Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Kehilangan


__ADS_3

Seusai pulang kuliah, Nara menunggu kedatangan Shena di stasiun kereta api. Detik demi detik, menit demi menit pun dilalui. Tapi sayang, sang mantan tak kunjung tiba di hadapannya. Hingga kereta terakhir sore datang, Shena belum juga muncul.


Apa dia libur hari ini?


Nara lalu menuju kantor redaksi tempat di mana Shena bekerja. Namun, sesampainya di sana sang security hanya menjawab bahwa yang bersangkutan belum juga datang.


Ia mulai curiga, pikirannya pun tidak karuan. Segera saja ia pergi menuju rumah yang ditempati Shena untuk memastikan bahwa keadaan baik-baik saja. Tanpa memedulikan waktu yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam.


Setibanya di sana, Nara berulang kali mengetuk pintu, tapi pintu tak kunjung dibukakan. Ia akhirnya gelisah bukan main karena takut kehilangan lagi.


Shena, jangan-jangan ...?! batinnya merasa cemas.


Nara terus mengetuk pintu kos Shena, tapi lagi-lagi tak ada yang menyahut apalagi membukakan pintu. Sampai seorang nenek tua yang menjaga kos tersebut datang menghampirinya.


"Kau cari siapa, Anak Muda?"


Seorang nenek berpakaian kuno menegur Nara yang sudah lama berdiri di depan kos Shena. Nara lalu menoleh ke arah sang nenek.


"Maaf, Nek. Aku ingin bertanya. Ke mana gadis yang tinggal di dalam kos ini?" tanya Nara penuh sopan.

__ADS_1


"Shena maksudmu?" Nenek itu bertanya lagi.


"Iya, Nek. Sedari tadi aku mengetuk pintu, tidak ada yang membukakan," jawab Nara yang dilanda kebingungan.


"Bagaimana pintu akan dibukakan, Shena sudah pindah sejak sore hari tadi," ucap sang nenek.


"Ap-apa?!!"


Nara terkejut bukan main mendengar informasi yang ia terima. Ja-jadi ... benar firasatku. Seketika roman wajah Nara berubah drastis.


"Apa kau ada masalah dengan Shena, Anak Muda?" tanya nenek itu lagi.


"Nek, apa Nenek tahu dia akan pindah ke mana?" tanya Nara lagi.


"Aku tidak tahu, dia hanya mengucapkan terima kasih sebagai salam terakhir sebelum beranjak pergi membawa semua barang miliknya," jawab si nenek singkat.


Nara tertegun. Perasaan bersalah akibat kekhilafannya, menjadi satu-satunya alasan mengapa Shena segera pindah dari rumah itu.


"Maaf jika aku sudah merepotkan. Aku permisi, Nek."

__ADS_1


Nara membungkukkan badannya ke arah si nenek lalu bergegas pulang. Tampak kesedihan yang tidak dapat ia tutupi saat itu.


Shena ... mengapa kau lari? tanyanya membatin, seraya bergegas pulang dalam perasaan penuh duka.


Beberapa hari kemudian...


Sinar terik mentari tidak menepiskan keinginan gadis bersurai hitam ini untuk kembali ke kedainya. Kedai yang telah ia bangun susah payah, hasil kerja kerasnya menjadi seorang model majalah dewasa. Kedai itu kini kian laris seiring bertambahnya waktu.


Letak kedai yang berada di pesisir pantai, membuat kedai milik Shena selalu ramai dikunjungi pengunjung yang singgah untuk sekedar mengobrol maupun bersantai. Shena pun ikut kebanjiran pundi-pundi emas yang tidak pernah ia sangka sebelumnya.


Shena bukanlah seorang akuntan handal. Tapi kebiasaannya merincikan sesuatu, membuat ia terbiasa melakukan perhitungan rugi laba di kedainya sendiri.


"Selamat datang," ucap seorang gadis bersurai hitam panjang, usianya tampak satu tahun lebih dewasa dibandingkan Shena. "Eh, Shena. Kau sudah pulang?" tanya sepupu Shena yang menyambut kedatangannya.


"Aku pulang, Hana," balas Shena yang langsung masuk ke area dapur cepat saji.


"Hei, apa yang kau lakukan, Shena?" tanya Hana yang melihat Shena mengambil celemek. "Sudah-sudah, kau beristirahat saja dulu. Nanti malam baru membantuku melayani pengunjung. Aku tahu kau pasti sangat lelah setelah melakukan perjalanan kemari."


Hana, sepupu Shena itu tidak mengizinkan jika Shena ikut membantunya. Shena pun tidak jadi mengambil celemek, ia kemudian duduk di meja kasir.

__ADS_1


__ADS_2