
Ken tampak geram setelah membaca isi secarik kertas tersebut.
...
Cinta Kita...
Dalam lantunan angin yang berdesir, aku selalu mengingat namamu.
Canda tawa yang tersirat selalu terkenang di kalbuku yang rapuh.
Hangat tubuhmu, lembut perawakanmu, membuat sekujur tubuhku meleleh bak lilin dipanaskan.
Mungkin saja jika aku datang lebih awal, aku dapat bersamamu.
Dalam alunan melodi yang kau ciptakan,
Begitu syahdu dan menusuk sampai ke sumsum tulang, denyut nadi yang terus berdetak.
Andai saja jika kau mengetahui seberapa besar harapanku ini.
Mungkin tidak akan kubawa sampai mati.
Nara...
Kau pria pertama dan terakhir yang menjamahku...
Menyentuh setiap inchi dari dinginnya tubuh ini.
__ADS_1
Memberikan kehangatan yang selama ini aku impikan.
Ingin kuutarakan dan kugadaikan hati yang membisu.
Tapi apa daya waktu tak mengizinkan.
Nara,
Aku mencintaimu...
...
Sepenggal syair yang ditulis Rose itu membuat Ken geram bukan main. Sudah tiba waktu baginya untuk menyadarkan sang teman yang tengah terlarut dalam kenikmatan duniawi.
"Naraaaa!!!"
Dalam balutan sweter berbahan wol tebal, ia melaju dengan kecepatan tinggi, mengendarai mobil ayahnya. Ken segera mencari di mana gerangan Nara yang menjadi penyebab bunuh dirinya sang promotor ini.
...
Selama perjalanan, ponsel Ken terus berdering, namun tidak ia indahkan sedikitpun. Ternyata Cherry lah yang menelepon Ken, mencoba memberikan kabar duka atas kematian Rose.
"Ken, di mana dirimu?"
Gadis itu bertanya sambil terus memutar-mutar ponselnya. Kaus merah lengan pendek dan celana pensil berwarna hitam, tampak membalut tubuhnya yang langsing. Ia tengah menunggu kedatangan Sai dan juga Nara. Tapi, yang ditunggu belum juga datang.
"Sai!"
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Sai datang bersama Hima, kekasihnya. Keduanya mengenakan mantel hitam dengan syal cokelat yang melingkar di leher agar tidak terlalu merasa dingin di malam musim salju ini.
"Di mana Nara?" Cherry bertanya kepada Sai.
"Nara tidak dapat dihubungi, di rumahnya juga tak ada." Sai memberi kabar kepada Cherry.
Ke mana ya dia? "Lalu bagaimana dengan Shena, apa dia dapat hadir?" tanya Cherry lagi.
"Shena akan datang bersama Ryuuto beberapa menit lagi. Ada baiknya jika kita segera ke lokasi." Hima mencoba berbicara.
"Hm, baiklah." Cherry lalu mengambil mantel merahnya. "Mari kita berangkat."
Cherry bersama Sai dan Hima segera menuju lokasi kejadian. Tampak Cherry yang memikirkan Ken dan juga Nara. Entah mengapa firasatnya mengatakan yang tidak-tidak tentang hal ini.
Semoga ini hanya pikiran jelekku saja.
Cherry tidak habis pikir jika Nara dan Ken tidak dapat datang bersamanya. Padahal sebelum-sebelumnya, D'Justice memiliki rasa kebersamaan yang begitu solid. Tapi kini kebersamaan itu seakan memudar terbawa waktu.
Di mana Nara, ya?
Cherry terus bertanya di dalam hatinya. Ia duduk di kursi belakang mobil sambil terus memikirkan keberadaan Nara. Ia terlihat gundah malam ini. Sedang Hima tampak memperhatikan Cherry dari depan.
Lain Cherry lain juga dengan Sai. Pemuda berkaca mata ini tampak lebih tenang menghadapi situasi. Ia tidak menampakkan kegundahan dan kerisauan yang melanda pikirannya. Tapi, ia juga berpikir akan kejadian ini.
Aku khawatir jika hal ini ada kaitannya dengan sikap Nara yang berubah. Ken juga lebih banyak diam dibandingkan hari-hari sebelumnya. Tapi semoga saja ini hanya sebatas perasaanku.
Sai membelokkan setir mobilnya ke kanan, menuju ke tempat kejadian perkara. Ia ingin melihat lokasi dan turut berbela sungkawa.
__ADS_1