Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Yang Abadi Itu Kenangan


__ADS_3

Pertengahan malam...


Ryuuto masih di kantor redaksi. Ia bukan lembur atas pekerjaannya, namun hatinya belum bisa menerima kepergian Shena. Ia pun memutuskan untuk tidak datang ke pemakaman karena belum percaya dengan kabar yang didengarnya. Dan kini ia sedang melihat bunga mawar yang ada di ruang kerja Shena dulu.


"Shena ...."


Keadaan kantor tampak sepi. Hanya ada seorang penjaga yang menemaninya. Penjaga itu pun melihat dari jauh bagaimana keadaan Ryuuto sekarang.


"Aku tidak tahu mengapa kau pergi di saat aku tidak ada. Apa kau memang ingin Hana yang mengantar kepergianmu?" Ryuuto bertanya sendiri sambil mengambil sekuntum bunga mawar dari dalam pot.


"Hah ... begitu cepat waktu berlalu. Aku bahkan belum sempat membahagiakanmu. Kenapa kau tidak tinggalkan kenangan indah untukku, Shena?"


Ryuuto berbicara dalam kesunyian malam. Ia duduk bersandar di kursi yang biasa Shena pakai. Ia mencoba mengingat kembali kehadiran Shena. Di mana ia malu-malu menampakkan dirinya di hadapan sang gadis. Dan tanpa disadari, air matanya jatuh membasahi pipi.


Shena adalah cinta pertama baginya. Di matanya Shena bak bunga mawar yang merekah indah. Satu tahun lamanya Ryuuto memendam rasa. Namun nyatanya, sang gadis lebih memilih Nara dibandingkan dirinya.


Kini tak ada lagi penyesalan setelah berjuang, hanya ada rasa sedih karena kehilangan. Gadis itu selama-lamanya pergi darinya. Tak akan lagi bisa terlihat pandangan mata.

__ADS_1


"Aku bawa bunga mawar ini ke rumahku ya, Shena. Agar aku bisa selalu merasakan kehadiranmu."


Ryuuto akhirnya memutuskan untuk membawa semua bunga mawar itu pulang ke rumahnya. Ia ingin bunga itu tetap hidup dan terawat, sebagaimana ia merawat perasaannya kepada Shena.


Sementara itu...


Seorang pemuda gelisah dalam tidurnya. Ia ingin bergerak tapi tubuhnya seakan terkunci.


"Aku tidak akan membiarkan hidupmu bahagia, Nara!" Sosok berambut ikal panjang menawan Shena dengan sebilah pisau tajam.


"Rie, hentikan! Kau tidak boleh melakukan hal itu kepada Shena!" teriaknya yang mencoba menghentikan aksi Rie.


"Rie! Kau gila! Shena itu saudaramu sendiri!" Ia berteriak dari jauh.


"Oh, ya? Aku tidak peduli. Yang aku tahu karenanya aku begini. Selamat tinggal, Nara." Rie menusukkan pisaunya...


"Shenaaa!!" Ia pun berteriak sekerasnya.

__ADS_1


...


"Shena! Shena! Shenaaaa!!"


Pemuda bermata biru itu terbangun dari mimpi buruknya. Napasnya terengah-engah, detak jantungnya pun tidak beraturan. Mimpi buruk itu membuatnya dirundung kecemasan.


"Astaga, aku bermimpi buruk tentang Shena. Sebenarnya apa yang terjadi?" Ia tak mengerti.


Pemuda itu adalah Nara. Ia mengalami mimpi buruk malam ini. Dilihatnya jam di dinding kamar telah menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Ia kemudian beranjak dari tidurnya untuk membasuh wajah di kamar mandi.


"Astaga ...." Nara tak habis pikir dengan nasibnya sendiri.


Ia kemudian menyeduh kopi untuk menemani kesuntukan malam ini. Satu batang rokok pun ia hisap agar rasa pusing yang melanda pikirannya hilang.


"Shena, kenapa kau begitu cepat meninggalkanku?" Ia bertanya sendiri.


"Kau sudah janji padaku, kita akan berjalan-jalan selepas konser. Tapi kenapa kau pergi, Shena?" Ia memegangi kepalanya.

__ADS_1


Nara menyesal karena tidak dapat melihat Shena di detik-detik terakhir hidupnya. Ia juga belum sempat membahagiakan tunangannya. Sang pemuda bermata biru itu dirundung penyesalan teramat dalam. Ia tidak tahu harus bagaimana setelah kehilangan kekasihnya.


__ADS_2