
"Em, maaf. Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk. Aku lupa." Nara tersenyum, membalas perkataan gadis itu.
"Haduuhh!" Sang gadis menepuk jidatnya sendiri. "Bagaimana mungkin kau bisa lupa sedang kita pernah tidur bersama?" cetus gadis itu.
Sontak saja Rose terkejut bukan main mendengar penuturannya. Bertambah pilulah hatinya.
Eh??? Sebuah tanda tanya besar muncul di pikiran Nara kala mendengar penuturan sang gadis. Seingatku hanya dengan Shena dan Rie, gumamnya.
"Ih!" Gadis itu mencubit kedua pipi Nara.
"Aku Gabril, Nara. Yang waktu itu bermalam di rumahmu. Saat hujan tiba-tiba turun dan kita berduaan di halte bus. Apa kau masih tidak ingat?" tanya gadis yang memang benar adalah Gabril. Ia menatap manja ke Nara.
Berduaan? Di halte? Bermalam?
Rasanya Rose ingin segera melangkah pergi. Tapi karena tuntutan pekerjaan, ia harus bersikap seprofesional mungkin.
"Oh, iya. Aku ingat. Mengapa kau bisa ada di sini?" tanya Nara yang teringat kenangan singkat bersama Gabril.
"Nara, Gabriel ini adalah—" Rose ingin mengungkapkan siapa sosok Gabril kepada Nara.
"Kak Rose, tolong jangan diteruskan. Aku tidak menyukainya," sela Gabril terhadap ucapan Rose.
__ADS_1
Gabril tidak ingin diistimewakan. Hobinya hanya mencari teman dan travel ke berbagai tempat di dunia. Maka saat Rose berpapasan dengan Gabril, Gabril bersikap biasa saja. Karena ia memintanya sendiri.
"Nara, temani aku makan siang ya?" pinta Gabril sambil menggandeng tangan Nara.
"Gabril, tapi Nara akan—" Rose berusaha mencegahnya.
"Sudah biar aku yang bertanggung jawab!" seru Gabril lalu menarik Nara agar pergi bersamanya.
"Nona Rose, aku—" Nara berusaha bicara kepada Rose.
"Pergilah, tak apa." Tak berdaya, Rose akhirnya membiarkan Gabril membawa Nara dari hadapannya.
Gabril dan Nara makan siang di sebuah restoran ternama, tiga puluh lima menit setelah melakukan perjalanan dari kantor Sony Music. Tetapi, Gabril tidak ingin makan di ruangan terbuka. Ia memesan tempat di teras atap restoran untuk makan siang bersama Nara.
Payung kafe yang lebar itu mampu menutupi mereka dari teriknya sinar matahari. Saat ini sudah hampir pukul tiga sore, mereka terlihat duduk menyantap hidangan yang telah dipesan Gabril sebelumnya.
"Nara, apakah pertemuan ini merupakan tanda bagi kita?" tanya Gabril sambil memakan steak-nya.
"Em, mungkin saja," jawab Nara yang memang sudah menahan lapar sejak tadi. Ia tampak lahap menyantap hidangan yang Gabril pesan, tanpa malu.
"Sebentar lagi musim salju akan tiba, apa kau mau ikut denganku?" tanya Gabril lagi.
__ADS_1
"Eeh?" Nara menghentikan makannya. "Gabril, aku ini sekarang sudah menjadi—" Nara berusaha menerangkan statusnya saat ini.
"Iya, aku tahu. Sekarang kau sudah menjadi personil band yang terkenal di Jepang," cetus Gabril.
"Bu-bukan begitu maksudku, Gabril." Nara khawatir Gabril akan mengiranya menyombongkan diri. "Jadwalku sangat padat sekali. Bahkan classmeeting pun tidak dapat aku ikuti. Liburan semester ini sibuk mondar-mandir ke stasiun televisi. Dan juga konser di beberapa kota. Jadi—"
"Iya, aku mengerti." Gabril menyudahi makannya. "Nara, kau tahu? Aku sungguh kesepian. Aku ingin punya teman yang dapat menjadi tempat berbagi. Aku merasa sendiri di dunia ini." Gabril menyandarkan tubuhnya pada kursi restoran yang empuk.
"Gabril, aku—"
Nara tersentuh dengan ucapan Gabril. Bagaimanapun ia pernah merasakan apa yang gadis itu rasakan, kesepian.
"Bagaimana jika aku ikut denganmu. Boleh, kan?" tanya Gabril sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Nara. Mereka kemudian saling bertatapan.
"Tap-tapi, aku tidak punya kuasa untuk hal itu."
Nara sedikit gugup saat wajah Gabril semakin mendekat ke arahnya. Gabril kemudian mencium bibir Nara dengan satu kali kecupan tanpa ragu.
"Jangan takut, aku yang akan meminta izin kepada Kak Lusy. Oke, Nara?" ucapnya lembut seraya menjauhkan wajahnya perlahan.
Nara terpaku, ia hanya diam tanpa dapat berkata apapun. Ia bingung mengapa Gabril sampai bersikap seperti itu kepadanya. Apakah memang hanya menganggap teman atau ada alasan khusus.
__ADS_1