
Sementara di sebuah klub malam…
Terdengar alunan musik remix menggema di dalam sebuah klub. Di sana masih tampak sepi, maklum saja hari belum terlalu malam. Tapi sang DJ wanita satu ini terlihat sangat kesal karena teleponnya tidak pernah diangkat oleh sang kekasih.
"Ke mana dia?!"
Sambil bertolak pinggang ia mencoba menelepon lagi. Tapi sayang, untuk yang kesekian kalinya teleponnya itu tidak diangkat.
"Aggh!"
Rie pun kesal setengah mati, rasanya ia ingin menemui Nara lalu mencacinya sepuas hati. Tapi sayang, Rie sedang ada pekerjaan yang harus ia selesaikan malam ini, mengisi sebuah klub dengan permainan disc-jokinya.
Ya, Rie memang seorang DJ yang terkenal karena keseksian tubuhnya. Terlihat dirinya tengah mengenakan pakaian mini berwarna merah, sangat mencolok pandangan kaum adam yang datang.
Rasa kesal karena teleponnya tak kunjung diangkat oleh Nara, ia kemudian menemui teman-temannya yang sedang duduk-duduk di depan meja bar.
"Kau tampak sangat kesal, Rie," sapa seseorang yang memakai jumpsuit putih dengan rok mini hitam dan sepatu hak tinggi berwarna perak.
__ADS_1
"Biarkan saja dia, Via. Paling-paling hanya kesal terhadap pacarnya yang sudah jatuh miskin itu," ucap seorang gadis berambut hitam pendek, Nana.
"Ya, aku pikir juga seperti itu," sahut gadis berambut blue-black, yang tak lain adalah Via.
"Sudahlah, kalian diam saja. Aku sedang pusing!" Rie duduk di depan meja bar lalu meneguk segelas whisky.
"Aku tidak habis pikir padamu, Rie. Kau telah berhasil membuat Nara menjual mobil dan juga mencerai-beraikan kedua orang tuanya. Apalagi yang kau inginkan? Bukankah sampai saat ini Nara tidak tahu jika kau sudah pernah tidur dengan ayahnya?" Via memegang gelas whisky-nya.
"Nana, berikan aku sebatang rokok."
"Huuuuhhh..." Asap rokok itu ia embuskan perlahan, mencoba menetralkan keadaannya yang sedang kacau.
"Aku juga merasa aneh dengan diriku sendiri, mengapa aku terlalu memikirkan pemuda bodoh itu. Sekarang dia tidak punya apa-apa lagi. Tapi mengapa aku masih berharap padanya?" Rie kemudian mengeluarkan unek-unek dari dalam hatinya.
"Rie, kau cantik. Tubuhmu pun sangat indah. Mengapa tidak cari yang lain saja? Yang lebih kaya dan lebih bisa kau manfaatkan hartanya," bisik Via kepada Rie.
"Via, Rie juga masih mempunyai hati." Nana berusaha membela.
__ADS_1
"Sudahlah, Nana. Jangan terlalu naif. Untuk ukuran gadis seperti kita yang sudah terlanjur terperosok ini, hati itu sudah tidak berlaku lagi. Nikmati saja hidup yang hanya sekali." Via memberikan argumennya kepada Nana.
"Hhh."
Nana menghela napasnya kala mendengar argumen Via. Sementara Rie terdiam, mendengarkan sambil terus menghisap asap rokoknya, dan meminum whisky sampai ia setengah mabuk. Keadaan hati dan pikirannya sedang kacau-balau malam ini.
Di lain tempat, di kantor majalah remaja Tokyo...
Jam di dinding kantor masih menunjukkan pukul 8.45 malam. Di sana terlihat Shena bersama seorang teman, duduk saling berhadapan kala mengerjakan pekerjaan. Mereka tampak serius menyelesaikan pekerjaan sebelum dimasukkan ke ruang sang bos.
Ruangan mereka dengan ruangan lain hanya disekat papan tipis berwarna putih. Dari balik dinding ruangan itu, terlihat seseorang yang sedari tadi mengintip kegiatan mereka.
"Shena, aku ke kamar kecil dulu," kata teman kantor Shena, berambut hitam yang terkepang dua.
"Ya, baiklah," sahut Shena lalu meneruskan pekerjaannya.
Gadis itupun keluar dari ruangannya menuju kamar mandi yang terletak agak jauh dari ruangan tempatnya bekerja. Ia lalu berbelok untuk menuju ke arah kamar mandi. Tapi tiba-tiba...
__ADS_1