
Malam harinya...
Suasana di stadion Osaka Jepang amat meriah. D'Justice kini mendapat giliran manggung untuk menutup perjumpaan konser kolaborasi ini. Terdengar teriakan penonton yang mengisi seluruh gedung konser. Nara dan kawan-kawan pun menyapa penonton yang hadir.
"Selamat malam, Osaka!!!"
Sang pemuda bermata biru menyapa para penonton. Tak ayal ribuan penonton pun membalas sapaan Nara dengan histeris. Keempat personil D'Justice itu tampak mengenakan baju kebesarannya, berupa kaus putih berlambang timbangan hitam yang menjadi ikonik band mereka.
Keempatnya juga mengenakan celana levis panjang yang hampir menutupi sepatunya. D'Justice menunjukkan tema konser dengan bergaya kasual dan santai. Hal itu menjadi ciri khas tersendiri bagi mereka.
"Senang sekali bisa berada di sini."
__ADS_1
Nara tersenyum ke arah penonton. Senyuman manis Nara pun tersorot oleh kamera layar lebar, sontak membuat penonton wanita semakin berteriak histeris.
"Baiklah, sebagai lagu pembuka akan kami bawakan. Sebuah lagu dari Little by Little. Lagu ini amat menginspirasi kebersamaan D'Justice. Inilah Kimi Monogatari." Nara menutup kata sapaannya.
Sang pemuda segera mengambil gitar lalu mengecek suaranya sebentar. Sementara Cherry dan yang lainnya segera bersiap. Dan akhirnya, pertunjukan pembuka mereka pun dimulai. Nara mulai menggeser senar gitarnya yang disambut teriakan penonton.
Nara dan kawan-kawan menyanyikan lagu Kimi Monogatari di awal pembukaan konser band mereka. Lagu itu pun dinyanyikan dengan baik oleh Cherry. Cherry memoles atraksi panggung dengan seceria mungkin. Dia mengajak penonton berinteraksi. Sedang ketiga temannya fokus memainkan alat musik sambil menikmati lagu. D'Justice membuka konsernya dengan penuh keceriaan.
Nara dan kawan-kawan membawakan tiga lagu dari band kenamaan Jepang dan dua lagu ciptaannya sendiri. Di akhir pertunjukan, mereka mempersembahkan kolaborasi dengan band papan atas lainnya. Dan akhirnya, konser di Osaka ini berjalan dengan lancar dan meriah. Membuat kenangan tersendiri bagi para penonton yang hadir di Osaka Jo Hall.
Sementara itu...
__ADS_1
Jam di dinding ruangan sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Namun, sang gadis belum juga tersadar dari tidurnya. Ia masih terbaring di atas kasur rumah sakit dengan wajah yang amat pucat.
Selang udara masih menempel di hidungnya. Cairan infus pun masih disalurkan ke pembuluh nadinya. Ia tampak amat lemah dan tak berdaya. Seseorang yang berada di sisinya pun tampak sendu memperhatikan wajahnya.
Dialah Ryuuto yang masih setia mendampingi Shena. Ia bahkan terpaksa membawa pekerjaannya ke rumah sakit agar bisa terus bekerja. Ruangan kelas satu itu sengaja dipakainya agar memudahkan aktivitas, walau hanya berada di dalam ruangan. Beberapa dering telepon pun tidak diangkat olehnya malam ini.
Maafkan aku, Hana. Aku terpaksa tidak mengangkat telepon darimu. Aku tidak ingin kau khawatir jika mengetahui aku sedang menjaga Shena.
Ryuuto masih menutupi jika sedang menjaga Shena dari Hana. Ia menjaga perasaan Hana agar tidak cemburu apalagi berpikiran yang macam-macam tentangnya. Bagaimanapun Ryuuto telah mengetahui perasaan Hana yang sesungguhnya. Dan sudah sepantasnya bagi seorang pria untuk menjaga perasaan itu.
Rasa kantuk pun mulai melanda saat waktu semakin berlalu dan hampir setengah satu dini hari. Ryuuto akhirnya menutup laptopnya lalu merebahkan diri di sofa sudut yang ada di dalam ruangan. Ia mencoba merelaksasikan tubuhnya sebelum mengetuk alam mimpi. Dan akhirnya, sang pemuda tertidur tanpa sengaja. Karena rasa lelah yang menerjangnya.
__ADS_1