
Dua jam kemudian...
Detik demi detik berlalu, menit demi menit pun terlewati. Kini sang surya sedang menanjak ke singgasananya. Jam di dinding ruangan pun sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
Di sana terlihat Nara yang masih setia mendampingi Shena. Kadang ia mengusap kening Shena yang berkeringat, kadang juga ia membacakan beberapa kisah klasik yang telah dilalui bersama. Sebuah kisah lucu yang mengundang gelak tawa keduanya.
Sesekali Nara memegang erat telapak tangan Shena yang masih terasa hangat. Dan tanpa ia sadari, butiran air mata itu jatuh menetes membasahi pipinya.
Bagi seorang pria, menangis adalah suatu hal yang tabu apalagi hanya karena seorang wanita. Tapi kali ini hati Nara benar-benar tersentuh akan pengorbanan yang Shena lakukan untuknya. Untuk dirinya yang telah mengkhianati, untuk dirinya yang telah menyia-nyiakan cinta.
Beberapa menit kemudian, pintu tiba-tiba dibuka dari luar. Dan terlihatlah sosok wanita berparas cantik memakai blus putih dengan celana pensil yang membalut kaki jenjangnya. Ia juga mengenakan sepatu kets yang warnanya selaras dengan rambut hitam panjangnya.
"Em, maaf. Saya Hana, sepupu Shena. Apakah Anda Nara?" tanya seseorang wanita mengenakan kacamata.
__ADS_1
Nara yang sedang duduk di sisi pembaringan pun menoleh ke arah sosok yang datang. Ia kemudian berjalan mendekat ke sosok itu.
"Hem, ya. Aku Nara, aku kekasih Shena. Senang berjumpa denganmu," jawab Nara sambil mengajak berjabat tangan.
Wanita yang memang benar adalah Hana, tampak terkejut dengan pengakuan Nara. Selama ini Shena tidak pernah menceritakan perihal kekasihnya yang bernama Nara. Tapi walaupun begitu, Hana dengan senang hati membalas jabatan tangan Nara di tengah rasa keterkejutannya.
"Aku diberi kabar oleh Hima jika Shena tengah dirawat di rumah sakit ini. Dan aku sudah mempersiapkan diri untuk menjaganya. Jadi kau bisa beristirahat. Karena kudengar dirimu juga mengalami pendarahan hebat saat—"
Belum sempat Hana melanjutkan, Nara dengan cepat menyela dan menghentikan perkataan Hana. Karena ia tahu jika Hana hanya akan memujinya. Baginya bukan pujian atau ungkapan rasa kagum yang ia inginkan saat ini, tapi kesadaran Shena lah yang terpenting dari segalanya.
"Em, maafkan aku, Nara." Hana membungkukkan badannya, meminta maaf.
"Tak apa." Nara tersenyum. "Baiklah, aku akan ke ruang dokter sebentar. Aku titip Shena padamu." Nara kemudian berpamitan kepada Hana untuk menemui dokter yang merawatnya pasca operasi.
__ADS_1
"Baik." Hana mengiyakan, Nara pun bergegas keluar dari ruangan tempat Shena dirawat.
Hana tidak mengerti atas apa yang terjadi. Selama ini Shena selalu menutup dirinya dari banyak pria, yang ternyata hanya untuk Nara seorang. Seorang pria yang baru saja ia temui di pagi ini. Ia merasa jika Nara memang sangat serasi dengan sepupunya.
"Shena ...."
Hana kemudian berjalan mendekati Shena. Ia lalu duduk di samping kanannya. Hatinya merasa iba saat melihat Shena tengah terbaring di kasur rumah sakit. Seorang sepupu yang sudah ia anggap seperti saudara kandungnya sendiri. Ya, Shena telah banyak membantunya dalam berbagai hal, terutama ekonomi.
"Shena, maaf aku baru bisa datang sekarang. Aku harus mengurus kedai terlebih dahulu. Kau beristirahatlah. Aku akan menjagamu." Hana tersenyum kepada Shena yang masih belum tersadar dari komanya.
Entah kapan Shena akan bangun, tapi doa dan harapan selalu dipanjatkan untuknya. Bukan hanya Nara yang berharap Shena kembali pulih, tapi juga teman-teman baiknya.
.
__ADS_1