
Malam harinya...
Cuaca terasa dingin, butiran salju turun lebih banyak malam ini. Di sana di ruangan tempat Shena dirawat tampak seorang gadis masuk ke ruangan dengan mengenakan mantel berwarna krim. Pakaian musim dingin menjadi andalannya untuk menghangatkan tubuh agar tidak membeku.
Hana datang dengan membawa satu tas besarnya. Ia baru saja menutup kedai dan segera berangkat ke sini. Perjalanan kedai-rumah sakit menempuh jarak sekitar satu jam perjalanan. Jam di dinding pun kini sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Shena dirawat di ruang kelas satu yang ada di rumah sakit Tokyo. Tempatnya cukup luas sehingga memungkinkan penjenguk bisa tidur di dalamnya. Terdapat sofa sudut yang bisa digunakan beristirahat. Di dalamnya juga ada kamar mandi yang cukup luas untuk membersihkan diri.
Malam ini tunangan Nara belum juga tersadar dari komanya. Ia masih tertidur dan berjuang di alam sana. Hana pun membangunkan Hima yang sedang tertidur di sofa. Ia berniat menjaga Shena.
"Hima." Hana membangunkan Hima dengan pelan.
Gadis itupun bangun dari tidurnya. Dan ia melihat kedatangan Hana dengan membawa tas besarnya.
"Kau sudah datang? Maaf aku tertidur." Hima beranjak bangun lalu duduk di sofa.
"Kembalilah ke rumah. Biar aku yang menjaga Shena," kata Hana kepada gadis bersweter ungu.
__ADS_1
"Malam sudah larut. Transportasi mungkin akan sangat jarang. Aku tidur di sini saja." Hima menolak dengan halus.
"Aku membawa skuter. Ini kuncinya." Hana menyerahkan kunci motor matic kepada Hima. "Kau sudah terlalu lelah. Biar aku saja yang bergantian menjaga Shena," kata Hana lagi.
Melihat ketulusan Hana meminjamkannya, Hima pun mengangguk. Ia akhirnya bergegas kembali ke rumah sambil menunggu kepulangan Sai dari konser.
"Kalau begitu aku permisi. Aku titip Shena, ya. Keadaannya baru saja membaik." Hima menuturkan.
"He-em." Hana pun mengangguk.
Hima lalu keluar dari ruangan dengan diantarkan Hana sampai di depan pintu. Setelahnya Hana pun kembali masuk lalu segera menemui Shena. Ia tatap sepupunya sambil membelai wajah Shena yang pucat. Hana kemudian menceritakan sebuah dongeng kepada Shena, dongeng Cinderella.
"Halo Ryuuto?" jawab Hima segera.
"Kau di mana? Aku baru saja menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Bagaimana keadaan Shena sekarang?" tanya Ryuuto sambil merapikan meja kerjanya.
"Shena baru saja membaik pasca dokter memberinya obat dengan dosis tinggi. Keadaan Shena berangsur-angsur pulih," jawab Hima kemudian.
__ADS_1
"Astaga." Ryuuto memegang kepalanya. "Mengapa harus dosis tinggi, Hima. Apakah tidak ada jalan lain?" Ryuuto pun cemas.
"Tidak ada, Ryuuto. Itu adalah pilihan paling ringan jika dibandingkan dengan melakukan operasi besar. Kita tidak punya banyak waktu lagi. Tadi sore Shena sempat kritis, kau tahu!" Hima sedikit kesal.
"Baik, aku akan ke sana sekarang." Ryuuto ingin menjenguk Shena.
"Ryuuto, lebih baik kau beristirahat saja malam ini. Hana sudah datang dan bersedia menjaganya. Besok juga dia libur. Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkannya," tutur Hima kembali.
"Hana ke sana?"
"Ya. Dia kembali lagi untuk menjaga Shena. Kau jangan khawatir. Malam ini beristirahat saja dulu. Sai juga sudah mengabarkan jika besok tiba di Tokyo. Tapi jam berapanya aku kurang tahu. Sai belum bisa memastikan." Hima menceritakan.
"Baiklah. Kalau begitu terima kasih, Hima." Ryuuto akhirnya bisa bernapas lega.
"Ya. Sampai nanti." Hima pun segera menutup teleponnya lalu menaiki skuter milik Hana.
Aku berharap Shena bisa lekas tersadar. Sudah banyak cairan infus yang masuk ke tubuhnya. Semoga besok ia bisa pulih.
__ADS_1
Sebagai seorang teman tentunya Hima mencemaskan keadaan Shena. Pilihan berat pun harus ia putuskan untuk mempertahankan hidup temannya. Dan akhirnya Hima memilih obat dengan dosis tinggi untuk Shena, dengan harapan temannya bisa lekas tersadar. Dan akhirnya keadaan Shena pun mulai membaik.