
Beberapa hari kemudian...
Nara baru saja menyelesaikan satu single perdana D'Justice. Dan kini ia diminta membuat lagu ke dua untuk mengisi daftar mini albumnya. Namun, hari ini Nara memutuskan untuk menemui Shena, menyelesaikan masalah yang sempat tertunda.
Tepat pukul dua siang, ia memasuki halaman kampus Shena dengan mengendarai motor matic kenamaan Jepang. Tapi sayang, seseorang mencegahnya masuk.
"Tunggu!"
Bahu kiri Nara ditahan oleh seseorang. Langkah kaki Nara pun terhenti saat menyadari dihadang seorang pemuda beralmamater hitam. Sedang Nara sendiri mengenakan almamater berwarna biru.
"Ada urusan apa kau kemari dan apa tujuanmu?" tanya pemuda tersebut.
Nara menghempaskan tangan pemuda yang menghadangnya. Ia kemudian berkata, "Apa urusan aku datang kemari, itu bukan urusanmu. Lebih baik urusi urusanmu sendiri."
Nara segera berlalu pergi dari hadapan si pemuda yang menghadangnya masuk. Pemuda itupun tampak kesal, ia ingin mengajak Nara berkelahi di halaman parkir kampus. Namun, tertahan oleh teriakan seorang gadis imut.
"Shinji!"
__ADS_1
Gadis itu adalah Asia. Ia segera mendekati pemuda yang menghadang Nara, tak lain adalah Shinji.
Rupanya pemuda itu terlalu berani datang ke kampus ini sendirian. Shinji memperhatikan Nara dari jauh.
Shinji memendam kesal atas kedatangan Nara ke kampusnya. Maklum saja, Shinji adalah senior terpandang di kampusnya itu. Sehingga siapapun orang luar yang datang, harus meminta izin terlebih dahulu kepadanya.
"Shinji, mari kita pulang," ajak Asia kepada Shinji seraya tersenyum.
Seketika Shinji melupakan rasa kesalnya saat mendengar ajakan Asia. Ia lalu segera pulang bersama gadisnya. Ya, Shinji adalah kekasih Asia. Usianya terpaut sama, hanya berbeda beberapa bulan saja. Tubuh Shinji pun bisa dibilang lebih kurus dari Nara. Namun, tinggi badan keduanya tidak terpaut jauh. Hanya berbeda beberapa senti saja.
Nara terus menyusuri koridor kampus seorang diri. Ia kemudian sampai juga di ruang tamu kampus. Di sana, ia segera mengisi buku tamu dan menuliskan tujuannya ingin bertemu siapa.
Tak lama ia diarahkan menuju ke sebuah ruangan seperti ruang presentasi. Selang sepuluh menit kemudian, ia akhirnya dapat bertemu dengan Shena di dalam ruangan itu. Mereka tampak kaku dan begitu gugup setelah lama tidak bertemu.
"Shena," sapa Nara pelan, kepada Shena yang duduk beda dua kursi darinya.
Nara tampak gugup, ia mencoba menoleh ke arah Shena yang terdiam sambil menyandarkan punggung pada kursi. "Kedatanganku ke sini, aku ingin—"
__ADS_1
Perkataannya terputus, seolah lidahnya berkeluh untuk melanjutkan ucapannya. Sementara Shena, menatap lurus ke depan papan tulis yang berwarna putih.
"Aku ... aku ingin ...," Nara kembali menoleh ke arah Shena yang masih berdiam diri.
"Aku minta maaf, Shena. Aku minta maaf atas kejadian malam itu. Aku ... aku—" Nara terbata.
"Khilaf maksudmu?" Tiba-tiba saja Shena menyela perkataannya.
"Shena?!" Nara terkejut, akhirnya Shena mau membuka mulut untuk berbicara kepadanya. "Shena, aku tahu aku salah. Tapi tolong jangan berpikiran negatif tentangku," ungkap Nara kepada dara bersurai hitam panjang terkuncir satu ini.
Shena lalu beranjak dari kursinya.
"Shena."
"Nara, apa selama ini kau hanya menginginkan tubuhku? Apa semua lelaki sepertimu? Yang habis manis sepah dibuang bahkan ditendang dan dilempar jauh-jauh?!" Shena bertanya dengan lugas kepada Nara.
Nara tidak bisa berdiam diri atas pertanyaan yang Shena lontarkan. Ia kemudian berdiri lalu mendekat ke arah Shena. Ia ingin menjelaskan semuanya.
__ADS_1