
Menjelang sore...
Angin sore mengantarkan Nara dan ibunya menjenguk sang ayah yang baru siuman dari koma. Tampak Shimura yang masih terbaring tak berdaya. Ia terlihat kesulitan untuk bergerak. Saat Nara dan ibunya masuk ke ruangan pun ia hanya bisa sedikit menoleh ke arah mantan istrinya yang baru saja datang.
"Shina, akhirnya kau datang." Seorang wanita tua menyambut kedatangan Shina.
"Nenek sudah lama di sini?" tanya Nara kepada wanita tua yang ternyata adalah neneknya.
"Iya, nenek sedari pagi di sini. Ayahmu belum bisa banyak bergerak. Bicaranya juga tidak terlalu jelas didengar." Sang nenek menuturkan.
"Apakah dokter sudah memeriksanya, Bu?" tanya Shina kepada wanita tua itu.
"Sudah. Kata dokter, Shimura terkena stroke ringan. Biasanya akan kembali normal setelah dua atau tiga minggu," kata wanita itu lagi.
"Em, begitu." Shina melihat keadaan mantan suaminya dengan prihatin.
__ADS_1
"Kalau begitu nenek keluar sebentar ya, Nara. Nenek ingin membeli makanan. Kalian bisa tunggu sebentar, kan?" tanya nenek Nara.
"Baik, Nek. Aku akan menunggu ayah." Nara menjawabnya.
Sang nenek pun segera berlalu dari keduanya. Ia keluar ruangan menuju kantin rumah sakit untuk membeli makanan yang ada. Sedari pagi ia menjaga anaknya sampai belum sempat makan. Dan saat Shina datang ia menggunakan kesempatan itu untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan.
Lain sang nenek, lain pula ibu Nara. Shina segera mendekati mantan suaminya yang terbaring tak berdaya. Ia pun tersenyum kepada ayah kandung dari anaknya itu. Sementara Nara tampak malas menatap ayahnya. Rasa sakit itu masih terasa di hatinya. Bahkan sampai detik ini pun ia belum bisa melupakannya. Ia merasa jika ayahnya adalah dalang dari semua kehancuran hidupnya.
"Shimura, syukurlah kau sudah siuman. Aku datang bersama Nara dan membawakan buah-buahan untukmu. Kuletakkan di atas meja, ya." Shina meletakkan buah tangannya. Ia segera bergegas pergi, menjauh.
"Shimura?"
Shina bingung saat Shimura mengucapkan sesuatu yang kurang jelas di pendengarannya. Ia lalu menoleh ke arah Nara yang ada di depan pembaringan ayahnya.
"Mungkin ayah minta ditemani oleh Ibu." Nara mencoba mengartikan perkataan ayahnya yang kurang jelas terdengar.
__ADS_1
"Em, baiklah kalau begitu." Shina pun memenuhinya.
"Aku keluar sebentar ya, Bu. Ingin mencari angin segar." Nara meminta izin kepada ibunya.
"Nanti kembali lagi ke sini. Jangan main jauh-jauh," kata Shina yang menganggap putranya masih kecil.
"Baik, Bu." Nara pun mengiyakan.
Sang pemuda bermata biru segera berlalu, membiarkan ayah dan ibunya di dalam ruang rawat. Sementara ia pergi ke taman rumah sakit, berniat menenangkan diri dengan menghisap sebatang rokok. Menjelang sore ini ia biarkan alam menemani kesedihan yang melanda hatinya.
Haruskah aku tetap di sini untuk mengejar cita-citaku? Atau ikut ibu dan memulai kehidupan yang baru?
Nara dilema tentang pilihan yang ada di depan matanya. Ia bertanya-tanya sendiri dalam hati. Namun belum juga menemukan jawaban hingga satu puntung rokok terhisap habis olehnya. Nara bimbang.
Pemuda bermata biru itu seolah tidak menemukan jawaban atas keputusan untuk melangkah ke depan. Angin sore pun seakan diam tidak membantunya. Hingga akhirnya ia memejamkan mata saat melihat awan berarak di angkasa. Ia kehilangan kepercayaan dirinya.
__ADS_1