
BRAKK!!!
Tiba-tiba terdengar suara keras di pendengaran mereka. Pintu ruangan ditendang paksa dari luar oleh seseorang, membuat Kumi dan Luna terkejut seketika.
"Kepolisian Tokyo! Pergi kalian!"
Seorang pemuda berambut emo menunjukkan identitasnya. Namun, sebenarnya itu adalah identitas milik ayahnya. Ya, Ken tiba tepat sebelum permainan itu semakin menghanyutkan. Tampak kegugupan di wajah Kumi dan juga Luna.
"Tap-tapi—" Kumi ingin menolak.
"Cepat pergi! Atau kalian kubawa ke meja persidangan!" ancam pemuda yang tak lain adalah Ken Zain.
Karena takut, baik Luna maupun Kumi segera mengambil tasnya lalu keluar dari dalam ruangan karaoke eksklusif berukuran 3x4 meter itu. Dan kini terlihatlah Nara dalam keadaan setengah sadar di hadapan Ken.
"Bangun kau, Bajingan!"
Ken menarik paksa Nara agar kembali duduk di sofa. Ia juga mengambil pakaian Nara yang sudah berserakan di lantai ruangan.
"Cepat pakai ini sebelum kesabaranku habis!" Ken berusaha menahan emosinya.
__ADS_1
Nara yang mabuk menurut saja walaupun ia mengenakan pakaiannya lama sekali. Ken yang di ambang amarahnya sudah tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Iapun segera bertindak.
"Berdiri kau, Nara!"
Kardigan biru lengan panjang yang dipakai oleh Nara, ditarik paksa oleh Ken sehingga membuat Nara tercekik.
"Hei, Sobat. Jangan terlalu kasar seperti itu," ucap Nara dalam keadaan setengah sadar.
"Apa kau bilang?! Aku kasar?" Ken sudah tidak dapat menahan emosinya lagi.
Pukulan keras akhirnya melayang dari Ken. Ia memberi tinjuan untuk menyadarkan temannya.
"Ini yang namanya kasar, kau tahu itu?! Dasar brengsek!"
"Hei! Apa yang kau lakukan padaku, Ken?!" Nara berangsur-angsur pulih dan terlihatlah darah segar keluar dari mulutnya.
"Dasar brengsek!"
Ken mendorong Nara hingga ke dinding ruangan sambil menarik kerah baju pemuda bermata biru itu. Emosinya sudah membeludak dan tak dapat terkendali lagi.
__ADS_1
"Kau dengar, Nara! Rose mati karena ulahmu. Dia bunuh diri jam sembilan malam tadi!"
Ken memberikan kabar sambil mengunci tubuh Nara agar tidak dapat bergerak. Mendengar hal itu, Nara pun terkejut.
"Lepaskan!"
Nara menghempaskan kedua tangan Ken yang menarik kerah bajunya. Ia merasa dituduh oleh Ken.
"Seenaknya saja kau menuduhku. Jangan mengambil kesimpulan sesuka hatimu, Ken! Rose hidup atau mati itu bukan urusanku!" jawab Nara dalam pengaruh alkohol yang membuatnya tidak dapat berpikiran jernih.
Mendengar penuturan Nara, Ken semakin geram bukan main. "Bajingan kau, Nara!"
Ken menendang Nara sekuat tenaga ke arah dinding. Sontak Nara terpental cukup jauh dari hadapan Ken. Tendangan itu tepat mengenai perut Nara sehingga ia memuntahkan semua alkohol yang telah diminumnya. Tubuhnya pun menabrak lemari kecil sehingga lemari itu rusak parah karenanya.
"Sampai kapan kau akan seperti ini? Harus berapa banyak wanita yang terluka karena ulahmu?! Shena yang kau tinggalkan begitu saja dan ibumu yang harus mendekam di rumah sakit jiwa karena ulahmu menghadirkan Rie!"
Nara tersadar penuh saat mendengar Ken membicarakan tentang ibunya.
"Ken!"
__ADS_1
Ia berusaha memukul Ken dengan cara meninjunya, tapi tertahan cepat oleh Ken. Nara lalu menarik kerah baju Ken. Keduanya pun berhadapan dengan memendam amarah masing-masing.
Nara marah karena Ken mengusik nama ibunya. Juara bela diri tingkat kota itupun tersadar penuh dari mabuknya. Ia ingin memperingatkan Ken.