
Beberapa saat kemudian...
Setelah jam kuliah berakhir, Shena dan pria berkemeja krim itu berada di dalam kelas yang sepi. Hanya ada keduanya, tidak ada orang lain. Pria itu lalu mendekati Shena yang masih memasukkan alat tulisnya ke dalam tas.
"Shena." Dosen Shena, Yamada berjalan mendekat ke arah mahasiswinya lalu mulai menarik tubuh gadis itu. "Shena, mengapa kau tidak pernah menggubris perasaan ini?"
Yamada terlihat memegangi kedua tangan Shena agar gadis itu tidak dapat berontak. Shena pun segera berusaha melepaskan diri dari Yamada yang sedang berbicara kepadanya.
"Dosen Yamada, tolong lepaskan aku," pinta Shena kepada Yamada.
"Shena, dengarkan aku. Aku ingin menjadikanmu istriku. Percayalah dengan kesungguhanku ini." Yamada menuturkan.
"Dosen Yamada, jika pembicaraan mengenai festival itu hanya sebuah alibi. Tolong lepaskan aku. Aku tidak dapat menerima permintaanmu."
Shena bersikeras melepas kedua tangannya dari cengkraman Yamada. Dan karena mendapat respon tidak sesuai dengan keinginannya, Yamada kesal dan malah ingin mencium bibir Shena.
"Dosen Yamada, lepaskan!" Shena berontak dan menolak untuk dicium oleh Yamada.
__ADS_1
"Shena, aku sudah menunggu terlalu lama."
Yamada tidak menggubrisnya, keinginannya untuk memiliki Shena begitu kuat. Ia tidak ingin melewatkan momen bersama Shena saat ini.
"Shena? Dosen Yamada?"
Tiba-tiba saja pintu kelas dibuka dari luar. Seseorang kemudian melihat perkara yang sedang terjadi. Ia pun tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Shena, temannya sedang berusaha dicumbu dosen seni kampus ini.
"Hentikan!"
Ia berteriak lalu menyadarkan keduanya. Yamada pun menoleh—melihat siapa gerangan yang datang, padahal sebelumnya kelas itu sudah terkondisikan olehnya.
"Dosen Yamada, kau benar-benar keterlaluan!"
Mahasiswi bernama Asia itu marah kepada Yamada, sementara Shena terlihat meneteskan air matanya. Ia menangis lalu segera pergi dari tempat itu. Yamada pun menutupi wajahnya karena malu.
"Shena!" Mahasiswi bernama Asia itu kemudian mengikuti ke mana Shena pergi, sambil membawa tas dan beberapa buku yang didekap di dada.
__ADS_1
"Shena!" Ia terus mengejar Shena yang sedang mengusap air matanya.
Shena, dia benar-benar keterlaluan padamu.
Asia terus saja mengejar Shena hingga keluar dari gerbang kampus. Sedang Shena sendiri tidak menghiraukan panggilannya. Mantan kekasih Nara ini tampak terluka akibat ulah Yamada, dosennya sendiri.
Di taman dekat kampus...
Beberapa menit kemudian keduanya tiba di sebuah taman. Shena pun akhirnya duduk di atas sebuah kursi kayu panjang yang ada di taman tersebut. Asia pun mengikuti.
"Shena, maafkan aku. Aku tidak tahu jika sesuatu telah terjadi di antara kalian."
Mahasiswi berwajah imut itu mencoba berbicara kepada Shena. Ia turut prihatin atas apa yang terjadi pada temannya. Shena pun mengambil napas panjang, berusaha tegar menghadapi peristiwa ini. Ia juga masih berdiam diri dan tidak menggubris perkataan Asia.
"Apakah hal ini harus aku adukan kepada rektor kampus, Shena?" tanya sosok bersurai hitam panjang.
"Tidak, tidak perlu," jawab Shena berusaha menetralkan diri.
__ADS_1
"Tapi, Shena. Hal yang dilakukan dosen Yamada sudah melanggar hukum. Kita tidak bisa berdiam diri. Sebagai wanita, kita harus menjunjung tinggi kehormatan. Aku tidak ingin dosen Yamada berbuat seperti itu lagi kepadamu." Gadis itu memberikan saran kepada Shena.
Shena menoleh ke Asia, teman kampusnya. "Tidak, Asia. Mungkin aku saja yang mengajukan cuti beberapa minggu untuk menenangkan diri," sahut Shena seraya tertunduk sedih, ia merenungi nasibnya.