian masuk ke dalam pondok yang telah disewakan untuknya. Ia menaiki anak tangga menuju sebuah kamar yang ada di lantai dua. Tapi, ia tidak masuk ke dalam kamar, melainkan menuju teras pondok ini. Ia berdiri, memegang pagar teras sambil memandangi gemuruh ombak yang terlihat masih gelap.
"Nara …."
Sebuah nama ia ucapkan. Perasaan gelisah itu pun mulai mengganggu dirinya. Karena kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan harapannya. Awal mula ia hanya ingin membalas dendam kepada Shena dengan merebut Nara darinya. Tapi sekarang benar-benar berbeda.
Ternyata Rie benar-benar jatuh cinta kepada Nara, seorang pemuda yang selama ini telah dimanfaatkan olehnya. Pemuda dengan bola mata berwarna biru dan bertubuh tinggi, mirip seperti orang-orang Eropa pada umumnya. Kenangan bersama Nara pun teringat jelas di benaknya.
__ADS_1
Di sebuah vila, beberapa bulan yang lalu...
Nara menebar bunga mawar di atas lantai kamar. Lilin-lilin merah pun ia susun rapi membentuk hati. Hal itu sengaja ia lakukan sebagai ungkapan rasa sayangnya kepada Rie.
Setelah menyalakan semua lilin dan menebar bunga, Nara mengajak Rie masuk ke dalam kamar dengan mata yang tertutup. Kala itu Rie hanya mengenakan kemeja lengan panjangnya yang berwarna putih. Sedang Nara hanya mengenakan jeans saja.
"Sekarang, aku akan membuka penutup matamu, Sayang," ucapnya saat berada di belakang tubuh Rie.
Rie pun mengangguk, ia tidak sabar dengan kejutan apalagi yang akan Nara berikan padanya. Tak lama, penutup mata itupun dibuka oleh Nara...
Kedua bola mata Rie terfokus pada cahaya lilin yang ada di lantai kamar. Terlihat jelas jika lilin-liin itu menandakan ungkapkan cinta Nara kepadanya.
"Ai shi teru, Rie." Nara kemudian mendekap Rie dari belakang dan melingkarkan kedua tangannya di perut Rie.
"Nara ...,"
__ADS_1
Rie berbalik menghadap ke Nara. Kemudian memegangi wajah pemuda bermata biru itu dengan penuh rasa haru. Kejutan yang Nara berikan begitu menyentuh hatinya, hingga membuatnya tidak mampu berkata-kata.
"Aku ... aku …." Tampak Rie yang meneteskan air matanya karena rasa haru menyelimuti.
Nara kemudian menarik tubuh Rie agar lebih dekat dengannya. Perlahan-lahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Rie. Bibir lembut itu kemudian menciumi permukaan bibir Rie yang halus, seakan memberi kode untuk mengajak beradu. Dan Rie membalasnya, tanpa perlu menunggu lama.
Usapan, sapuan, tekanan kecil yang saling mereka berikan, memunculkan sensasi yang luar biasa pada seluruh saraf tubuh. Pemuda bermata biru itu pun perlahan membuka mulut Rie dengan cumbuannya yang lembut. Dan akhirnya, kedua saliva mereka saling bertemu.
"Mmmmhh..."
Mereka bercumbu dan saling bertukar saliva. Menikmati setiap inchi dari manisnya saliva yang terhubung.
"Sayang ...."
Nara memperlakukan Rie dengan amat lembut sambil melepas satu per satu kancing kemeja yang Rie kenakan. Mereka terus bercumbu sambil menjatuhkan pakaian ke atas lantai. Pemuda bermata biru itu pun kemudian menggendong mesra tubuh kekasihnya ke atas ranjang cinta mereka. Melampiaskan hasrat yang sedang berkobar dan menggebu.
__ADS_1