Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Kutukan?


__ADS_3

Satu jam kemudian...


Nara keluar dari ruang interogasi. Wajahnya tampak kusut semakin menjadi. Ken pun segera mendekatinya. Ia menegur sang teman yang kini tangannya sudah terborgol besi. Sontak hal ini membuat Ken terkejut.


"Nara!"


"Ken?!" Nara melihat Ken datang.


Ken lalu berbicara kepada polisi yang membawa temannya. "Kenapa tangannya harus diborgol, Paman? Dia bukan pelaku kriminal! Dia hanya membela diri!" Ken seketika kesal.


"Saya cuma menjalankan perintah. Tuan Nara kini sudah resmi menjadi tahanan kantor kepolisian. Dia akan menjalani persidangan esok hari." Polisi itu menjelaskan.


"Apa?!" Ken pun terkejut.


"Ken, sudahlah. Aku baik-baik saja." Nara mencoba berlapang dada menerima ini semua.


"Tapi, Nara. Seharusnya kau tidak seperti ini." Ken menyayangkan.


"Mungkin semua ini sudah menjadi takdirku. Jangan khawatirkan aku, Kapten. Aku baik-baik saja." Nara pun meninggalkan Ken.


Nara ....


Seketika hati Ken teriris saat melihat temannya dibawa ke dalam ruang tahanan. Ia tidak menyangka jika Nara akan mengalami kejadian seperti ini. Setelah kehilangan Shena, Nara harus mendekam di ruang tahanan kepolisian. Tentunya sebagai teman Ken pun ikut merasakan apa yang Nara rasakan. Dan tanpa sadar pemuda berambut emo itu menjatuhkan air matanya, melihat Nara berlalu dari hadapannya.


Nara ... bersabarlah. Aku akan berusaha menyelamatkanmu.

__ADS_1


Lain Ken lain juga dengan Sai. Sai kini sedang berbincang bersama Hima di dalam mobilnya. Mereka berencana akan segera menemui Ken di kantor Kepolisian Tokyo.


"Sai, aku tidak tahu harus bercerita kepada siapa tentang Shena." Hima tertunduk di samping Sai.


"Memangnya ada apa dengan Shena, Hima?" Sai menoleh ke arah Hima lalu menatap kembali ke depan.


"Dokter ... dokter bilang padaku jika Shena sedang mengandung." Hima tertunduk sedih.


"Apa?!" Sai pun terkejut.


"Iya, Shena meninggal dalam keadaan mengandung," tutur Hima lagi.


Seketika Sai mencari jalan sepi lalu menepikan mobilnya. Ia ingin mendengar lebih jelas apa yang dikatakan oleh sang kekasih.


"Iya, dokter bilang kepadaku seperti itu. Usia kandungannya baru sekitar satu minggu." Hima kembali menjelaskan.


"Astaga, berarti ...?"


"Siapa lagi kalau bukan Nara." Hima menarik kesimpulan.


"Apakah Nara sudah mengetahui hal ini?" tanya Sai lagi.


Hima menggelengkan kepala.


"Astaga, berarti dia tidak tahu jika Shena sedang mengandung anaknya. Inilah yang aku khawatirkan. Aku juga tidak mengerti mengapa dia bisa sampai ditimpa masalah bertubi-tubi, seperti terkena kutukan." Sai mengusap kepalanya sendiri.

__ADS_1


"Sai, jangan bicara seperti itu. Nara juga pastinya tidak ingin hal ini terjadi padanya." Hima meminta Sai agar tidak berbicara sembarangan.


"Iya-iya, aku tahu. Tapi coba dipikir, apa iya dia harus jatuh berulang kali? Aku heran saja padanya." Sai tak habis pikir.


"Mungkin ini akibat perbuatannya dulu, Sai." Hima mencoba menarik kesimpulan.


"Sebentar."


Sai mendengar ponselnya berdering. Ia pun segera mengangkat telepon itu.


"Halo?" Sai mengangkatnya. "Apa?!" Seketika ia tersentak. "Baik, aku segera ke sana." Sai pun segera mematikan teleponnya.


"Sai, ada apa?" Hima tampak cemas.


"Nara."


"Nara kenapa?" Hima semakin cemas.


"Nara menjadi tahanan kepolisian dan aku diminta agar cepat datang ke sana." Sai mulai melajukan mobilnya kembali.


"Astaga ...."


Hima pun memegang kepalanya sendiri. Ia tidak menyangka akan mendengar kabar seperti ini.


Sai merasa temannya terkena kutukan sehingga sering kali mengalami kesialan dalam hidup. Dan kini ia kembali mendengar jika Nara sudah resmi menjadi tahanan kantor kepolisian. Yang mana hal ini tentunya akan berdampak besar bagi karir D'Justice. Sang pemuda berkaca mata itupun segera melajukan mobilnya ke kantor Kepolisian Tokyo.

__ADS_1


__ADS_2