
Cuaca dingin tak mampu menembus hati sepasang insan yang sedang dipenuhi kehangatan cinta. Tersirat dari wajah Shena jika ia ingin melakukan sesuatu kepada Nara.
Nara, aku ingin sekali memelukmu. Tapi ... hatiku ini masih terasa sakit.
Shena ingin memeluk Nara saat pemuda itu memakaikan kalung kepadanya. Ia tahu persis jika Nara telah berubah semenjak kematian Rose. Namun, hati kecilnya masih terluka. Ia belum mampu melupakan semua yang terjadi.
Entah mengapa, aku merasa bahagia saat ini. Walaupun hati kecilku masih menangis.
Tidak dapat Shena pungkiri jika rasa bahagia itu menyelimuti hatinya. Getaran cinta pun mulai terasa di hatinya yang rapuh. Sebuah rasa ingin memiliki dan menjalani kehidupan bersama sampai akhir nanti.
"Kau cantik, Shena."
Nara tersenyum bahagia. Ia pandangi sang mantan setelah selesai memakaikan kalungnya. Tampak Shena yang memegangi batu permata pada kalung tersebut.
"Terima kasih, Shena. Kau mau menerima kalung ini saja, aku sudah sangat senang."
Nara tiba-tiba tersipu malu sendiri. Ia merasa canggung berdekatan dengan Shena, seperti baru pertama kali berkenalan. Tampak kekakuan dari wajahnya yang tampan. Bola mata birunya melihat ke sekeliling arah, seperti berusaha menghindari pandangannya dari Shena.
__ADS_1
Walaupun kekakuan saat berhadapan dengan Shena terlihat jelas, Nara masih berusaha untuk tetap tenang. Ia mencoba menjadi lebih dewasa setelah apa yang terjadi kemarin. Namun tampaknya, hal itu membuat Cherry kesal. Gadis yang bersama Sai sedang mengintip keduanya dari balik batang pohon besar itu, tampak menggerutu sendiri.
"Arrghh, mengapa Shena tidak menjawabnya?!"
Cherry kesal hingga menjitak kepala Sai. Sai pun menjadi sasaran kekesalan Cherry. Keduanya masih tampak menguntit tanpa diketahui oleh Nara dan juga Shena.
"Aw! Sakit, Cher!" Sai berteriak karena Cherry menjitak kepalanya.
"Diam! Berisik!"
Eh? Kenapa aku yang malah kena marah? Sai bingung sendiri. "Jika kau kesal kepada Shena, mengapa aku yang harus kena imbasnya?!"
"Masa bodok! Aku kesal!" Cherry berbalik lalu meninggalkan Sai sendirian.
"???" Sai jadi bingung sendiri mendengar jawaban dari temannya. "Cherry, tunggu aku!"
Sai mengejar Cherry. Ia tidak mau ditinggal sendirian, menjadi mata-mata sepasang insan yang sedang berjalan bersama dengan mesranya.
__ADS_1
Dari jarak yang cukup jauh, Ken bersama Hima melihat keduanya. Hima pun tersenyum bahagia, begitu juga dengan Ken.
"Terima kasih," ucap Hima kepada Ken.
"Terima kasih untuk?" tanya Ken sambil menoleh ke arah Hima yang berdiri di sampingnya.
Hima terlihat tersenyum memandangi kelucuan yang sedang terjadi di hadapan kedua matanya. Sedang Ken, tersenyum kecil sambil melihat tingkah kekasih dan temannya, Sai.
"Terima kasih karena kau telah menyatukan Shena dan cintanya." Hima menoleh ke arah Ken.
"Hn, itulah gunanya seorang teman, Hima. Merasa bahagia jika temannya ikut bahagia, begitupun sebaliknya," sahut Ken sambil melihat Sai yang mengejar Cherry, menuju ke arahnya.
Cherry tampak begitu kesal dan selalu saja memukul Sai saat Sai berusaha mendekatinya.
"Aku baru mengerti mengapa Sai yang begitu pendiam dapat berubah menjadi pribadi yang hangat seperti ini." Hima melanjutkan.
"Ya, semua orang tentunya bisa berubah, Hima." Ken tersenyum.
__ADS_1
Baik Hima dan Ken tersenyum bahagia saat melihat kedekatan Nara dan juga Shena. Sementara dari kejauhan, terlihat Cherry yang masih diganggu oleh Sai. Kekasih dari Ken ini tampak kesal dengan ulah Sai yang menyebalkan.