
Di kantor Sony Music Entertainment Jepang...
Pemuda bermata biru itu berjalan masuk ke dalam ruang manajernya, Hata. Ia masuk sendiri setelah berpisah dengan Gabril. Gadis itu memutuskan untuk menunggu Nara di studio musik khusus D'Justice. Yang mana kini ketiga personil lainnya sedang mengadakan sesi latihan sementara.
Atmosfer sekitar terasa sangat berbeda hari ini. Nara pun mengetuk pintu ruangan tiga kali. Dan tak lama si empu ruangan mempersilakannya masuk.
"Nara." Sang manajer yang sedang mencari dokumen di lemari arsipnya menyapa sang gitaris.
"Manajer Hata, aku datang memenuhi panggilan Anda." Nara masih berdiri di dekat pintu.
"Kemarilah dan duduk di sini." Hata meminta Nara untuk duduk di depan meja kerjanya.
Nara kemudian duduk di depan meja kerja sang manajer. Ruangan seluas 4x5 meter itu terasa sempit baginya hari ini. Ia mencoba menahan sesak yang hampir saja muncul ke permukaan. Nara tahu persis apa yang akan dikatakan oleh manajernya itu.
__ADS_1
"Nara, ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan padamu." Hata mulai duduk berhadapan dengan Nara.
"Silakan, Manajer." Nara mempersilakan.
"Begini." Saat itu juga detak jantung Nara seperti mau pecah. "Kejadian kemarin ternyata menimbulkan masalah baru. Tadinya owner tidak mengetahui apa yang terjadi. Dan aku juga sebenarnya tidak peduli. Tapi, karena tuan Hisei datang langsung ke sini, semuanya berubah. Owner merasa terancam jika masih mempertahankanmu." Hata berhati-hati mengatakannya karena khawatir Nara salah paham.
"Saya mengerti, Manajer." Nara seperti tidak ingin mempersulit.
"Hah ...." Hata mengembuskan napasnya. "Sejujurnya aku keberatan dengan keputusan pihak manajemen. Tapi aku juga bekerja di sini. Kau pasti bisa mengerti bagaimana posisiku, Nara." Hata menuturkan kembali.
"Kau berniat bersolo karir di label lain?" tanya Hata seraya menggabungkan kedua tangannya.
"Entahlah, saat ini aku merasa perlu beristirahat sejenak. Lagipula jika dipaksakan hasilnya tidak akan maksimal." Nara mengungkapkan.
__ADS_1
"Jika kau ingin bersolo karir di label lain, itu bisa saja, Nara. Tapi, aku khawatir tuan Hisei tidak akan diam begitu saja. Bukannya aku menakutimu, tapi sejauh ini yang kulihat dia amat bersikeras untuk menjatuhkanmu." Hata mengungkapkan isi pikirannya.
Nara terdiam sejenak. "Aku juga merasa demikian, Manajer. Tapi, apa yang terjadi, terjadilah. Aku hanya bisa berharap semoga setelah ini keadaan akan membaik." Nara berharap.
"Bagus. Aku suka semangatmu. Kau harus tetap berjuang karena seorang pejuang mimpi tidak boleh menyerah menggapai impiannya." Hata menyemangati.
Pertemuan dengan sang manajer pun terasa lebih hangat dibanding sebelum-sebelumnya. Pertemuan kali ini seperti sebuah perpisahan yang akan amat dirindukan Nara.
Pemuda bermata biru itu kemudian menandatangi surat pernyataan yang telah dibuat Hata. Walau berat menggoreskan tinta, mau tak mau ia harus melakukannya. Nara resmi mengundurkan diri dari pihak Sony Music Entertainment Jepang. Tapi ia tidak ingin menandatangani surat pernyataan keluar dari D'Justice.
"Maaf, Manajer. Untuk yang ini aku tidak bisa menandatanginya. Mereka sudah seperti keluargaku yang tidak bisa dinilai dengan kontrak ataupun uang. Aku akan membicarakan hal ini kepada mereka sendiri." Nara meminta izin.
Hata mengerti. "Baik. Semoga beruntung, Nara." Hata menepuk pundak Nara.
__ADS_1
Betapa sedih hati Nara yang harus menandatangani surat pembatalan kontraknya dengan pihak Sony Music. Bertahun-tahun ia berjuang untuk sampai ke label rekaman, namun kini harus mengakhiri semuanya. Nara frustrasi, ia depresi dengan keadaan yang menimpanya. Rasanya ia ingin menangis.
Semua yang ada padanya seakan diambil paksa oleh waktu. Ia tidak lagi mempunyai kekasih, tidak lagi mempunyai pekerjaan, dan tidak lagi memiliki keluarga yang utuh. Semuanya hancur berantakan dan tidak menyisakan apapun selain rasa sakit yang mencabik-cabik.