Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Harapan Hati


__ADS_3

Beberapa jam kemudian…


Hari sudah memasuki siang. Jam di dinding pun sudah menunjukkan pukul satu waktu sekitarnya. Di sana, di kedai milik Shena tampak Ryuuto yang baru saja selesai makan siang ditemani Hana. Keduanya tengah duduk bersama di teras belakang kedai.


Pemuda berkemeja biru metalik itu memperhatikan Hana yang sedari tadi membuang pandangan darinya. Ia merasa lucu dengan sikap Hana yang sekarang, seperti malu-malu kepadanya.


“Sampai kapan kau akan menghindari tatapanku, Hana?” Ryuuto meminum teh lemonnya.


Sontak Hana tersipu malu mendengarnya, pipinya merona dibuat oleh Ryuuto.


“Aku ingin kita lebih dekat lagi. Tapi jika kau seperti ini, apa yang harus aku lakukan?” Ryuuto bertanya kepada gadis berseragam pelayan kedai ini.


“Ak-aku ….” Hana pun tampak malu-malu.


“Sudahlah, semua akan bak-baik saja. Mungkin waktuku memang tidak sebanyak dulu. Tapi jika ada waktu senggang, aku akan menemuimu,” kata Ryuuto lagi.


“Em, aku … aku bingung, Ryuuto.” Akhirnya Hana membuka pembicaraan.

__ADS_1


“Bingung?”


“He-em. Aku bingung harus bagaimana padamu. Aku merasa kikuk sekali.” Hana berusaha jujur.


“Apakah karena belum ada ikatan resmi di antara kita?” Ryuuto menebak.


“Em, itu ….” Hana kembali gugup.


“Baiklah. Jika kau ingin ikatan resmi, aku akan memberikannya. Tapi sebelumnya aku ingin mengatakan sesuatu hal padamu,” kata Ryuuto lagi.


“Hana.”


“Ya?”


“Sebentar lagi aku akan memegang kantor redaksi. Jam kerjaku semakin sibuk. Aku bekerja dari pukul delapan pagi hingga delapan malam. Kemungkinan baru sampai rumah pukul sembilan. Dan mungkin juga aku tidak bisa selalu meneleponmu setiap malam. Karena kadang aku membawa kerjaan ke rumah. Tapi aku pastikan jika akhir pekan akan ke sini.” Ryuuto menjelaskan.


“Maksudmu sabtu?” tanya Hana memastikan.

__ADS_1


“Hm, ya. Karena minggu aku harus berkumpul dengan keluarga di rumah. Mungkin kita bisa video call di hari minggu. Aku ingin waktuku terbagi dengan baik. Apa kau keberatan?” tanya Ryuuto kepada Hana.


Hana tersenyum. Ia kemudian melihat Ryuuto sambil tertawa kecil.


“Sepertinya kau tidak berubah, Ryuuto. Kau selalu disiplin dengan waktu.” Hana memuji.


“Hm, tidak terlalu juga, sih. Aku hanya ingin waktuku terbagi adil dengan orang-orang terkasih tanpa mengabaikan pekerjaanku. Bagaimanapun pekerjaan adalah tabungan masa depan kita.” Ryuuto tersenyum.


Sontak Hana terpaku dengan hal yang Ryuuto katakan. Seolah-olah memberi isyarat akan keseriusan hubungan ini. Ia seperti tidak menemukan kata-kata di pikirannya untuk menanggapi ucapan Ryuuto.


Ryuuto, aku berharap perasaanmu ini benar. Aku memang mencintaimu, tapi aku tidak ingin hanya sebatas pelarian dari Shena. Aku menginginkan hatimu seutuhnya. Walaupun harus memakan waktu, aku akan menunggunya.


Cinta Hana kepada Ryuuto benar-benar tidak mengenal kata menyerah. Ia rela menunggu Ryuuto sampai dapat mencintainya. Sedang Ryuuto sendiri masih berusaha berdamai dengan hatinya.


Hana, maaf jika aku harus membuatmu menunggu. Aku butuh waktu untuk memindahkan hatiku. Aku harap kau mau memberiku waktu. Sebisa mungkin aku berdamai dengan diriku sendiri. Jika sudah bulat, aku tidak ingin berlama-lama lagi. Aku akan segera meminangmu. Aku ingin kita bebas melakukan apa saja tanpa rasa khawatir akan hal apapun.


Ryuuto mencoba meraih tangan Hana. Ia kemudian menggenggam tangan itu. Hana pun tampak terkejut dengan sikap Ryuuto, jantungnya berdegup kencang bukan main. Namun, ia akan mencoba membiasakan diri dengan getaran ini. Getaran cinta yang tertunda karena masa belum merestui.

__ADS_1


__ADS_2