Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Gundah


__ADS_3

"Hana." Shena menundukkan kepalanya di atas meja.


"Ya, Shena," sahut Hana menanggapi.


Hana mengenakan seragam pelayan bewarna hitam, berenda putih setinggi lutut. Tak lupa bando putih juga menghiasi kepalanya, membuat ia terlihat sangat cantik. Ditambah sepasang sepatu pantofel hitam menambah keanggunan dirinya. Apalagi sikap Hana yang ramah, membuat pengunjung betah berlama-lama di kedai milik Shena ini.


"Apa kau tahu tanda seorang pria yang benar-benar mencintai wanitanya, Hana?" Shena bertanya kepada sepupunya itu.


Tentu saja hal itu membuat pipi Hana merona seketika. Maklum saja, sejak lulus SMA Hana belum pernah menjalin kasih dengan siapapun karena ia sibuk membantu Shena mengurus kedai ini.


"Emmm, aku ... aku tidak mengerti hal-hal yang seperti itu, Shena. Baiknya kau tanyakan saja kepada paman. Mungkin dia lebih mengerti." Hana memberikan saran.

__ADS_1


Shena beranjak berdiri. Celana pensil biru dan blus hitam yang membalut tubuhnya, terlihat sangat cocok dipakainya saat ini. Ia pun menguncir rambutnya agar tidak terlalu gerah di saat cuaca sedang terik seperti ini.


"Huh! Daripada aku bertanya kepadanya, lebih baik aku menghitung keuntungan kedaiku." Shena keluar dari area dapur cepat saji.


"Hei, Shena! Semua nota sudah kuletakkan di atas meja kerjamu!" Hana sedikit berteriak.


"Ya, aku tahu."


Shena terus berjalan meninggalkan area pengunjung. Ia pergi menuju ruangan kerja yang berada di samping kedainya.


Luas kedai milik Shena berkisar sekitar 120 meter persegi yang mana sisanya adalah tempat kendaraan pengunjung diparkirkan. Kedai ini cukup besar sehingga bisa menampung banyak pengunjung yang datang. Apalagi di hari-hari libur yang mana pantai bisa begitu ramai.

__ADS_1


Hana sendiri merupakan sepupu Shena yang membantu menjalankan usaha kedai hingga berhasil sampai seperti sekarang. Hubungan simbiosis mutualisme terjalin baik di antara keduanya. Kepercayaan dan kejujuran adalah kunci utama dalam menjalankan bisnis ini.


Sepertinya suasana hatinya kurang baik saat ini. Hana menyadari apa yang sedang dirasakan oleh Shena.


Hana adalah seorang anak yatim-piatu. Ia dapat bertahan hidup karena membantu Shena menjalankan usahanya. Sedang Shena sendiri sangat terbantu karena Hana mengurus kedainya dengan sungguh-sungguh. Walaupun terkadang Shena melampiaskan rasa kesalnya itu, namun Hana selalu dapat mengayomi dan menganggap Shena seperti saudara kandungnya sendiri. Meskipun kenyataannya mereka dilahirkan dari ibu yang berbeda.


Hana sudah seperti kakak kandung bagi Shena. Postur tubuhnya pun tidak jauh berbeda, hanya berbeda beberapa senti saja di tinggi badannya.


"Hah, sepertinya aku harus beristirahat sejenak sebelum memulai pekerjaan ini."


Shena menuju belakang kedainya yang berhadapan langsung dengan pantai. Ia menyeduh secangkir kopi lalu melepaskan rasa penatnya. Kedamaian itupun dapat ia rasakan saat mendengar deburan ombak yang berkejaran. Shena mencoba menerima takdirnya.

__ADS_1


Nara, maaf aku harus pergi darimu.


Di dalam kesendiriannya, ia masih juga teringat akan Nara, mantan kekasihnya. Karena bagaimanapun seorang wanita tidak akan mudah untuk melupakan sesuatu, apalagi jika berkaitan dengan hati dan perasaannya. Begitu juga dengan Shena, ia masih teringat akan Nara yang dulu pernah menghiasi hari-harinya.


__ADS_2