
Beberapa hari kemudian...
Hari terus berganti, kampus pun terasa begitu sepi. Sepi karena para mahasiswa sedang fokus menyelesaikan ujian akhir semester dengan baik. Wajah-wajah serius nan bertekuk pun tak dapat dihindari, begitu juga dengan Nara.
Hari itu di mana ujian terakhir bagi mereka. Tinggal menunggu hasilnya saja atas ujian yang sudah dilalui. Selama satu minggu penuh Nara dan kawan-kawan berpikir keras untuk menaklukkan beberapa mata kuliah.
"Haahh..." Sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku jeans birunya, Nara berjalan ke arah parkiran kampus.
"Nona Rose?!"
Ia terkejut saat melihat seorang wanita berpakaian jumpsuit hitam sedang menunggu kedatangannya. Wanita cantik itu berdiri di depan pintu mobil.
"Nara!"
Wanita yang memang benar adalah Rose itu melambaikan tangannya ke arah Nara. Nara pun segera berjalan mendekatinya.
"Nona Rose, apa aku membuat kesalahan hingga membuatmu sampai di sini?" tanya Nara yang terkejut atas kedatangan Rose di kampusnya.
"Em ...." Rose tampak malu-malu. "Ini, Nara." Ia terbata di hadapan sang pemuda bermata biru.
"Nona Rose?" sapa Nara lagi.
"Aku diminta untuk menjemputmu karena Cherry dan lainnya masih ada mata kuliah yang harus diujikan. Jadi kau akan mewakili mereka untuk datang ke kantor, menemui produser yang akan mengontrak kalian."
__ADS_1
Entah mengapa, Rose menjadi gugup mengatakannya.
"Hm ...?" Nara tampak bingung. Mengapa dia harus repot-repot menjemputku? Bukankah dia bisa menelepon atau mengirim pesan? tanya Nara sendiri.
"Em, baiklah, Nona Rose. Aku bersedia. Lagipula ujian mata kuliahku sudah berakhir. Jadi kita bisa pergi bersama." Nara menyetujui.
Rose tampak senang karena Nara tidak banyak bertanya kepadanya. Dan akhirnya keduanya masuk ke dalam mobil.
...
Sepanjang perjalanan, Rose tidak henti-hentinya melirik Nara dari ujung kedua ekor matanya. Sambil tetap menyetir, ia terus memperhatikan pemuda bermata biru ini.
Aku akan belajar. Ya, belajar.
Sesampainya di kantor Sony Music Entertainment Jepang...
Keduanya berjalan bersama melewati lobi kantor lalu melangkahkan kaki menuju ruang pertemuan. Tetapi sebelum sampai, terlihat seorang gadis berambut pirang memakai kaus hitam dengan rok mini berbahan jeans biru, sedang menyilangkan kedua tangannya di depan sebuah ruangan. Ia tampak kesal menunggu seseorang.
Terlihat di sana ada dua pengawal berjas hitam, lengkap kacamatanya. Kedua pengawal itu tampak menahan sang gadis yang ingin masuk ke dalam ruangan.
Nara terus saja berjalan dan semakin mendekat ke arah gadis itu. Gadis itu pun melihat Nara yang berjalan melewati dirinya, bersama dengan seorang wanita yang ia tahu benar siapa itu. Rose kemudian melemparkan senyumannya kepada sang gadis, tapi perhatian gadis itu hanya tertuju pada Nara.
"Nara!" teriak gadis itu sambil berjalan cepat ke arah Nara.
__ADS_1
Merasa dipanggil Nara pun menoleh.
"Nara."
Gadis itu tanpa malu mencium pipi Nara di hadapan Rose. Rose sendiri tidak dapat berbuat apa-apa.
"Nara, kita bertemu lagi. Aku rindu sekali."
Gadis itu memeluk-meluk Nara, manja sekali. Nara sendiri jadi bingung sejadi-jadinya.
"Kau tidak ingat akan diriku, Nara?"
Gadis itu bertanya, sedangkan Rose hanya dapat terdiam dan menunduk sedih. Ada perasaan perih yang entah datang dari mana saat melihat gadis itu mencium dan memeluk Nara sesuka hati di hadapannya.
Perasaan apa ini? Kenapa hatiku terasa sakit?
Rose belum menyadari apa yang terjadi padanya. Ia belum pernah menjalin suatu hubungan dengan siapapun. Sehingga ia belum dapat merasakan bagaimana asam garamnya cinta.
Rose terlalu sibuk dengan karirnya. Sepanjang waktu hanya dipenuhi dengan pekerjaan. Namun, semenjak berdekatan dengan Nara, ia merasakan sesuatu yang tak biasa, terjadi pada hatinya.
"Em, maaf. Apa aku mengenalmu?"
Nara tampak lupa dengan sang gadis. Sedang gadis itu begitu yakin jika Nara mengenalinya.
__ADS_1