Dihantui Mantan

Dihantui Mantan
Ingatan


__ADS_3

Jam makan siang…


Ryuuto dan Shena memutuskan untuk kembali ke kantor. Sepanjang perjalanan, Ryuuto menggenggam erat tangan Shena di dalam mobil, seolah tidak ingin kehilangan gadis itu.


Ryuuto tidak dapat berkata apa-apa setelah Shena mengutarakan apa yang ada di pikirannya. Sungguh ia tidak ingin kehilangan Shena untuk selama-lamanya. Ia seperti tidak menemukan jalan keluar untuk masalah ini. Jujur di dalam hatinya ia menginginkan Shena mendampingi hidupnya.


Bayang-bayang ketakutan pun mulai muncul di benaknya. Terlebih ia melihat sendiri bagaimana sang gadis tergeletak di dapur waktu itu. Ryuuto tidak ingin hal itu sampai terulang lagi. Ia ingin Shena tetap bersamanya, mengarungi kehidupan ini.


Seminggu yang lalu…


Ryuuto mengendarai mobil masuk ke dalam jalan perumahan yang disebutkan oleh Hima. Pagi-pagi ia sudah berangkat dari rumah untuk menemui Shena, sebelum pergi ke kantor. Tak lama ia pun menemukan rumah yang dimaksud oleh Hima waktu itu. Ia segera memarkirkan mobilnya lalu menuju pintu depan. Ia ketuk pintu rumah itu, tapi tidak ada yang menjawabnya.


"Rumah ini persis seperti yang dikatakan oleh Hima waktu itu. Apakah aku salah?"

__ADS_1


Ryuuto yakin jika rumah yang ada di depannya adalah rumah Nara, tempat Shena tinggal. Namun, karena tidak ada yang membukakan pintu, ia kemudian memegang gagang pintunya, berniat membukanya dari luar. Tapi ternyata, pintu rumah tidak terkunci. Ryuuto pun segera masuk lalu menyapa orang di dalam.


“Permisi! Apakah ada orang?” tanyanya sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


Berulang kali ia memanggil, namun tidak ada yang menjawab. Dan entah mengapa hatinya seperti digerakkan untuk terus ke belakang. Ryuuto pun terus berjalan hingga sampai ke dapur. Namun ternyata, ia malah menemukan Shena tengah tergeletak di atas lantai dapur.


“Shena!!!”


“Shena! Sadarlah Shena! Shena!”


Ryuuto berusaha menyadarkan Shena, tapi sang gadis tidak juga terbangun. Diangkatnya tubuh Shena lalu dibawanya masuk ke dalam mobil. Ryuuto segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Ia tidak lagi peduli jika harus ke kantor untuk bekerja. Di pikirannya hanya ingin Shena segera bangun.


Sesampainya di rumah sakit, pihak UGD bergerak cepat untuk memberikan pertolongan pertama. Sedang Ryuuto menunggunya di luar. Ia tampak cemas, begitu mengkhawatirkan keadaan Shena.

__ADS_1


"Ya Tuhan, tolong selamatkan Shena."


Ia tidak henti-hentinya berdoa, berharap Shena bisa diselamatkan. Sampai akhirnya dokter yang menangani Shena datang memberikan kabar padanya.



Shena, tidak peduli apa yang akan terjadi nanti. Aku mohon bertahanlah. Aku yakin kau pasti bisa sembuh. Tolong jangan berkata yang macam-macam. Aku tidak sanggup jika harus kehilanganmu selama-lamanya. Biarlah kau bersama Nara, asalkan aku tetap bisa melihatmu. Shena … sungguh kaulah cinta pertamaku, debaran pertamaku dan gairah hidupku.


Ryuuto membukakan pintu mobilnya untuk Shena setelah tiba di parkiran kantor. Ia memperlakukan Shena bak seorang putri kerajaan. Yang mana membuat Shena tertawa sendiri dengan ulah Ryuuto.


Terima kasih, Ryuuto. Terima kasih.


Siang ini keduanya akan makan siang bersama dengan karyawan kantor. Melepas kerinduan Shena akan tempat kerjanya dulu. Ya, bagaimanapun di sini Shena menemukan keluarga barunya, di kantor redaksi majalah remaja Tokyo.

__ADS_1


__ADS_2