
Beberapa hari kemudian...
Hari demi hari berlalu, tak terasa musim salju telah datang. Butir-butir gumpalan es berwarna putih menjatuhi Kota Tokyo dan sekitarnya.
Dinginnya udara membuat seorang wanita terbalut gaun putih ini menyalakan kayu bakar di dalam perapian yang ada di apartemennya. Wajahnya tampak pucat, rambutnya tergerai jatuh ke lantai.
Ia duduk menyandarkan kepala pada kedua lututnya sambil menangis. Menangisi apa yang telah terjadi pada dirinya.
Cahaya lampu yang temaram semakin memperlihatkan duka di hatinya. Cintanya pergi begitu saja setelah ia menyerahkan sesuatu yang paling berharga di dalam hidupnya. Bukan harta atau tahta, tetapi sebuah kehormatan yang telah ia jaga selama dua puluh lima tahun terakhir. Harus kandas begitu saja di tangan seorang pemuda yang ia cintai.
"Nara ...."
Ia menyebut nama seorang pemuda yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Seorang pemuda yang bersikap hangat kepadanya. Ingatannya selalu dipenuhi nama pemuda yang telah merenggut keperawanannya. Tapi sayang, ingatan itu hanya berlaku untuk dirinya, tidak bagi Nara.
"Apakah dia masih memikirkanku?"
Gumaman itu terucap dari bibir manisnya. Ia lalu mengambil beberapa batang bricket untuk dilemparkan ke dalam perapian. Wanita itu kemudian menuliskan beberapa bait puisi untuk Nara.
"Uhukkk!"
__ADS_1
Gas beracun mulai timbul dari pembakaran bricket tersebut, sejenis bahan bakar dari batu bara. Napasnya pun mulai terasa sesak, tapi ia terus menuliskan syair untuk pemuda yang dicintainya.
"Uhukkk, uhhhuukk!"
Tanpa perlu menunggu waktu lama, gas beracun itu mulai membuat tubuhnya lemas. Wajahnya pun ikut memerah karena oksigen sudah menipis di sekelilingnya. Ia sengaja menutup semua pintu dan jendela apartemen serta mematikan AC. Hal itu memicu gas beracun tersebut menjalar begitu cepat ke seluruh ruangan dan juga tubuhnya.
Tubuh cantiknya mulai menghitam, ia perlahan-lahan kehilangan kesadarannya. Tetapi dalam detik-detik terakhir napasnya, ia masih berusaha menuliskan sebuah nama. Sebuah nama seorang pemuda yang ia cintai.
Frustrasi, depresi, dan merasa sendiri melanda dirinya setelah sang pemuda bermata biru menolaknya mentah-mentah. Hatinya rapuh, terlebih ia hanya hidup seorang diri, membuatnya memutuskan untuk segera mengakhiri hidup.
"Nara ... aku mencintaimu ...."
Beberapa saat kemudian...
Mobil ambulan didatangkan sesaat setelah seorang office boy melihat kepulan asap dari apartemen bernomor 066. Pihak keamanan dan polisi setempat juga ikut datang memeriksa lokasi kejadian. Terlihat di sana seorang pria berperawakan setengah baya, berkemeja hitam, bermantel anti peluru sedang mengadakan olah TKP.
"Ayah!"
Seorang pemuda datang berlari ke arah pria tersebut. Napasnya tersengal karena ia terburu-buru.
__ADS_1
"Ken!" Pria itu menyebut nama seorang pemuda yang berlari ke arahnya.
"Ayah." Napas pemuda itu tersengal.
"Ken, aku rasa kau mengenal nama seorang pemuda yang ditulis almarhumah sebelum ia meninggal dunia."
Dia adalah Zain, ayah dari Ken. Seorang kepala polisi di Kota Tokyo.
Zain kemudian memberikan secarik kertas kepada Ken. Dengan segera Ken membaca tulisan yang ada di dalam kertas tersebut.
Nara?!
Kertas itu ditemukan oleh ayahnya saat berlangsung olah TKP. Wajah Ken terlihat memerah, ia tampak geram setelah membaca isi dari secarik kertas tersebut.
"Ken, apakah benar?" Ayahnya menunggu jawaban.
Sontak Ken mengepalkan tangannya. Ia tidak mampu lagi untuk menahan emosinya. Pikirannya tertuju kepada seorang pemuda, yang tak lain adalah temannya sendiri, Nara Shimura.
...
__ADS_1
Bagian Pertama Tamat